Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Takdir, Kecelakaan Pesawat di Masa Pandemi

Bali Tribune / Wayan Windia - Ketua Stispol Wira Bhakti Denpasar.

balitribune.co.id | Di hari minggu, biasanya televisi menampilkan acara yang sendu. Mungkin untuk mengendurkan pikiran yang tegang, di hari-hari sebelumnya. Berbeda dengan hari minggu kemarin. Liputan televisi sangat hiruk pikuk, dan menegangkan. Ada kecelakaan pesawat Sriwijaya Air di Kepulauan Seribu. Banyak orang yang tertegun. Karena pesawat hanya sempat terbang selama empat menit, dan kemudian terjatuh di laut dalam.

Memang, masa kritis penerbangan pesawat adalah saat 10 menit setelah lepas landas, dan 10 menit sebelum mendarat. Tetapi siapa sangka pesawat hanya terbang hanya empat menit? Saya terbayang, para penumpang masih mengenakan sabuk pengaman. Dan pandangan mata masih melihat-lihat pramugari yang sibuk, untuk menyiapkan kudapan atau makan siang.

Tetapi di hari Sabtu sore (9/1) itu, Takdir berkata lain. Pesawat Sriwjaya Air kabarnya berbelok, menuju ke arah jalur yang menyimpang, dan kemudian terjatuh. Kalau nanti kotak-hitam pesawat ditemukan, kita pasti akan mendengar di sana, lengkingan jerit tangis yang memilukan. Jerit-tangis, adalah usaha manusia untuk menghilangkan stress yang datang mendadak. Tetapi selanjutnya kita harus berserah kepada Takdir, kepada Sang Maha Pencipta, kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Biasanya orang Barat menyebutkan slogan hate Monday.  Kebencian di hari Senen, karena terlanjur sangat menikmati liburan di hari Sabtu dan Minggu. Tetapi kali ini kita di Indonesia, mesti harus mengatakan hate Sunday. Sebuah kebencian di hari Minggu, karena sehari sebelumnya ada musibah yang sangat mencekam.

Pada hari yang nyaris sama, ada longsor di Sumedang. Menyebabkan 16 orang meninggal, delapan orang luka-luka, dan banyak rumah yang hancur. Untuk hal itu, saya masih bisa men-justifikasi. Mungkin karena penduduk di sana sangat serakah. Membabat hutan seenaknya, membuang sampah di sungai, dan tidak hirau pada lingkungan alam. Kemudian mereka mendapat pahala dari karma yang diperbuat. Ya, demikianlah adanya, kalau kita percaya pada hukum karma-pahala.

Tetapi, bagaimana dengan kecelakaan sebuah pesawat terbang? Pesawat dibuat dengan perhitungan matematik yang matang. Di uji berkali-kali. Sebelum terbang, di test dengan teliti. Penumpangnya membayar sangat mahal. Menunggu penerbangan, bahkan dalam waktu berjam-jam. Kalau penerbangan ditunda karena berbagai alasan, maka para penumpang umumnya pasrah saja. Kalau semua kondisi dicatat sudah aman, barulah penerbangan di lakukan.

Plus, pilot pesawat Sriwijaya itu adalah mantan perwira TNI-AU, yang sudah malang-melintang di udara selama sekitar 35 tahun. Saya adalah orang yang sangat membanggakan komunitas TNI. Pastilah sebagai mantan warga TNI, pilot itu sangat disiplin dan penuh kewaspadaan. Lalu terbiasa harus cepat mengambil keputusan yang tepat. Pertanyannya, kenapa masih bisa sampai terjadi bencana kecelakaan yang sangat menyedihkan itu? 

Kontemplasi ini sangat mengganggu pikiran saya. Lalu mendorong saya ke meja kerja, dan membuka laptop. Saya teringat pada buku bacaan Kitab Mahabrata. Bahwa semua kejadian adalah karena kehendak Takdir. Apapun yang “terjadi” dan “tidak terjadi”, adalah karena kehendak Tuhan YME. Tidak ada yang bisa melawan Takdir. Manusia bisa “menaklukkan” bulan, tetapi manusia tidak bisa melawan Takdir.

Gugurnya Begawan Bisma, Guru Drona, Karna, Gatotkaca, Bimaniyu, dan bahkan Duryudana serta Dursasana, adalah karena Takdir. Selanjutnya Takdir juga menghendaki tetap hidupnya Sang Panca Pandawa dalam Perang Berata Yudha yang sangat heroik. Gugurnya Sang Gatotkaca di tangan Karna (Raja Angga), adalah Takdir untuk menyelamatkan Pangeran Arjuna. Tampaknya, kemunculan Takdir, karena adanya berbagai Sumpah para satrya sejati. Semua sumpah-sumpah para satrya itu dikelola oleh Kresna, yang dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu. Sri Kresna-lah yang menentukan siapa yang harus gugur dalam perang besar itu.

Ah, rasanya, kita terlalu mengenang masa lalu (atita). Tetapi jelaslah, bahwa masa depan (anagata) dari semua yang ditinggalkan oleh korban Sriwijaya Air, adalah juga ditentukan oleh Takdir. Ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Ditentukan oleh Karma, yang kita perbuat di masa lalu, dan di masa kini (wartamana).    

Di televisi, saya menyaksikan seorang lelaki setengah baya menangis tersedu-sedu, ketika diwawancarai oleh pers. Orang itu terlihat sudah menghindar, tetapi pers tampaknya masih mengejar. Hal ini tidak dibenarkan oleh Kode Etik Jurnalistik. Seseorang (korban) memiliki hak privasi. Hak itu harus dihormati oleh pers. Jangan mengganggu seseorang yang menjadi korban.

Orang itu mengaku sudah menunggu istri dan tiga orang anaknya, selama berjam-jam di Bandara Supadio, Pontianak. Istrinya sempat melakukan video call, bahwa pesawat Sriwijaya delay selama satu jam. Semua, ketiga anaknya itu masih di bawah umur. Anaknya yang tertua, umurnya empat tahun. Anaknya yang kedua, masih dua tahun, dan yang ketiga, justru masih bayi (enam bulan). Mereka ingin menengok suamiya, yang bekerja di Pontianak. Tetapi akahirnya mereka tidak akan pernah bertemu di alam fana untuk selama-lamanya. Sungguh suatu peristiwa yang tragis.

Ada juga pasangan suami-istri yang baru menikah, dan akan mengadakan pesta keluarga di Pontianak. Lalu Takdir menentukan lain. Saya tak bisa merasakan, betapa pedihnya hati orang-orang, yang sedang mempersiapkan pesta meriah sebuah pernikahan. Meski di masa pandemi sekalipun. Waduh, tatkala saya sedang mengetik naskah ini, saya menerima kiriman puisi, karya WS Rendra. Ia bercerita tentang detik-detik terakhir kehidupannya.  Bahwa hidup ini adalah titipan Tuhan, dan kita harus hidup dalam rendah hati. Memangnya, apa yang dapat kita sombongkan di hadapan Takdir dan  Ida Sang Hyang Widi Wasa?

wartawan
Wayan Windia
Category

Cegah Penyelewengan, Ketua DPRD Klungkung Kumpulkan Penerima Bansos

balitribune.co.id I Semarapura - Masalah hukum menjadi atensi serius dalam pertemuan strategis antara Ketua DPRD Kabupaten Klungkung, Anak Agung Gde Anom dengan para Kelihan Pura serta kelompok masyarakat penerima hibah bantuan sosial (bansos) yang cair di tahun anggaran induk 2026 yang telah difasilitasinya.

Baca Selengkapnya icon click

LPD Cempaga Tetap Beroperasi, Jaminan dan Uang Milik Nasabah Aman

balitribune.co.id I Bangli - Pasca musibah kebakaran Kantor LPD Desa Adat Cempaga yang terjadi pada Rabu (25/2/2026), operasional  dari lembaga keuangan milik desa tersebut tetap berjalan normal. Bahkan dipastikan semua aset LPD yakni jaminan dari nasabah dan uang milik nasabah serta file penting lainnya aman   Hal tersebut diutarakan Bendesa Adat Cempaga I Wayan Nyepek, Kamis (26/2/2026).

 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Satpol PP Siap Bongkar Paksa 56 Reklame di Buleleng

balitribune.co.id I Singaraja - Penataan ruang publik di Kabupaten Buleleng memasuki babak yang lebih tegas. Melalui Satpol PP Kabupaten Buleleng bersama DPMPTSP Kabupaten Buleleng, pemerintah daerah mengultimatum 56 titik reklame yang dinilai melanggar aturan untuk segera dibongkar secara mandiri.

 

Baca Selengkapnya icon click

Tiga Aparatur di Tabanan Terjerat Narkoba, Pemkab Akan Perluas Tes Urine ke Pemerintah Desa

balitribune.co.id I Tabanan - Tiga orang aparatur di Tabanan terseret kasus narkoba. Proses hukumnya saat ini sedang berjalan di Polres Tabanan. Dalam keterangan pers, Rabu (25/2/2026), Polres Tabanan selaku pihak berwenang mengonfirmasi adanya dua oknum pegawai Pemkab Tabanan yang tersangkut kasus nakoba.

 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Damkar Kerahkan 7 Pompa Atasi Banjir Sanur

balitribune.co.id I Denpasar -  Penanganan banjir di kawasan Jalan Bumi Ayu, Kelurahan Sanur, Denpasar Selatan, telah memasuki hari ketiga pada Kamis (26/2). 

Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Kota Denpasar masih terus berupaya melakukan penyedotan genangan air yang melumpuhkan akses jalan utama dan pemukiman warga.

Baca Selengkapnya icon click

Angkat Judul "Maguru Satua", Ogoh-ogoh ST Tunas Remaja Penarungan Kembali Lolos ke Puspem Badung

balitribune.co.id I Mangupura - Ogoh-ogoh hasil karya Sekaa Teruna (ST) Tunas Remaja, Banjar Umahanyar, Desa Penarungan, Mengwi, kembali lolos ke Puspem Badung dalam Lomba Ogoh-ogoh bertema "Badung Saka Fest" tahun 2026, tanggal 6-8 Maret mendatang.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.