Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Tangisan Rimba Kalimantan dan Papua Sekarat

Hans Itta, Redaktur Pelaksana Harian Bali Tribune
Bali Tribune / Hans Itta, Redaktur Pelaksana Harian Bali Tribune

balitribune.co.id I Dahulu kala, Indonesia bangga dengan dua mahkotanya: Kalimantan sang Zamrud Khatulistiwa dan Papua si Surga Cendrawasih. Keduanya bukan sekadar hamparan pohon, melainkan paru-paru dunia yang menjaga bumi tetap bernapas. Namun hari ini, mahkota itu sedang dipreteli. Di bawah kendali keserakahan—oleh lingkaran hitam pengusaha, politisi, hingga oknum bersenjata—hutan kita gundul dan satwa endemiknya dipaksa berjalan menuju kepunahan.

Kalimantan Jadi Lautan Sawit Bara

Jika kita terbang di atas Kalimantan beberapa dekade lalu, yang terlihat adalah samudra hijau yang tak tembus matahari. Kini, pemandangan itu telah berganti menjadi barisan kaku perkebunan sawit monokultur dan lubang-lubang raksasa bekas kerukan batu bara.

Tragedi terbesar Kalimantan adalah api tahunan. Demi menekan biaya, metode tebas-bakar (slash-and-burn) menjadi jalan pintas yang direstui oleh keserakahan. Jutaan makhluk hidup mati terpanggang di rumahnya sendiri. Orangutan (Pongo pygmaeus), sang penjaga rimba, kini gelandangan. Mereka yang selamat sering ditemukan kurus kering di pinggir jalan korporasi, atau tewas ditembak karena dianggap "hama". Ketika hutan berganti menjadi mesin uang, eksistensi mereka perlahan sirna.

Alam Dikuras, Rakyat Tetap Merana

Di balik rusaknya alam, ada ironi yang menyayat hati. Bumi Kalimantan dan Papua adalah gudang harta karun yang luar biasa. Minyak bumi dipompa, jutaan ton batubara dikeruk, emas digali tanpa henti, dan kayu-kayu gelondongan raksasa diangkut keluar secara ugal-ugalan. Secara logika, kekayaan tak terbatas ini seharusnya mampu mensejahterakan seluruh penduduk pulau.

Namun yang terjadi justru sebaliknya: wilayah-wilayah yang dikuras ini tetap terjerat dalam kemiskinan terstruktur dan ketertinggalan. Sementara jalan-jalan di pedalaman rusak parah, fasilitas kesehatan minim, dan anak-anak pedalaman kesulitan mengakses pendidikan layak, hasil bumi mereka justru mengalir deras ke kantong para pengusaha hitam. Berkat persekongkolan rapi dengan oknum pejabat korup, para oligarki ini semakin makmur dan "gendut", membangun imperium kemewahan di atas penderitaan rakyat lokal yang tanah ulayatnya telah hancur.

Papua: Air Mata di Benteng Hijau Terakhir

Setelah hutan Sumatra dan Kalimantan habis dikuliti, mata para pengusaha hitam kini tertuju ke Papua. Inilah benteng pertahanan hijau terakhir yang kita miliki di Asia Pasifik. Di sinilah rumah bagi burung Cenderawasih yang menari elok dan Kanguru pohon yang langka. Bagi masyarakat adat, hutan ini adalah ibu kandung mereka.

Namun, kedamaian Papua kini koyak. Atas nama "pembangunan" dan Proyek Strategis Nasional yang disetir dari meja-meja mewah di Jakarta, jutaan hektar hutan adat mulai dibabat. Ironisnya, masyarakat adat yang mencoba mempertahankan tanah ulayatnya justru harus berhadapan dengan todongan senjata dari oknum yang seharusnya melindungi mereka. Ketika hutan Papua gundul, yang hilang bukan cuma pohon, tapi juga identitas, budaya, dan ruang hidup suku-suku asli. Burung Cendrawasih kini kehilangan dahan untuk menari, digantikan oleh bisingnya gergaji mesin.

Melawan "Ecocide" dan Keserakahan Terorganisir

Apa yang terjadi di Kalimantan dan Papua adalah ecocide pembunuhan massal terhadap lingkungan. Kolusi sistemis antara pengusaha, politisi, dan oknum aparat telah menciptakan benteng hukum yang membuat para perusak ini kebal tersentuh. Mereka meraup untung miliaran rupiah, sementara rakyat di lapangan harus menelan kepulan asap beracun dan kehilangan masa depan.

Namun, alam tidak pernah diam. Banjir bandang yang kini rutin menenggelamkan kota-kota di Kalimantan dan cuaca ekstrem adalah alarm keras bahwa bumi sedang membalas dendam. Jika eksploitasi gila-gilaan ini tidak dihentikan lewat penegakan hukum yang jujur dan boikot pasar internasional, maka dalam beberapa dekade ke depan, anak cucu kita hanya bisa melihat Orang Utan dan Cendrawasih di dalam buku sejarah atau cerita dongeng.

Menyelamatkan Kalimantan dan Papua bukan lagi sekadar urusan menanam pohon saat seremonial. Ini adalah perang terbuka melawan keserakahan sistemik. Karena pada akhirnya, ketika pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir telah diracuni, dan ikan terakhir telah ditangkap, manusia baru akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan.

wartawan
Hans Itta
Category

Dibuka Sejak 29 Oktober, Pendaftaran Sekda Klungkung Sepi Peminat

balitribune.co.id | Semarapura - Meski pendaftaran seleksi terbuka calon Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Klungkung telah dibuka sejak 29 Oktober lalu, hingga Selasa (3/11/2026) belum ada satu pun pejabat yang menyerahkan berkas pendaftaran.

Padahal, terdapat puluhan hingga ratusan pejabat yang secara persyaratan administrasi dan kepangkatan berpeluang untuk mengikuti ajang seleksi jabatan pimpinan tinggi pratama tersebut.

Tags
Baca Selengkapnya icon click

Perluas Galeri Indonesia di Odisha, Ida Rsi Pajang Wayang dan Gender Bali

balitribune.co.id | Jakarta - Ida Rsi Putra Manuaba, pengasuh Ashram Gandhi Puri sekaligus penggagas Kalingga Bali Sanggam, terus memperkuat hubungan persahabatan historis antara Bali dan Odisha, India. Melalui gerakan Kalingga Bali Yatra, Ida Rsi Putra Manuaba konsisten menghubungkan kembali jejak peradaban leluhur lewat sektor kebudayaan, pendidikan, perdagangan, dan spiritualitas.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Wakili Ketua DPRD Badung, Nyoman Gede Wiradana Hadiri Karya Agung di Pura Puseh Sigaran

balitribune.co.id | Mangupura - Anggota DPRD Kabupaten Badung I Nyoman Gede Wiradana mewakili Ketua DPRD Badung menghadiri rangkaian Karya Ngenteg Linggih, Mupuk Pedagingan lan Pedudusan Agung Utamaning Utama di Pura Puseh Desa Adat Sigaran, Desa Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Senin (2/11/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Kemacetan di Gilimanuk Masih Terjadi, Warga Minta Keluhannya Disikapi

balitribune.co.id | Negara - Kondisi krodit akibat mengularnya antrean kendaraan dari pelabuhan penyeberangan Gilimanuk, hingga kini masih terus terjadi. Kemacetan lalu lintas di jalur menuju pelabuhan tersebut kini dampaknya semakin dirasakan oleh masyarakat di Kelurahan Gilimanuk. Warga pun berharap keluhan masyarakat bisa segera disikapi oleh pihak-pihak terkait.

Tags
Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Pemprov Perkuat Tata Kelola Komunikasi Krisis Terintegrasi melalui BALI SIGAP

balitribune.co.id | Denpasar - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali terus memperkuat tata kelola komunikasi krisis melalui pengembangan Sistem Informasi Gerak Cepat Antisipasi dan Penanganan Isu Publik (BALI SIGAP). Sistem ini dirancang untuk mendukung mekanisme koordinasi antarperangkat daerah dalam menangani berbagai isu publik secara cepat, terukur, dan terintegrasi.

Baca Selengkapnya icon click

Veda Ega Pratama, Harapan Baru Motorsport Indonesia

balitribune.co.id | Denpasar - Berawal dari seorang anak yang menghabiskan waktu sepulang sekolah berlatih motocross, Veda Ega Pratama kini menjelma menjadi salah satu talenta muda kebanggaan Indonesia di panggung balap dunia.

Prestasi terbarunya sebagai runner-up Moto3™ Malaysia 2026 menjadi bukti mimpi besar yang dibangun sejak dini mulai membuahkan hasil, sekaligus menghadirkan harapan baru bagi masa depan motorsport Indonesia.

Tags
Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.