Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Pro-Kontra Import Beras

Bali Tribune / Wayan Windia - Guru Besar pada Fak. Pertanian Univ. Udayana dan Ketua Stispol Wira Bhakti, Denpasar.

balitribune.co.id | Pro-kontra import beras sudah sejak lama terjadi. Dua puluh tahun yang lalu, saya menyaksikan debat sengit di Gedung DPR, tentang pro-kontra import beras. Kementan mengatakan bahwa stok beras cukup dan surplus. Tetapi Bulog dengan sengit mengatakan : “Lho, cukup dan surplus-nya di mana? Apa di atas kertas?” tanyanya. Import beras akhirnya terjadi juga. Sejarah akhirnya mencatat bahwa, Kabulog tersebut masuk bui.

Mungkin betul kata pengamat, bahwa import berarti duit bagi peng-import. Bahwa import disebut sebagai bagian dari kebijakan pemburu rente. Karena penduduk Indonesia sangat besar, maka kalau harus import beras, maka jumlahnya pasti harus banyak. Bahkan bisa mempengaruhi harga beras di pasar dunia.

Untunglah Kabulog saat ini, tidak serta-merta melakukan import beras, meski sudah mendapat perintah. Ia mengatakan bahwa beras import yang lama saja belum tersalurkan. Jangan-jangan bisa rusak di gudang. Saya sendiri pernah membeli beras di depan Gedung Dolog Bali. Ternyata memang ada jenis beras yang agak rusak. Warna berasnya berubah, dan ada bau apek. Mungkin beras itu, adalah beras yang cukup lama di gudang, lalu diproses apa adanya.

Saya menyaksikan di medsos, betapa sengit tantangan kebijakan import beras kali ini. Sampai akhirnya, Mendag merubah kebijakan, untuk tidak import beras tersebut. Memang demikianlah sebaiknya. Menteri perdagangan harus lebih banyak aktif dalam berdagang. Jangan aktif membeli dagangan orang. Pembatalan kebijakan import beras, mungkin dipicu karena tantangan yang keras dari Komisi IV.

Saya menduga, bahwa Bulog enaknya memang melakukan import. Di samping bisa mendapatkan rente, tetapi juga pekerjaannya lebih gampang. Sebab kalau harus membeli beras dari petani, maka tentu saja pekerjaan staf di Bulog lebih berat. Istilahnya : bahwa yang paling enak adalah kalau kita panen di pelabuhan.

Tetapi di mana keberpihakan kita kepada petani? Suatu komunitas yang paling miskin di Indonesia. Bahkan komunitas petani, sudah terjebak ke dalam kemiskinan struktural. Kenapa? Karena pilihan kebijakan negara saat ini di sektor pertanian, adalah memihak konsumen. Bukan memihak petani produsen, seperti pada saat Era Pak Harto. Buktinya? Seperti sekarang inilah. Dikit-dikit import. Beras harus import. Garam harus import. Sebuah ironi dari sebuah negara agraris, dengan pantai yang sangat panjang.

Saya kira, kaum tani, sektor pertanian, dan subak di Bali saat ini, dalam posisi yang sangat lemah. Meskipun sejatinya sektor ini sudah membuktikan dirinya berkali-kali sebagai penyelamat sektor perekonomian. Kalau saja sekarang ini, sektor pertanian digenjot, maka bukan tidak mungkin sektor ini akan bisa menjadi andalan untuk dapat menguasai pasar kawasan regional.

Namun saya agak terenyuh, ketika Ketua Komisi II DPRD Bali, IGK Krena Budi menyampaikan statemen tentang anggaran untuk sektor pertanian di Bali. Ia mengatakan bahwa anggarannya hanya Rp. 5 milyar. Mosok hanya lima milyar. Apa wartawannya yang salah kutip? Tetapi apapun, Kresna Budi menyatakan bahwa nilainya sangat kecil, dan ia sangat sedih. Oleh karenanya, jangan salahkan kalau di Bali, areal sawahnya berkurang rata-rata 2800 ha/tahun. Dan petaninya miskin-miskin. Padahal “teori”-nya, kalau sektor pariwisata meningkatkan 100%, maka sektor pertanian akan meningkat 60%. Tetapi di Bali teori itu sudah terbolak-balik.

Memang demikianlah adanya dalam teori. Tidak banyak para pemimpin yang suka membangun sektor pertanian. Sukanya membangun yang bersifat fisik. Sehingga dengan cepat dapat dilihat hasilnya, agar bisa sebagai pencitraan dalam pemilihan yang akan datang.

Tetapi sudah dinyatakan dalam berbagai seminar, tentang betapa pentingnya membangun sektor pertanian. Bahwa membangun pertanian, berarti membangun keberlanjutan, dan dapat mengurangi kemiskinan serta ketimpangan. Pendapat yang analogis, disampaikan juga oleh Menristek, Prof. Bambang Brojonegoro di Jaya Sabha. Dalam seminar semuanya manggut-manggut. Tetapi setelah itu, hakekat maha pentingnya pertanian, menguap dalam deru dan debu kepentingan politik.  

Oleh karenanya, saya sangat senang menyimak kritik pedas, tentang rencana kebijakan pemerintah untuk import beras dan garam dalam medsos. Kritik itu diucapkan oleh berbagai kalangan dari berbagai sektor. Saya meng-arti-kan bahwa sudah semakin banyak kesadaran publik tentang perlunya keberpihakan kepada sektor pertanian. Mungkin kesadaran ini muncul dari pengalaman diterpa serangan korona.

Memang harus demikianlah kesadaran publik bisa dimunculkan. Banyak manusia yang harus dibuat sakit dahulu, agar bisa memunculkan kesadaran baru. Mungkin harus dibuat kelaparan dahulu, agar manusia bisa merasakan pentingnya bahan makanan. Bahan makanan, pastinya ada di lahan sawah dan ladang. Ya, kita tunggu saja, entah kapan ada kesadaran nyata untuk membangun pertanian di Bali. Mungkin diperlukan serangan korona yang lebih lama.

 

wartawan
Wayan Windia

Wanita asal Kendari Diduga Dianiaya dan Diperkosa

balitribune.co.id I Denpasar - Seorang wanita asal Kendari, Sulawesi Tenggara berinisial DAK (32) diduga menjadi korban penganiayaan brutal sekaligus kekerasan seksual di Denpasar, Bali. Peristiwa memilukan ini terjadi di sebuah penginapan di Jalan Tukad Badung XVIII B, Senin (15/6/2026) pukul 04.30 Wita. 

Baca Selengkapnya icon click

Berkat Bantuan Polres Jembrana, Ratusan Warga Bisa Menikmati Air Sumur Bor

balitribune.co.id I Negara - Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, mendapatkan air bersih mungkin menjadi hal yang biasa. Namun bagi ratusan warga Lingkungan Pancardawa, Kelurahan Pendem, Jembrana, selama bertahun-tahun, harus berjuang mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Tidak Mudah, Tapi Harus Bisa, Spirit Bupati Gus Par-Wabup Guru Pandu  Sambut Galungan dan Kuningan

balitribune.co.id | Amlapura - Menyambut hari suci Galungan dan Kuningan yang jatuh pada Juni 2026, jajaran Pemerintah Kabupaten Karangasem menggaungkan spirit optimisme yang mendalam. Momentum kemenangan Dharma atas Adharma kali ini terasa kian istimewa sekaligus bersejara bagi masyarakat Bumi Lahar.

Baca Selengkapnya icon click

Tetap Tenang dan Cari_Aman Hadapi Turunan Parkiran Licin Saat Hujan dengan Skuter Matik

balitribune.co.id | Denpasar – Musim hujan menuntut kewaspadaan ekstra bagi para pengendara sepeda motor, khususnya pengguna skuter matik (skutik). Salah satu titik rawan yang sering luput dari perhatian adalah area turunan gedung parkir. Permukaan lantai parkiran yang cenderung halus akan menjadi sangat licin saat terkena air hujan yang terbawa oleh ban kendaraan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Wayan Sadar Berkat Tutur Sastra, Duta Badung Getarkan Wimbakara Taman Penasar PKB XLVIII 2026

balitribune.co.id | Denpasar - Tokoh Wayan berulangkali mengocok perut ratusan penonton yang memenuhi Kalangan Ratna Kanda, Art Centre, Denpasar serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 bertepatan dengan Umanis Galungan, Kamis (18/6/2026). 

Baca Selengkapnya icon click

Telkomsel Hadirkan Dukungan Konektivitas dan Beragam Promo Menarik di Pesta Kesenian Bali 2026

balitribune.co.id | Denpasar - Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung kelancaran komunikasi dan pengalaman digital masyarakat selama berlangsungnya Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2026, Telkomsel menghadirkan dukungan infrastruktur jaringan dan layanan pelanggan di kawasan Taman Werdhi Budaya Art Center yang menjadi pusat penyelenggaraan kegiatan mulai Sabtu (13/6) hingga Sabtu (11/7).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.