Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Pancasila, Keberhasilan Sejarah

Bali Tribune / Putu Suasta - Alumnus Fisipol UGM dan Universitas Cornell

balitribune.co.id | SAYA ingin memulai tulisan ini dengan satu keyakinan penuh; Pancasila jaya! Ia digodog dengan amat luar biasa sebelum dilahirkan pada 1 Juni 1945. Ia hadir dengan kesahajaan ungkapan yang terumus dengan sederhana dalam lima sila namun merangkum keseluruhan eksistensi sebagai bangsa dan negara yang berdaulat. Bayangkan; beribu pulau, beribu suku, beribu bahasa daerah, beribu karakter dan beribu kepentingan, semua hanya cukup terdeskripsi dalam ungkapan-ungkapan yang gamblang, jelas, jernih, tidak bias.  

Ketika Pancasila dikumandangkan kelahirannya, dengan segera bangsa ini menerima dengan suka cita. Mengapa? Karena tak ada yang bisa diragukan lagi keberadaannya sebagai cerminan watak, falsafah dan kepribadian bangsa. Meski dalam sejarah kelahiran Pancasila ini hanyalah bermula dari  sebuah pidato yang disampaikan Soekarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, namun karakter sebuah bangsa besar telah lama tertanam dalam jiwa Soekarno.

Ketika Soekarno menyampaikan pidatonya tentang konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka, ‘jiwanya’ dengan spontan merumuskan dasar-dasar sila yang menggambarkan watak dan kepribadian bangsa tanpa hambatan yang berarti. Pidato tentang konsep Pancasila yang semula tiada berjudul itu kemudian oleh Ketua  BPUPKI, Dr. Radjiman Wedyodiningrat disebut sebagai “Lahirnya Pancasila”. Mengingat betapa berartinya rumusan Pancasila yang dikemukakan sebagai dasar negara, maka setiap 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila.

Maka tak bisa lagi diganggu-gugat bahwa dasar negara dan pandangan hidup bangsa ini adalah Pancasila. Ini sudah menjadi kesepakatan pendiri negara. Dan semua realitas bangsa ini telah terangkum dalam Pancaila. Ketika Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara, itu berarti Pancasila harus menjadi pedoman dalam bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara; ketika Pancasila dijadikan pandangan hidup, itu berarti Pancaila dipandang memiliki nilai-nilai kehidupan yang paling baik.

Begitu tepatnya gambaran Pancasila sebagai cerminan karakter bangsa, maka acap kali kita diingatkan kembali untuk berpijak dan berpedoman pada Pancasila; bahwa di tengah perkembangan yang semakin kompetitif di dalam berbagai lini kehidupan membuat kita mulai menjauh dari nilai-nilai luhur Pancasila. Sifat-sifat yang egoistis, hidup yang makin pragmatis, kompetisi karier yang semakin sengit, kemajuan ilmu dan teknologi yang melahirkan pola hidup individualitas, adalah sejumlah alasan untuk diingatkan kembali tentang ‘menjadi bangsa yang Pancasilais’.    

Mengapa Pancasila begitu penting dan berarti bagi bangsa ini? Karena semakin ditelisik dari aspek apa pun, Pancasila sanggup memberi gambaran dan penjelasan yang sangat gamblang, logis dan membumi. Pancasila adalah pandangan hidup yang multidimensi. Ia bukan sekadar menawarkan gambaran perilaku politik kekuasaan, tidak sesempit itu. Pancasila ‘menerangi’ segala aspek kehidupan bangsa ini, bahkan juga menjawab keberadaan agama dan melindungi agama-agama yang diakui di Nusantara ini. Pancasila ialah realitas holistik manusia Indonesia.    

Diuji dan Teruji

Ada ungkapan Bali yang berbunyi; gumi linggah ajak liu, ada kene ada keto; yang artinya, begitu banyak orang di dunia ini dengan perangai yang bermacam-macam. Ketika Pancasila telah disepakati oleh pendiri bangsa dan negara ini, namun dalam perjalanannya tidak semua ikhlas menerima Pancasila sebagai dasar negara, falsafah dan pandangan hidup bangsa. Berbagai kepentingan, terutama yang sangat menonjol ialah di wilayah politik kekuasaan, mencoba menumbangkan kekokohan Pancasila sebagai dasar negara.

Kita mempunyai catatan masa lalu mengenai hal ini. Beberapa pemberontakan yang pernah terjadi seperti Peristiwa Madiun, Peristiwa G-30-S/PKI, misalnya, meski tidak secara verbal pemberontakan mereka memaklumatkan penumbangan Pancasila, namun dasar gerakan mereka jelas-jelas ingin mengubah jalannya bentuk dan cita-cita bangsa. Peristiwa Madiun terjadi dengan dasar keinginan revolusi menuju “Republik Soviet Indonesia” di mana setelahnya mereka mengumumkan pembentukan pemerintahan baru.

Dua peristiwa pemberontakan itu pada dasarnya bertujuan menggoyahkan Pancasila dengan menyerang wilayah kekuasaan. Pemberontakan memang harus dimulai dari politik menumbangkan kekuasaan. Dari sinilah kemudian segalanya bisa diubah, termasuk segala aspek yang paling fundamental, tak terkecuali juga Pancasila. Di masa-masa multipartai, baik di masa lalu maupun pasca-Orba, kecenderungan mengedepankan kepentingan partai sangat mencolok dan dan tidak segan-segan secara verbal menyuarakan kepentingan mereka.

Namun sejarah juga menjadi bukti bahwa pergerakan para pemberontak yang hendak mengubah haluan negara dan bangsa ini gagal total. Peristiwa Madiun, G-30-S/PKI dan sejumlah pergerakan yang lain dengan mudah dirontokkan. Kehendak menumbangkan kekuasaan—dengan begitu juga menumbangkan Pancasila—menjadi sejarah pahit bagi bangsa ini dan dengan begitu pula makin yakin mereka bahwa Pancasila yang menjadi idiologi bangsa yang telah teruji eksistensinya sebagai dasar negara dan pegangan hidup bangsa.

Keberhasilan sejarah menjaga Pancasila bukanlah suatu titik henti yang membuat bangsa ini dengan suka cita meyakini Pancasila adalah jiwa dan kepribadian mereka. Kehidupan ialah pergolakan, kadang juga begitu dinamik memperlihatkan perubahan-perubahan. Terutama yang menonjol ialah dalam satu dekade terakhir ini. Perongrongan terhadap ideologi Pancasila  memperlihatkan niatnya melalui diskursus-diskursus intelektual, benturan dialog sakral-profan, isu SARA, penghembusan kebangkitan partai terlarang dan sebagainya.

Perongrongan secara laten terhadap Pancasila atau bahkan dengan ‘menumpang’ intelektualisme, konflik keyakinan religiositas, hoaks yang begitu meyakinkan, misalnya, jauh lebih ‘mengancam’ mengingat begitu sublimatiknya keberadaan mereka. Dan yang paling kontemporer dihadapi Pancasila saat ini ialah gerakan radikalisme yang menyasar bukan saja pemerintah, melainkan juga ideologi negara dan masyarakat luas. Konflik-konlik sosial, demo-demo ketidakpuasan terhadap kebijakan dan kemiskinan sering kali menjadi peluang besar untuk memulai melancarkan niat politis mereka.

Radikalisme

Salah satu tabiat radikalisme ialah watak militansi mereka, terutama dalam mengejar tujuan utama mereka. Sering kali pula mereka bermain sangat sublim, memanfaatkan segala peluang dan kelengahan untuk kemudian mulai lagi ‘menggempur’ yang mereka anggap lawan. Yang terjadi saat ini sedikit banyaknya adalah refleksi ‘gonjang-ganjing’ berbagai kepentingan yang tengah berseteru sengit untuk mendapatkan kemenangan. Nampak bahwa upaya perongrongan terhadap Pancasila saat ini masih kelihatan melalui ‘pintu di ranah politik kekuasaan’.

Inilah sebuah realitas tantangan berikutnya bagi Pancasila, yakni bahwa Pancasila kembali ‘diuji’ eksistensinya. Dengan semakin canggihnya teknologi informasi membuat kita semakin nyata mengikuti  ‘perongrongan’ itu melalui berbagai bentuk media sosial dan media cetak. Pergumulan wacana dalam perseteruan bahkan cernderung mulai menyimpang dari  tata adab wacana yang baik. Kita tetap berkeyakinan bahwa Pancasila ‘adalah harga mati’, namun andai kita lengah ...   

Fenomena radikalisme bukan lagi berada pada tataran diskursus ruang-ruang seminar, kuliah atau percakapan talk show televisi, namun sudah mengarah pada momok ancaman bagi negara dan masyarakat. Pemerintah periode kedua Joko Widodo (Jokowi) menegaskan akan meningkatkan keseriusan menangani radikalisme di Indonesia. Jokowi tidak hanya menyoal penindakan, tapi juga berusaha mengubah persepsi masyarakat terhadap istilah radikalisme (indonesia.go.id, 15 November 2019).

Dalam rangka menuju deradikalisasi, menurut Mahfud MD (Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan), penanganan radikalisme akan dilakukan lintas kementerian. Hal yang paling ditekankan adalah kelompok radikal bukan mengacu pada golongan tertentu. Ia pun meminta agar pemikiran bahwa orang yang radikal merupakan dari kelompok agama tertentu diubah. “Radikalisme itu satu paham yang ingin mengganti dasar dan ideologi negara dengan cara melawan aturan, kemudian merusak cara berpikir generasi baru,” kata Mahfud MD (ibid).

Pandangan yang sama terhadap radikalisme juga diberikan oleh Surya Paloh. Menurutnya, Pancasila, mahakarya putra Indonesia tersebut harus terus dijaga. “Tidak mungkin ideologi Pancasila ini bisa terjaga dengan baik kalau ada pembiaran terhadap paham-paham radikalisme yang mengancam ideologi kebangsaan yang kita miliki,” ujar Surya Paloh (jitunews.com, “Rongrongan terhadap Pancasila tak Bisa dibiarkan, 22 November 2016).

Menjaga Pancasila

Meski kita tak meragukan saktinya Pancasila; telah teruji dalam sejarah tak tertaklukkan oleh berbagai pemberontakan dan pembangkangan, namun bukan berarti bangsa ini leluasa melenggang ke masa depan. Bangsa ini selalu berpeluang terancam oleh berbagai kepentingan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Sebagaimana telah dikupas tadi, ancaman-ancaman kontemporer saat ini jauh lebih berbahaya dari sekadar pemberontakan face to face karena perlawanan mereka begitu samar dan sublim, begitu beragam dan ‘tak berbau’, kadang juga memakai kendaraan keyakinan.

Maka, di balik keyakinan kita pada Pancasila, ideologi negara ini harus dijaga dengan membangun kesadaran tentang saling menjaga dan melindungi; membangun kepercayaan dengan tindakan, bukan dengan retorika kosong. Terutama yang paling penting ialah tegaknya keadilan dan hukum yang berdiri di atas semua golongan. Ketegasan dan tindakan konkret yang konsisten adalah hal lain yang menguatkan saling percaya antara pemangku kebijakan dan khalayak luas. Negara harus hadir ketika rakyat berada dalam suatu situasi yang sangat krusial.

Itulah cara-cara yang paling pokok yang nyata dalam menjaga Pancasila sebelum akhirnya bertumbuh sikap matang dalam berkehidupan berbangsa dan berbegara. Inilah yang menjadi jaminan paling ampuh dalam menjaga Pancasila. Sikap matang sebagai bangsa inilah suatu pribadi yang dicita-citakan oleh kita semua untuk membawa Pancasila selalu berjaya dalam berbagai ‘gangguan’ kepentingan; selalu berjaya juga ke depan dalam persaingan dunia global.

PANCASILA selalu berpeluang untuk terancam. Namun saya tetap percaya pada sejarah yang berulang; Pancasila selalu bisa keluar dari keadaan-keadaan genting! Pancasila berjaya dan terjaga selamanya ketika terbangunnya kesadaran bangsa ini meneruskan nilai-nilai yang terumus dalam sila-sila Pancasila!

wartawan
Putu Suasta
Category

Disekap 30 Jam, WN Rusia di Bali Dipaksa Serahkan Akses Aset Kripto

balitribune.co.id | Denpasar - Polda Bali saat ini tengah mendalami laporan dugaan tindak pidana penculikan, penyekapan, dan penganiayaan terhadap seorang warga negara (WN) Rusia berinisial AI (41). Korban dilaporkan disekap selama 30 jam dan dipaksa menyerahkan akses akun aset kripto miliknya.

Baca Selengkapnya icon click

Big Bike New Rebel 1100, Simbol Kebebasan Ekspresi Generasi Modern

balitribune.co.id | Jakarta – PT Astra Honda Motor (AHM) menghadirkan penyegaran pada big bike New Rebel 1100 melalui pilihan warna terbaru Matte Beta Silver Metallic. Perpaduan warna silver dengan sentuhan metalik, menghadirkan kesan premium yang semakin memperkuat karakter New Rebel 1100 sebagai urban cruiser bagi pengendara yang ingin mengekspresikan gaya hidupnya. 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Astra Motor Bali Dukung Touring Stylo Dewata, Perkuat Solidaritas Komunitas Honda

balitribune.co.id | Denpasar – Astra Motor Bali sebagai Main Dealer sepeda motor Honda di Bali dan bagian dari PT Astra International Tbk terus mendukung berbagai aktivitas positif komunitas Honda sebagai wadah membangun kebersamaan, mempererat hubungan antaranggota, sekaligus mengampanyekan budaya keselamatan berkendara melalui semangat #Cari_Aman.

Baca Selengkapnya icon click

OJK Seret Pemegang Saham Pengendali Asuransi Jiwa Prolife ke Meja Hijau, Aset Rp114 Miliar Disita

balitribune.co.id | Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi melakukan penyidikan tindak pidana di sektor perasuransian yang melibatkan PT Asuransi Jiwa Prolife Indonesia (dahulu PT Asuransi Jiwa Indosurya Sukses). OJK telah menetapkan HS, selaku Pemegang Saham Pengendali perusahaan, sebagai tersangka.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Duta Jembrana Tampil di PKB XLVIII, Membawa Spirit Tradisi dari Ujung Barat Pulau Dewata

balitribune.co.id | Negara - Pesta Kesenian Bali menjadi panggung terbesar bagi pelestarian seni, budaya, dan tradisi Bali. Di antara ribuan seniman yang tampil selama hampir sebulan penyelenggaraan, Kabupaten Jembrana kembali menunjukkan eksistensinya dengan mengirimkan sederet duta kesenian terbaik yang mewakili kekayaan budaya masyarakat di ujung barat Pulau Dewata.

Baca Selengkapnya icon click

Dekatkan Akses Digital Masyarakat, Telkomsel Hadirkan Tiga Site Baru di Wilayah Kabupaten Kupang

balitribune.co.id | Kupang - Konektivitas digital kini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari berkomunikasi dengan keluarga, mendukung aktivitas belajar dan bekerja, menjalankan usaha, hingga mengakses layanan pemerintahan, masyarakat semakin membutuhkan jaringan telekomunikasi yang andal dan berkualitas.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.