Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Refleksi Kasus KLB Partai Demokrat

Bali Tribune / Wayan Windia - Guru Besar pada Fak. Pertanian Unud, dan Ketua Stispol Wira Bhakti Denpasar.

balitribune.co.id - Setahun yang lalu, Agus Harimurti Yudoyono (AHY) terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum  Partai Demokrat (PD). Saat itu sudah banyak pengamat yang curiga dan bertanya-tanya. Mosok PD yang demikian besar, kader seniornya banyak, dan demikian heterogen, bisa memunculkan Ketum AHY secara aklamasi. Kenapa ? Karena AHY masih dianggap sangat muda dalam segala hal. Bahkan, ia baru saja kalah telak dalam perebutan kursi Gubernur Jakarta. Pangkatnya di TNI hanya Letnan Kolonel. Istilahnya, ia masih dianggap sebagai anak “bau kencur”.

Kalau saja AHY memenangkan pertarungan di Jakarta, maka ia pasti pantas menjadi Ketum PD, dan kemudian menjadi capres. Atau pangkatnya sudah pada level jenderal. Makanya, setelah kongres PD yang memenangkan AHY, tampaknya ada “api dalam sekam” yang membara dalam tubuh PD. Mungkin kepemimpinan AHY di PD selama ini, dianggap belum mampu mengakomodasikan berbagai faksi di PD. Maka kemudian, “bara api”  itu semakin lama semakin panas dan membesar. Muaranya adalah di Deli Sedang (Sumut), dalam bentuk KLB Partai Demokrat. Jenderal TNI (Pur) Muldoko, muncul sebagai pesaing Letkol (Pur) Agus Harimurti Yudoyono.

Memang demikianlah nasib partai-partai atau kelompok yang bersifat dinastis. Saya kira, SBY sangat enggan mempercayakan kepemimpinan PD kepada orang lain, selain putranya sendiri. Karena SBY merasa sebagai pendiri PD, dan juga berhasil membesarkan PD. Tetapi orang-orang di sekitar SBY, yang membantu SBY dalam membesarkan PD, juga merasakan hal yang sama. Bahwa mereka juga merasa memiliki andil yang sangat besar untuk mendirikan dan membesarkan PD. Mereka yakin, SBY tidak mungkin bekerja sendiri. SBY pun banyak memiliki musuh-musuh politik.

KLB Partai Demokrat di Sumut mengindikasikan bahwa orang-orang yang setia kepada SBY, tidak  otomatis bisa setia kepada AHY. Seperti dikatakan Bung Jhoni Allen Marbun, bahwa AHY dianggap tiba-tiba saja sudah berada di puncak gunung. Dan tidak tahu jalan turun. Artinya, kemunculan AHY membuat banyak kader yang potensial di PD menjadi “iri politik”. Kemudian menyimpan “dendam politik”.  

Hanya setahun, dendam itu telah muncul menjadi “huru-hara politik”. Pastilah saat ini AHY dan SBY, beserta kelompoknya sedang pusing tujuh keliling. Barangkali, memang beginilah bentuknya sebuah mekanisme politik praktis. Politik yang akan mencari kekuasaan. Mencari tahta, harta, dan mungkin juga wanita.

Saya memperkirakan bahwa semua parpol atau kelompok lainnya, yang bersifat dinastis dan tidak demokratis, akan mengalami nasib yang sama dengan nasib PD saat ini. Sifat demokratis itu harus betul-betul tercermin dalam pelaksanaan kongres. Muncul keterangan dari kelompok yang anti AHY,  bahwa ketika Kongres PD yang memunculkan AHY, ada beberapa prilaku politik yang tidak demokratis. Ada rekayasa politik. Sekecil apapun rekayasa itu, pasti tetap diingat dan membara dalam dada orang-orang politik praktis. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Bom politik itu pasti akan meledak. Tinggal menunggu pemicunya saja.

Bercermin dari asumsi dan analisis di atas, maka mungkin saja hal yang sama bisa terjadi di PDIP. Yakni tatkala Megawati akan turun tahta dari singgasana PDIP. Kalau saja proses kongresnya tidak terbuka, dan tidak demokratis, maka perpecahan di PDIP akan terjadi. Meskipun Puan sudah dikaderisasi dengan cermat, tetapi tampaknya Puan belum bisa diterima dengan kuat sebagai tampuk pimpinan di PDIP.

Selama kepemimpinan Puan di eksekutif dan juga di legislatif, masyarakat belum melihat intelektualitas kepemimpinannya. Ia tidak banyak memberikan statemen politik yang cerdas, yang bisa dikategorikan oleh masyarakat, sebagai kenegarawanan. Lolosnya, berbagai perundang-undangan yang kontroversial, sepertinya halnya revisi UU KPK, dan UU Cipta Kerja, adalah sebuah label negatif bagi Puan dan kelompoknya. Tetapi kita tidak tahu bagaimana opini di internal PDIP.

Bagaimana dengan Partai Nasdem dan Gerindra? Saya kira sami mawon dengan kondisi di PDIP. Partai-partai ini kuat sekali sistem dinastinya. Tampaknya akan ada gejolak setelah berakhirnya kepemimpinan Surya Paloh di Nasdem dan setelah kepemimpinan Prabowo di Gerindra. Tanda-tanda di Gerindra sudah terlihat, seperti tampak pada aksi politik Fadli Zon belakangan ini. Untuk Partai Nasdem, tampaknya Surya Paloh sudah mengkaderisasi putranya. Sedangkan di Partai Gerindra, sudah juga di kaderisasi keponakan dari Bung Prabowo.

Karena alam politik yang ditempuh saat ini adalah alam kebebasan dan alam demokrasi, maka mau tidak mau, maka proses alih kepemimpinan di semua partai, harus terbuka. Harus diberikan kesempatan pada semua kader untuk maju sebagai pemimpin.Tetapi membuka kesempatan kepada semua kader adalah suatu hal yang tidak mudah. Karena investasi yang terlanjur dihabiskan untuk membangun parpol (Nasdem dan Gerindara) pastilah sangat besar sekali.

Tampaknya dari semua partai besar yang kini hidup dan berkembang di Indonesia, maka  hanya Partai Golkar yang sudah kehilangan bau dinastinya. Kemampuan Erlangga Hartarto untuk merebut kepemimpinan di Golkar, justru karena sikap politiknya yang rendah hati. Ia masih menghormati pesaingnya yakni Bambang Susetyo untuk menjadi Ketua MPR. Demikian juga penempatan pesaingnya dalam kepemimpinan di DPR.

Saya meyakini, kalau saja dahulu Erlangga Hartarto bersikap ganas, dan membuang jauh-jauh Bambang Susetyo dari kepemimpinan lembaga legislatif, maka Golkar pasti sudah berantakan lagi. Munculnya Gerindra, Nasdem, Berkarya, dll adalah karena pucuk pimpinan di Golkar saat itu yang kurang rendah hati. Dan kalau saja SBY pada saat Kongres yang memilih AHY lebih bersabar, dan rendah hati, maka PD tidak akan mengalami nasib seperti sekarang ini.           

wartawan
Wayan Windia
Category

Kabel Udara di Sanur Segera Dipindahkan, Sekda Denpasar Pastikan Kesiapan Teknis SJUT-IPT

balitribune.co.id | Denpasar - Pemerintah Kota Denpasar terus memperkuat komitmennya dalam menjadikan kawasan Sanur sebagai destinasi wisata unggulan yang modern dan berestetika. Langkah strategis terbaru yang dilakukan adalah mematangkan program Sarana Jaringan Utilitas Terpadu dan Infrastruktur Pasif Telekomunikasi (SJUT-IPT) untuk memindahkan kabel telekomunikasi dari udara ke bawah tanah.

Baca Selengkapnya icon click

Astra Motor Resmikan Safety Riding Center Jateng, Perkuat Budaya Berkendara Aman

balitribune.co.id | Semarang – Astra Motor selaku Main Dealer sepeda motor Honda dan bagian PT Astra International Tbk secara resmi membuka Astra Motor Safety Riding Center Jawa Tengah di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB), Semarang pada Rabu (15/7/2026). Kehadiran fasilitas ini menjadi wujud komitmen Astra Motor dalam memperkuat perannya mewujudkan budaya keselamatan berkendara di Indonesia, termasuk Jawa Tengah.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Perkuat Budaya Aman di Jalan, 53 Duta Keselamatan Berkendara Ikuti Safety Riding Camp 2026

balitribune.co.id | Jakarta - Guru, siswa hingga mahasiswa dari berbagai wilayah di Tanah Air mengikuti Safety Riding Camp 2026 yang diselenggarakan Yayasan Astra Honda Motor (Yayasan AHM). Mereka menguji pengetahuan dan keterampilan berkendaranya sekaligus berkompetisi membuktikan siapa yang terbaik dalam mengampanyekan keselamatan berkendara.

Baca Selengkapnya icon click

Capaian CKG Baru 23,11 Persen, Dinkes Tabanan Luncurkan Inovasi SAPA CKG Ngayah Ring Desa

balitribune.co.id | Tabanan - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tabanan mencatat realisasi kumulatif Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di wilayah tersebut baru mencapai 23,11 persen hingga 12 Juli 2026. Angka tersebut setara dengan 110.353 orang dari total sasaran masyarakat setempat.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Bupati Gus Par Teken Nota Kesepakatan Perkuat Pembimbingan Klien Pemasyarakatan di Karangasem

balitribune.co.id | Amlapura - Guna mengoptimalkan bimbingan dan pengawasan terhadap klien pemasyarakatan, Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata, Rabu (15/7/2026) memimpin penandatanganan Nota Kesepakatan dan Rencana Kerja antara Pemerintah Kabupaten Karangasem dengan Balai Pemasyarakatan Kelas II Karangasem.

Baca Selengkapnya icon click

Berkedok SBKKN, OJK Bali Tegaskan Ajakan "Bebas Utang" Adalah Penipuan

balitribune.co.id | Denpasar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat terkait maraknya penawaran dari oknum atau lembaga yang menjanjikan pelunasan kredit serta mengajak debitur untuk tidak membayar utang ke bank, perusahaan pembiayaan, maupun lembaga jasa keuangan lainnya.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.