Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Sanggar Seni Kasturi Rekonstruksi Tari Baris Paku, Penari Pantang Konsumsi Daging Babi

Tari Baris Paku
Bali Tribune / BARIS PAKU - Para penari Tari Baris Paku mengenakan busana lengkap dengan ciri khas berupa penggunaan daun paku (pakis). Tarian sakral ini berhasil direkonstruksi oleh Sanggar Seni Kasturi, Banjar Sabang, Desa Adat Selulung, Kintamani. (ist)

balitribune.co.id I Bangli - Sanggar Seni Kasturi, Banjar Sabang, Desa Adat Selulung, menggelar revitalisasi kearifan lokal melalui rekonstruksi Tari Baris Paku, Minggu (12/7/2026). Rekonstruksi digelar sebagai  upaya pelestarian terhadap tari sakral yang ada di wilayah Kintamani bagian barat ini.  

Ketua Sanggar Seni Kasturi, Jero Mangku Kadek Indrawan menjelaskan, Tari Baris Paku merupakan salah satu tari baris sakral dari keempat tari baris yang ada di Banjar Sabang, Desa Adat Selulung, Kintamani, Bangli. "Banjar Sabang memiliki empat tari baris yakni Tari Baris Jongko, Baris Bunga, Baris Paku, dan Baris Kwaci. Keempat tari baris tersebut memiliki makna yang berbeda, tetapi dengan fungsi yang sama yaitu sebagai sarana penyucian," ujar Indrawan.  

Dikatakan, Tari Baris Paku memiliki nilai keunikan yang membedakan tarian tersebut dengan tari baris pada umumnya. Keunikan tersebut terletak pada pakaian dan ornamen yang digunakan, bentuk tarian, juga gerakan pada tarian tersebut. 

Kadek Indrawan menjelaskan, penari Tari Baris Paku menggunakan tanaman paku (pakis) sebagai salah satu ornamen penting pada tari tersebut. Daun paku tersebut berfungsi sebagai onggar-onggar atau riasan kepala, badong atau aksesori leher serta lamak atau hiasan dada, kalang kampiyah (awir) sebagai ornamen khas busana tari Bali, serta gelang tangan (gelang kana) dan gelang kaki (stewel).  

"Daun paku yang digunakan juga bukan sembarang paku, jenis paku yang dapat dipakai pada tari Baris Paku adalah jenis Paku Pahid dan Paku Pidpid. Keunikan penggunaan daun paku inilah yang menjadi identitas mutlak pada tari Baris Paku," ujarnya.  

Baris Paku

Menurut Kadek Indrawan, setiap bagian busana dalam Tari Baris Paku memiliki makna tersendiri, dari kepala hingga kaki. Pertama, ongar-ongar dalam tari baris paku memiliki bentuk menyerupai gunung yang meruncing ke atas, sementara bagian bawahnya diperkuat lingkaran yang terbuat dari bambu betung. 

"Bentuk gunung pada onggar-onggar mencerminkan konsep adat dan tradisi masyarakat Desa Adat Selulung, dimana wilayah tertinggi dianggap sebagai hulu dan wilayah terendah sebagai hilir.  Hal ini sejalan dengan konsep hulu abad atau hulu dapuh yang dianut di desa Selulung, dimana gunung menjadi pusat pemujaan para dewa, sedangkan hilir menjadi pusat pemujaan buta kala," ujarnya.  

Lebih lanjut, tokoh muda lulusan ISI Denpasar ini menjelaskan, pada badong Tari Baris Paku dulunya diikat menggunakan tali ijuk atau tali pohon aren, namun seiring waktu bahan tersebut jarang digunakan dan diganti dengan kain berwarna putih tanpa mengubah makna filosofisnya. Badong yang terbuat dari daun paku dimaknai sebagai penyeimbang antara pikiran manusia dan realitas dunia. 

"Badong dan onggar-onggar saling berkaitan, onggar-onggar sebagai hulu dan badong sebagai hilir. Karena posisinya berada di tengah tubuh, badong dianggap sebagai penyeimbang antara hulu dan hilir sesuai konsep hulu abad," ujarnya.  

Kadek Indrawan menyebutkan, kalang kampiyah dalam Tari Baris Paku juga disusun menggunakan daun paku paid dengan hitungan tertentu yang berbeda bagi setiap penari. Penari pertama menggunakan 16 daun, penari kedua 11 daun, penari ketiga 9 daun, dan penari keempat 7 daun.

 "Hitungan daun paku tersebut memiliki makna religius, karena dalam kepercayaan masyarakat Desa Adat Selulung yang menganut agama Hindu, angka-angka tersebut dianggap sebagai simbol tempat para dewa," ujarnya.  

Pantang Konsumsi Daging Babi  

Sementara itu, terkait Tari Baris Paku juga tidak boleh ditarikan oleh sembarang orang. Kata Indrawan, tari ini hanya boleh dibawakan oleh para pemuda yang belum menikah,  serta telah melalui proses penyucian. Penari juga tidak diperbolehkan memakan daging babi selama satu hari sebelum menarikan tari Baris Paku. Penari juga harus berada dalam keadaan suci atau sudah melaksanakan prosesi ”Malukat”.

Tari Baris Paku juga tidak dapat dipentaskan di sembarang tempat. Tari ini hanya boleh ditampilkan di pura-pura tertentu yang berada di wilayah Banjar Sabang, seperti Pura Taman Klansang, Pura Bukit Tegeh, Pura Jero Kajanan, dan Pura Jero Kelodan. Selain itu, tarian tersebut juga dapat ditampilkan di pura-pura yang berada di luar Banjar Sabang, seperti Pura Batur, Pura Balingkang, serta Pura Penulisan.  

"Ketentuan ini menegaskan kedudukan Tari Baris Paku sebagai tarian sakral yang tidak sekadar karya seni, tetapi juga bagian dari sistem kepercayaan dan keseimbangan spiritual masyarakat Banjar Sabang," ujar Indrawan.  

Rekonstruksi

Vakum Puluhan Tahun  

Sementara itu, Sedahan Adat Banjar Sabang, I Made Kopeng yang juga tokoh seniman Banjar Sabang menjelaskan, terkait asal-usul Tari Baris Paku, berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan para tetua adat, tarian ini diperkirakan muncul sekitar tahun 1700 Masehi. Lahirnya tarian ini tidak terlepas dari situasi krisis yang dialami masyarakat kala itu, ketika gempa di wilayah kintamani bagian barat, kemudian wabah penyakit, serta rusaknya hasil bumi akibat hama.  

Peristiwa-peristiwa tersebut diyakini sebagai tanda terganggunya keseimbangan alam dan hubungan spiritual masyarakat dengan kekuatan gaib. Dalam masa penuh kegelisahan itulah muncul pawisik atau bisikan gaib dari Bhatara Dukuh Sakti, dewa yang berstana di Bukit Tegeh dan dikenal pula dengan julukan Ki Dukuh Kamajaya. Pawisik tersebut disampaikan kepada seorang penglingsir bernama Ki Jalak Tenggeng di wilayah Jaringetet yang sekarang dikenal sebagai Banjar Sabang, berisi perintah untuk melakukan peruwatan melalui penciptaan empat tarian sakral yakni Baris Jongko, Baris Bunga, Baris Paku, dan Baris Kwaci.  

"Keempat tarian ini berfungsi sebagai sarana penyucian, sementara Tari Baris Paku khusus dipersembahkan kepada Bhatara Dalem Sang Hyang Telek perwujudan Bhatari Durgaila dan Bhatari Durgapati yang dipercaya mampu melebur penyakit, malapetaka, dan energi negatif yang mengancam masyarakat," ujarnya.

Dikatakan, keberlangsungan Tari Baris Paku ini tidak selalu mulus. Sejak tahun 1963 tarian ini tidak ditarikan lagi karena adanya letusan gunung agung yang mengakibatkan warga menjadi kelaparan berkepanjangan. Hal itu juga mempengaruhi pada pementasan tarian ini, sehingga tarian ini menjadi berhenti ditarikan selama puluhan tahun lamanya.  

Penghentian pementasan tari tersebut, ternyata justru diikuti oleh berbagai peristiwa yang dianggap sebagai pertanda hilangnya perlindungan spiritual bagi masyarakat Banjar Sabang, seperti konflik internal warga. Peristiwa-peristiwa konflik terus terjadi hingga 2017, yang memperkuat keyakinan bahwa hilangnya tarian ini berdampak pada terganggunya keseimbangan wilayah Banjar Sabang.

Keprihatinan itulah yang mendorong tokoh masyarakat adat sabang untuk menghidupkan kembali Tari Baris Paku. Melalui diskusi yang melibatkan masyarakat dan para tetua adat, akhirnya disepakati bahwa tarian ini harus direvitalisasi sebagai tarian sakral yang menjaga harmoni antara manusia dan alam serta menetralisir kekuatan Bhuta Kala. "Tari ini kemudian direvitalisasi dan dapat ditarikan kembali oleh masyarakat dan bisa dilestarikan sampai sekarang," ujarnya.  

Disaksikan wakil bupati bangli

Pementasan hasil rekonstruksi Tari Baris Paku yang digelar di Jaba Pura Dadia Tangkas Kori Agung Banjar Sabang, Desa Adat Selulung tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar, Anggota DPRD Provinsi Bali, Sang Nyoman Putra Erawan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli, I Wayan Dirga Yusa, serta Camat Kintamani, Ketut Erry Soena Putra. Hadir pula dari Balai Pelestarian Kebudayaan Bali, Kelian Adat Selulung, Perbekel Desa Belantih, serta seluruh masyarakat adat Banjar Sabang.  

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar menyampaikan rekonstruksi Tari Baris Paku ini merupakan langkah nyata dalam menghidupkan dan mengembangkan seni tradisi yang ada di wilayah Banjar Sabang, Desa Adat Selulung. "Jika diperkirakan tari ini sudah ada sejak tahun 1700 masehi maka usia tari ini sudah lebih dari 300 tahun. Sempat vakum, dan sekarang direkonstruksi kembali agar bisa dilestarikan," ujarnya.

Wayan Diar meminta agar keberadaan seni dan tari tradisional di wilayah Desa Adat Selulung agar terus dikembangkan. Pihaknya pun merasa turut berbangga mengingat di Desa Adat Selulung kini sudah ada sanggar seni yang menjadi wadah dalam pengembangan kegiatan berkesenian. Ia berharap, dalam waktu dekat Sanggar Seni Kasturi dapat terus berkembang dan mendapatkan kesempatan tampil di ajang Pesta Kesenian Bali sebagai duta Kabupaten Bangli.

wartawan
RED
Category

66 WNA Terindikasi Langgar Administrasi Keimigrasian, Patroli Dharma Dewata Perketat Pengawasan 

balitribune.co.id I Denpasar - Pengawasan terhadap warga negara asing (WNA) di Bali terus diperketat. Dalam sepekan terakhir, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Bali menjaring 66 WNA dari 27 negara yang terindikasi melakukan pelanggaran keimigrasian.

Baca Selengkapnya icon click

Sopir Truk Masih Parkir Liar di Depan Terminal Mengwi, Dishub Siapkan Tilang

balitribune.co.id I Mangupura - Larangan parkir di depan Terminal Tipe A Mengwi, Badung, masih saja dilanggar. Sejumlah sopir truk nekat memarkir kendaraan berukuran besar di Jalan Jaksa Agung R Soeprapto, meski kawasan tersebut sudah dipasangi spanduk larangan parkir dan berkali-kali ditertibkan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Buntut Penggeledahan oleh Kejari, Sekda Bakal Panggil Jajaran Diskes Tabanan

balitribune.co.id I Tabanan – Sekretaris Daerah (Sekda) Tabanan I Gede Susila berencana memanggil jajaran pimpinan Dinas Kesehatan (Diskes) terkait aksi penggeledahan yang dilakukan Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat.

Rencana ini untuk mendapatkan konfirmasi internal mengenai dugaan kasus korupsi anggaran bahan bakar minyak (BBM) dan makan minum (mamin) yang tengah disidik.

Baca Selengkapnya icon click

Kejari Tabanan Teliti Barang Bukti Usai Geledah Kantor Dinkes

balitribune.co.id I Tabanan – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan mulai meneliti seluruh barang bukti yang disita dari hasil penggeledahan di Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

Ini dilakukan sebagai langkah persiapan sebelum tim penyidik melanjutkan pemeriksaan saksi-saksi secara bergelombang terkait dugaan korupsi anggaran BBM dan makan minum tahun 2023-2025 di Dinkes Tabanan tersebut.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Catus Pata Jadi Panggung Utama Buleleng Festival

balitribune.co.id I Singaraja - Setelah Lovina Festival, Pemerintah Kabupaten Buleleng kembali menggelar perhelatan akbar berupa Buleleng Festival (Bulfest). Saat ini Panitia Bulfest masih  terus mematangkan persiapan menjelang acara yang akan dibuka dalam tujuh hari ke depan. Hingga saat ini, progres persiapan fisik maupun teknis dilaporkan telah mencapai angka 95 persen.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.