Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Proses Klinisasi di Hulu Jembrana

Bali Tribune / Wayan Windia - Guru Besar pada Fakultas Pertanian Unud, dan Ketua Stispol Wira Bhakti.

balitribune.co.id | Menjelang akhir September, Kabupaten Jembrana diterjang banjir. Bendung Banyubiru I mampet berat. Karena tidak bisa menampung aliran benda fisik (potongan kayu, dll) yang datang dari hulu. Hal ini berarti bahwa ada proses klinisasi (“pembersihan” besar-besaran) di hulu Jembrana.

Proses klinisasi disebabkan karena penduduk di kawasan tepi hutan, diterjang kemiskinan. Pendidikannya rata-rata rendah. Penduduk yang agak berpendidikan, meninggalkan kawasannya, menuju kota. Di kota, mereka menerjang sektor informal. Mereka bisa sebagai pedagang nasi jinggo, tukang ojek, tukang parkir, calo, dll.

Tentu saja di kawasan pedesaan menjadi “kosong”. Adapun yang tertinggal di pedesaan adalah fenomena kemiskinan, penduduk yang sudah lanjut usia, dan penduduk yang pendidikannya rendah. Meskipun demikian, mereka perlu makan. Tidak ada yang bisa segera di makan, atau segera bisa menghasilkan uang. Nah, inilah fenomena yang menimbul proses klinisasi. Hutan dan kayu yang masih tersisa, ditebang. Batu padas yang masih tersisa, dibongkar. Batu-kali, krikil, dan pasir yang masih tersisa,  dikeruk. Semuanya diterjang, demi makan.

Menurut Prof. Mubyarto, kerak kemiskinan ada pada penduduk yang tinggal di tepi hutan, dan di tepi pantai. Mereka tidak bisa dikendalikan dengan program pembangunan yang konvensional. Seharusnya ada program khusus dan berlanjut. Tetapi administrasi pembangunan, tampaknya tidak memungkinkan. Oleh karenanya, penduduk yang menjadi kerak kemiskinan itu, bisa berkembang, dan kemudian jatuh dalam alam kemiskinan struktural.

Jokowi telah mengembangkan konsep perhutanan sosial. Tujuannya bagus. Yakni, agar penduduk yang hidup di tepi hutan, bisa sejahtera, karena mendapatkan hasil hutan. Konsep ini sangat adil. Bahwa penduduk yang ada di pantai, memanfaatkan hasil laut sebagai sumber hidupnya. Maka penduduk yang ada di tepi hutan, haruslah memanfaatkan hasil hutan sebagai sumber hidupnya. Mereka tidak boleh menerjang dan memangsa hutan. Tetapi boleh menerjang dan memungut hasil hutan.  

Tetapi konsep perhutanan sosial, tidak berjalan dengan mulus. Karena konsep-nya tidak mau dipahami oleh penduduk setempat. Mengapa? Karena mereka sedang diterjang kemiskinan. Mereka tidak mau tahu. Mereka terus melakukan proses klinisasi. Hutan yang harus dihijaukan (dengan tanaman tahunan), ternyata hanya ditanami tanaman setahun. Karena mereka butuh makan. Ini adalah sebuah dilema sosial yang mengerikan. Mungkin di masa depan bisa menghancurkan Jembrana, bila tidak ada kebijakan pembangunan yang strategis (ber-prospek jangka panjang).

Banyak ada pendapat bahwa, tingkat pendidikan bisa mengangkat derajat manusia secara vertikal. Tidak mungkin ada peningkatan kehidupan tanpa ditopang oleh pendidikan yang baik. Oleh karenanya, konsep Bupati Jembrana tentang pendidikan, tentu saja sangat tepat. Bahwa diharapkan dalam masa kepemimpinannya, pada setiap keluarga di Kabupaten Jembrana harus ada yang tamatan S1. Ini adalah konsep yang strategis. Kalau bisa lebih fleksibel, maka paling tidak pada setiap satu keluarga di Kabupaten Jembrana ada satu orang yang berpendidikan vokasi atau S1. Sebab pendidikan vokasi juga sangat penting untuk merangsang tumbuhnya iklim usaha dan kesempatan kerja.

Dengan pendidikan yang semakin tinggi, maka akan semakin mudah untuk membangun kesadaran baru. Khususnya kesadaran untuk memelihara lingkungan sawah (subak), tegalan (subakabian) dan hutan. Banjir dan longsor yang kini sudah secara rutin menerjang kawasan Jembrana, mengindikasikan bagaimana sudah parahnya kawasan hulu di Jembrana. Dahulu tidak pernah ada cerita tentang banjir (bandang) di Jembrana.

Kalau kita berdiri di Kantor Bupati Jembrana, terlihat dengan terang di bagian utara (hulu), rentetan perbukitan (hutan) yang hijau. Kemudian semakin ke hilir akan ada tegalan (perkebunan), dan kemudian akan muncul kehijauan persawahan. Saat ini, sawah dan subak di sana, sudah sangat kesulitan air irigasi. Hal ini juga menandakan bahwa, kawasan hutan di hulu sudah ambruk.

Hutan dan air sangat erat kaitan filosiofis, sosiologis, dan empirisnya. Jangan harap ada air, kalau tidak ada hutan. Itulah sebabnya di kawsan tengah Pulau Bali harus basah. Mulai dari Jembrana hingga ke Karangasem. Tujuannya, untuk menjamin empat danau yang ada di hulu Pulau Bali, bisa terus berisi air.  Bila danau-danau itu terus surut airnya, maka Bali berada dalam zone merah.

Mungkin saja Perda tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) harus segera diterapkan dengan segera di Bali. Hal itu sangat tergantung dari komitmen kepala daerah. Kalau tidak ada komitmen, janganlah berharap tentang hal-hal yang muluk tentang lingkungan dan sawah (subak) di Bali.

Mungkin Kabupaten Jembrana perlu segera melindungi sawah, tegalan, dan hutan di kawasannya. Tujuannya agar tantangan Menteri Erick Tohir bahwa Jembrana bisa berkembang menjadi lumbung pangan, bisa terwujud. Pemkab Jembrana perlu segera membuat berbagai proposal kegiatan kepada Menteri Tohir. Tentu saja agar ide dan harapannya, ketika berkunjung di Jembrana bisa segera terwujud.  

wartawan
Wayan Windia
Category

Bupati Badung Nodya Karya Maligia Punggel di Griya Agung Banjar Aseman

balitribune.co.id I Mangupura - Komitmen Pemerintah Kabupaten Badung dalam meringankan beban masyarakat kembali ditunjukkan melalui dukungan nyata terhadap pelaksanaan Karya Maligia Punggel yang dirangkaikan dengan nyekah massal di Griya Agung Banjar Aseman, Desa Abiansemal, Rabu (15/4/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Anggaran Lampu Penerangan Jalan, Badung Rogoh Rp 20 Miliar Per Tahun

balitribune.co.id I Mangupura - Beban biaya rekening listrik yang ditanggung Pemerintah Kabupaten Badung tiap tahunnya ternyata tak main-main. Khusus untuk Lampu Penerangan Jalan (LPJ) saja Pemerintah Gumi Keris harus merogoh kocek antara Rp19 hingga Rp20 miliar per tahunnya.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Gedong Simpen Tapakan Pura Dalem Buahan Nyaris Dibobol Maling

balitribune.co.id I Tabanan - Pintu Gedong Simpen Tapakan di Pura Dalem Buahan, Banjar Buahan Selatan, Desa Buahan, Tabanan, ditemukan dalam kondisi rusak dicongkel oleh orang tak dikenal pada Rabu (15/4/2026) dini hari. Meski tidak ada barang berharga yang hilang, aksi percobaan pencurian tersebut sempat dipergoki warga sebelum pelakunya melarikan diri menggunakan sepeda motor.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Pansus III DPRD Karangasem Melakukan Sidak ke Sejumlah Usaha Wisata dan Toko Modern Berjejaring di Desa Bunutan

balitribune.co.id I Amlapura - Pansus III DPRD Karangasem melaksanakan kegiatan Sidak (Inspeksi Mendadak) ke Objek Wisata Amed dan Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, pada Selasa (14/4/2026). Sidak yang dipimpin Ketua Pansus I Wayan Sumatra, bersama seluruh anggota Pansus ini bergerak melakukan pengecekkan dan pendataan objek usaha di wilayah tersebut baik yang sudah menagntongi izin maupun yang belum.

Baca Selengkapnya icon click

Menghilang 11 Hari, Mayat I Wayan Saja Ditemukan Membusuk di Jurang

balitribune.co.id I Gianyar - Keberadaan I Wayan Saja (56) warga Bentuyung, Ubud, Gianyar, akhirnya ditemukan pada hari kesebelas pasca dilaporkan hilang. Namun sayang, saat ditemukan di jurang sungai beji, korban sudah menjadi mayat dalam kondisi membusuk, Selasa (14/4/2026) petang.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.