Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Renungan 76 Tahun MPB

Bali Tribune / Wayan Windia - Penulis adalah Ketua Stispol Wira Bhakti dan Ketua Umum DHD Angkatan 45 Prov. Bali.

balitribune.co.id | Di kawasan pertigaan Dalung-Gaji-Sempidi, terdapat bangunan menjulang tinggi.  Atau rata-rata bangunan itu, lebih tinggi dari bangunan di sekitarnya. Ternyata bangunan itu bukan bangunan biasa-biasa saja. Bangunan itu adalah bangunan yang sangat bersejarah. Suatu kawasan bangunan, tempat berkumpulnya para pejuang kemerdekaan di Bali. Tujuannya untuk mengatur strategi, agar bangsa ini terbebas dari belenggu penjajah.

Peristiwa kumpul-kumpul itu, telah dimulai sejak tahun 1942, tatkala penjajah Jepang mulai menginjakkan kakinya di Bali. Kesombongan dan kekejaman Jepang terhadap masyarakat Bali, telah membangkitkan nafas kebangsaan di kalangan penduduk yang terpelajar. Made Wija Kusuma (Pak Joko), Bagus Made Wena, dan Subroto Aryu Mataram, mengambil inisiatif untuk  mempersatukan kaum muda pejuang di Bali.

Puncak pertemuan historis di rumah bangsal (sekarang disebut Monumen Perjuangan Bangsal atau MPB) terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945. Yakni, sehari sebelum hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Rencananya, pada saat itu mulai akan dilakukan aksi. Tetapi persis pada saat itu, tentara Peta di Bali dilucuti Jepang. Mungkin Jepang sudah paham bahwa ia kalah perang, setelah kota Hirosima dan Nagasaki rata dengan tanah, setelah dibom oleh Amerika Serikat (sekutu). Maka itu, Jepang tidak ingin eksistensi tentara Peta bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Ciri-cirinya sudah mulai tercium. Misalnya,  Kapten Sugianyar berani memukul tentara Jepang yang angkuh.

Menurut Ketua DPD LVRI Bali, I Gusti Bagus Saputera, mulusnya sinergi antara pejuang sipil dan militer di Bali disebabkan karena hampir semua komponen pejuang di Bali pernah bertemu di Rumah Bangsal. Termasuk Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai (Pak Rai), cukup sering kumpul-kumpul di Bangsal. Demikianlah, tatkala pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai tiba di Bali, dan mengumpulkan para pejuang se Bali di Munduk Malang (Tabanan), maka pertemuan itu sangat mulus. Tidak seperti di Jawa, sering terjadi friksi antara pejuang sipil dan pejuang militer.

Demikianlah, pada tanggal 16 Agustus 2021, tepat 76 tahun yang lalu, pertemuan heroik para pejuang di Bali diselenggarakan di Monumen Perjuangan Bangsal (MPB). Peristiwa bersejarah itu, selalu secara rutin dikenang oleh anak-anak bangsa di kawasan MPB. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena di sana ditanamkan nilai-nilai substansial, yang bermanfaat bagi generasi ke generasi. Tidak akan ada kenangan dan renungan, kalau di tempat itu tidak ada nilai-nilai yang patut dikenang.

Apa nilai-nilai yang patut diteladani dari kawasan MPB? Menurut saya, nilai-nilai itu adalah nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan spiritualitas. Nilai kebangsaan adalah nilai, di mana seseorang memutuskan untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok, keluarga, dan pribadi. Seseorang itu juga siap dan berani berkorban untuk bangsanya.

Para pejuang yang berkumpul-kumpul di MPB, yang difasilitasi oleh alm Bagus Made Wena, adalah orang-orang yang memiliki moralitas kebangsaan. Mereka adalah orang-orang yang memikirkan bangsanya. Mereka terpanggil untuk “memberi” kepada bangsanya. Sama sekali tidak ada pikiran, untuk pada suatu saat, bisa “menerima” dari bangsanya.

Kumpul-kumpul di MPB, taruhannya adalah nyawa. Bila penjajah mengetahuinya, maka resikonya, semua pemuda yang ada di sana akan dipenggal batang lehernya. Adakah sumbangsih yang lebih tinggi kepada negara, dari pada sumbangsih untuk menyerahkan jiwa? Itulah manfaat rumah bertingkat (loteng) di Bangsal. Dari loteng itu, akan diketahui semua gerakan manusia yang ada di sekitarnya. Dahulu, di kawasan itu masih penuh dengan hamparan sawah. Itu pulalah sebabnya, di MPB ada juga sebuah goa untuk berlindung. Kalau penjajah diketahui akan datang, maka semua pejuang berlindung di lubang perlindungan.

Di kawasan MPB, tidak hanya ada lubang perlindungan, tetapi ada sungai yang mengalir ke selatan. Sungai itu dimanfaatkan untuk mengalirkan logistik bagi para pejuang yang ada di bagian selatan. Menurut Turahde Puri Kesiman, bahwa pihak Bangsal juga terkadang mengirimkan logistik ke Puri Kesiman, bila ada para pejuang yang sedang berkumpul di Puri Kesiman. Selanjutnya menurut veteran Ide walake Ida Ayu Dewangkara, bahwa kawasan Bangsal juga dimanfaatkan sebagai terminal untuk mengirimkan bantuan bagi para pejuang di kawasan Tabanan.

Bagi saya, nilai-nilai itu adalah nilai kemanusiaan. Yakni membantu sesama manusia yang sedang bertaruh nyawa untuk negerinya. Sedangkan pihak Bangsal yang membantu para pejuang, juga bertaruh nyawa. Memang demikianlah auranya di kala zaman perang. Pokoknya, harus jelas, siapa lawan, siapa kawan. Kawan harus dilindungi, dan lawan harus dibasmi. Meski taruhannya nyawa, namun para pejuang yang terpanggil untuk memberi kepada negaranya, sama sekali tidak hirau. Nilai-nilai kemanusiaan seperti ini hanya dipersembahkan oleh seseorang yang memiliki moralitas.

Bagaimana dengan nilai spiritualitas yang tertanam di MPB? Tampaknya pertemuan di MPB tidak hanya dihadiri oleh para pejuang revolusi fisik yang didukung dengan otot. Tetapi juga dihadiri oleh para pendeta dan pinandita. Tujuannya untuk memohon kepada Tuhan melalui doa-doa, agar perjuangan perang kemerdekaan dapat dimenangkan. Kiranya, bila bukan kehendak Tuhan, maka sulit rasanya kita bisa mengalahkan penjajah yang baru saja memenangkan Perang Dunia II. Tekad bersatu adu, bersemangat juang, nekat, dan didorong oleh doa-doa, semuanya bersinergi, yang akhirnya kita bisa merebut kemerdekaan.

Saya merasakan bahwa semua aktivitas kebangsaan, kemanusian, dan spiritualitas, yang dahulu ditanamkan oleh para leluhur di MPB, dilestarikan oleh generasi Bangsal saat ini. Aktivitas yang dilaksanakan di MPB, inheren dengan nilai-nilai yang tertanam di MPB. Melanjutkan aktivitas nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan spritualisme, dengan berbagai jenisnya. Terlahir di MPB, Korps Menwa Indonesia (KMI) Bali, yang meneruskan nilai-nilai Tentara Pelajar (TP), dan juga menerima penyerahan Duaja TP. Di MPB juga dilahirkan Gerakan Nasional Pembudayaan Panacasila (GNPP) Bali, serta media online Atnews, yang memiliki visi lingkungan, dan budaya.

Generasi Baru Indonesia, atau sekarang disebut sebagai generasi milenial, perlu bercermin pada nilai di MPB. Boleh-boleh saja ada harapan pada langit  masa depan. Tetapi jangan lupa, bahwa kaki harus tetap menginjak bumi masa lalu Indonesia. Masa lalu yang bersejarah. Masa lalu yang penuh dengan tetesan darah, keringat, dan air mata. Masa lalu yang pahit, di mana tidak semua bangsa-bangsa di dunia memilikinya. Merdeka!!! ***

Penulis adalah Ketua Stispol Wira Bhakti dan Ketua Umum DHD Angkatan 45 Prov. Bali.

wartawan
Wayan Windia
Category

Bukan Kekeringan, Ini Penjelasan BPBD Tabanan Terkait Penurunan Air di Telaga Tunjung

balitribune.co.id | Tabanan – Informasi mengenai kondisi Telaga Tunjung di Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan yang disebut mengalami kekeringan langsung ditindaklanjuti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabanan. Kepala Pelaksana BPBD Tabanan I Nyoman Srinada Giri bersama Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik melakukan peninjauan langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Baca Selengkapnya icon click

Atlet IODI Tabanan Borong 4 Medali di Kejurnas Dancesport 2026

balitribune.co.id | Tabanan – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan atlet Ikatan Olahraga Dancesport Indonesia (IODI) Kabupaten Tabanan di tingkat nasional. Tiga pasangan atlet berhasil membawa pulang empat medali, terdiri dari satu medali perunggu dan tiga medali perak pada Kejurnas IODI XVI Tahun 2026 yang berlangsung di Ballroom Hotel Aston Grogol, Jakarta Barat, Sabtu (15/8/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ajak Lestarikan Lingkungan, Wabup Buleleng Lepas 200 Tukik

balitribune.co.id | Singaraja - Pemerintah Kabupaten (pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar, Jumat (21/8/2026). Kegiatan yang menjadi rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini mengusung tema “LESTARI”, akronim dari Lestarikan Ekosistem, Selamatkan Tukik, Asri Republik Indonesia.

Baca Selengkapnya icon click

Pamit Kenal Kepala Lapas Kelas IIB Tabanan, Sinergi dan Pembinaan Warga Binaan Terus Diperkuat

balitribune.co.id | Tabanan – Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, S.Sos., mewakili Bupati Tabanan menghadiri acara Pamit Kenal Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tabanan, bertempat di Aula Candra Prabawa Lapas Kelas IIB Tabanan, Jumat (21/8/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ancaman Kriminalisasi Jurnalis, Desakan Hapus Pasal Bermasalah di UU Pers Menguat

balitribune.co.id | Denpasar - Kondisi kebebasan pers di Bali saat ini dinilai berada dalam fase yang mengkhawatirkan. Wartawan dilaporkan kerap menghadapi gugatan, surat somasi, hingga tekanan hukum saat menjalankan tugas jurnalistik. Situasi tersebut memicu kekhawatiran serius akan runtuhnya independensi pers akibat maraknya praktik penyensoran diri (self-censorship) di kalangan awak media.

Baca Selengkapnya icon click

Program Pegadaian Peduli Salurkan Bantuan Tanggap Darurat Gempa NTT

balitribune.co.id | Flores - Pegadaian bergerak cepat membantu masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) “Pegadaian Peduli”. Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian Pegadaian untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar sekaligus meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.