balitribune.co.id | Denpasar - Tradisi Ogoh-Ogoh di kawasan Sanur, Denpasar kembali dikemas secara lebih kreatif melalui event Sanur Metangi 2026 dalam rangka menyambut Tahun Baru Saka 1948. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan parade Ogoh-Ogoh, tetapi juga berbagai rangkaian kegiatan budaya dan pariwisata.
Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, Ida Bagus Gde Sidarta Putra menjelaskan bahwa Sanur Metangi 2026 dirancang sebagai sebuah event utama dengan sejumlah sub-event yang mendukung.
"Parade Ogoh-Ogoh menjadi agenda utama yang dinilai, sementara kegiatan lain seperti pementasan seni, sendratari, penilaian Ogoh-Ogoh mini, hingga talkshow turut digelar untuk memperkaya acara," ujarnya disela-sela pembukan Sanur Metangi 2026 yang dibuka oleh Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara di Pantai Mertasari Sanur, Rabu(10/3/2026).
Menurutnya, talkshow yang dihadirkan mengangkat tema kebudayaan, pariwisata, dan peran desa adat serta generasi muda atau Yowana sebagai penjaga budaya Bali. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang diskusi sekaligus memperkuat semangat kebangkitan budaya lokal.
Ia menambahkan, Sanur sebagai kawasan pariwisata juga mendapat nilai tambah dengan adanya berbagai aktivitas dalam event tersebut. Promosi kegiatan juga telah dilakukan melalui media sosial sehingga diharapkan wisatawan dapat datang dan berbaur bersama masyarakat menikmati rangkaian acara.
Sementara itu, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Pembangunan Sanur yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan event Sanur Metangi.
Menurutnya, kegiatan ini memberikan ruang bagi masyarakat Sanur untuk menampilkan karya Ogoh-Ogoh dari masing-masing banjar. Jika dalam festival Ogoh-Ogoh biasanya hanya ada satu perwakilan sebagai duta, melalui event ini seluruh karya masyarakat dapat ditampilkan dan dinikmati bersama.
“Ini memberikan suguhan hiburan bagi masyarakat Sanur, sekaligus menggerakkan UMKM. Selain itu karena Sanur merupakan kawasan pariwisata, para wisatawan juga bisa menikmati tradisi Ogoh-Ogoh yang menjadi budaya Bali,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Denpasar berkomitmen untuk terus mendukung berbagai event seni dan budaya yang melestarikan tradisi Bali, sejalan dengan Denpasar sebagai kota budaya.
Sebelumnya Ketua panitia Parade Ogoh-Ogoh Sanur Metangi Ida Bagus Prajiskana Jisnu menjelaskan, semangat Samuhita diusung untuk merangkul seluruh pemuda lintas banjar di Sanur agar kembali bergandengan tangan dalam satu panggung budaya.
“Ini bukan sekadar lomba, tapi ajang menyatukan. Kita ingin menunjukkan bahwa Sanur bisa kompak,” ujarnya.
Kegiatan ini berada di bawah naungan Yayasan Pembangunan Sanur yang didukung Desa Adat Intaran, Desa Adat Sanur, Desa Adat Penyaringan, Desa Sanur Kaje, Keluaran Sanur, Desa Sanur Kauh Sabha Yowana Sanur, Sabha Yowana Intaran, Karang Taruna Sanur Kaje, Sanur Kauh dan Kelurahan Sanur. Sebelum parade puncak tanggal 12 Maret 2026, proses penilaian awal telah digelar pada 1 Maret 2026.
Pada parade, 20 Ogoh-Ogoh akan tampil sesuai nomor undian. Masing-masing banjar mendapat waktu 8–10 menit untuk menampilkan Ogoh-Ogoh lengkap dengan fragmen dan Baleganjur. Sistem penilaian dipisahkan antara kategori Ogoh-Ogoh serta fragmen dan Baleganjur, sehingga akan ada dua kelompok juara.
Parade dimulai sekitar pukul 16.00 Wita, dengan target rampung sebelum pukul 23.00 Wita sesuai ketentuan perizinan. Pengumuman juara direncanakan menjelang tengah malam setelah seluruh penampilan selesai.