Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

4 Tahun Pemerintahan Jokowi, Dibayangi Fenomena Bebal Demokrasi

Presiden RI Joko Widodo bersama dengan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla usai jamuan makan siang di kantor Wakil Presiden RI, Jakarta, beberapa waktu lalu.

BALI TRIBUNE - Empat tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo masih dibayang-bayangi polarisasi yang terjadi di tengah masyarakat. Publik seolah terbagi menjadi dua kubu, pendukung Jokowi dan anti Jokowi.  Melihat hal tersebut, pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Adi Prayitno menilai ada fenomena dalam masyarakat yang disebut dengan bebal demokrasi. Adi mengatakan, banyak orang yang tidak rasional dan objektif dalam berpolitik.  Sentimen-sentimen negatif dituduhkan kepada pemerintah, bahkan dibumbui dengan berita bohong atau haoks yang cukup ekstrim. Masyarakat yang bebal politik juga cenderung menutup mata dari kebaikan yang telah dicapai pemerintah, serta mengedepankan emosi yang berdasarkan pada rasa tidak suka.  "Jadi, enggak peduli Jokowi bekerja atau tidak, enggak peduli Jokowi ini sudah berbuat banyak selama empat tahun untuk bangsa, yang penting asal bukan Jokowi aja. Menurut saya ini semacam beban politik, masyarakat cenderung tidak rasional," kata Adi saat dihubungi Kompas.com, Minggu (21/10).  Bahkan, publik yang tergolong anti Jokowi hingga saat ini masih berusaha untuk mengungkit kekalahan Prabowo Subianto di Pilpres 2014, dan menarasikan kemenangan Jokowi sebagai suatu kecurangan. Isu-isu yang cenderung menjurus pada hoaks dan fitnah seperti Jokowi seorang PKI, pro asing, dan anti Islam, terus dimunculkan sekalipun Jokowi telah mengklarifikasi ketidakbenaran isu tersebut.  Meski banyak isu digulirkan dari kubu anti Jokowi, Adi menilai, mantan Gubernur DKI Jakarta itu cenderung cuek. Jokowi menyerahkan segala hoaks dan fitnah kepada penegak hukum. Pendidikan politik harus diperbaiki Meskipun saat ini pendidikan sudah semakin maju dan teknologi komunikasi kian terbarukan, ternyata tak membuat masyarakat menjadi semakin sehat dalam berdemokrasi. Mental model politik publik masih belum berkembang, ditandai dengan adanya polarisasi politik yang kuat.  "Mereka boleh kaya, mereka boleh maju, boleh kenal dengan teknologi yang canggih, tapi mental model politiknya, saya dan mereka, we and the others, kan begitu pola polarisasinya," kata Adi. "Di tengah keberlimpahan informasi dan demokrasi pola pikir kita masih jahiliyah," sambungnya.  Jika hal itu terus dibiarkan, maka akan berbahaya bagi proses demokrasi. Seolah demokrasi berjalan dengan baik, tapi digerogoti secara perlahan dari dalam karena masyarakat terpaut polarisasi.  "Dikhawatirkan ini justru akan menjadi api dalam sekam. Kelihatan demokratis tapi di dalam nilai-nilai demokrasi itu digerogoti secara perlahan," kata Adi. Oleh karenanya, penting untuk membenahi pendidikan politik dalam masyarakat. Publik perlu diberi wawasan yang lebih luas bahwa politik bukan saja soal suka tidak suka. Berpolitik, kata Adi, harus dengan kerendahan hati, mau mengakui kelompok lain yang berprestasi. Elite politik dan tokoh agama bertanggungjawab untuk memberikan pendidikan politik yang baik, Adi menjelaskan, elite politik memegang peran utama. Elite seharusnya mampu mempertontonkan sikap yang rasional dan objektif, tidak hanya memunculkan narasi negatif tanpa kritik yang membangun.  "Kalau Jokowi memang sedang tidak oke enggak apa-apa dikritik secara proporsional, tidak harus memprovokasi dan fitnah," katanya.  Jika elite politik dalam mengkritik tidak proporsional, maka hal itu akan memperkeruh polarisasi yang ada dalam masyarakat. Ucapan yang dikatakan elite akan ditirukan oleh pendukungnya dari kalangan akar rumput.  Selain itu, saat ini dibutuhkan pula peranan dari tokoh agama dalam menciptakan pendidikan politik yang baik.  Sebab, kata Adi, tak jarang tokoh agama justru berceramah dengan materi yang berpotensi menimbulkan kebencian masyarakat. Ujaran kebencian yang digelontorkan oleh para tokoh agama akan membuat umat menjadi tidak rasional dan tidak proporsional dalam mengkritik. Akibatnya, polarisasi kian menguat.  "Tokoh agama boleh mengkritik, tapi juga harus proporsioanal, tapi jangan menghasut. Sampaikanlah apa adanya, karena mereka ini juga panutan," ujar Adi.  Jokowi bekerja, masyarakat menagih di tengah polarisasi yang kuat, menurut Adi, sikap paling bijak yang harus dilakukan oleh Jokowi adalah dengan tetap bekerja. Sementara urusan hoaks dan fitnah, sebaiknya tetap Jokowi serahkan pada pihak kepolisian.  "Jokowi jangan pernah terprovokasi dengan sentimen-sentimen anti dirinya, jangan, hiraukan aja," kata Adi. Namun, di samping itu, masyarakat juga harus terus menagih janji politik Jokowi. Misalnya, mengenai pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai 7 persen, atau nilai tukar rupiah terhadap dolar yang dijanjikan akan menguat.  "Itu menjadi persoalan penting yang juga harus dipikirkan oleh Jokowi di 4 tahun pemerintahannya ini," ungkap dia

wartawan
Redaksi
Category

Jegeg Bagus Jembrana 2026 Harus Jadi Representasi Anak Muda

balitribune.co.id | Negara - Ajang bergengsi pencarian duta pariwisata dan budaya di Bumi Mekepung telah sukses digelar. Setelah melalui proses seleksi yang ketat dan kompetitif, panitia Pemilihan Jegeg Bagus Jembrana (JBJ) 2026 akhirnya resmi menobatkan pasangan pemenang dalam malam puncak Grand Final.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Idul Adha, Ribuan Sapi Gianyar Dikirim ke Luar Bali

balitribune.co.id I Gianyar - Ribuan Sapi Bali milik Peternak Gianyar dikirim ke luar Pulau Bali untuk memenuhi permintaan hewan kurban serangkaian Hari Raya Idul Adha. Dari kuota pengiriman tahun 2026 yakni sebanyak 5.000 ekor, saat ini Sapi Bali asal Gianyar yang sudah dikirim ke luar pulau sudah mencapai 2.000 ekor. 

Baca Selengkapnya icon click

Walikota Jaya Negara hadiri Karya Ngresigana, Melaspas, Mupuk Pedagingan dan Piodalan di Banjar Graha Shanti, Desa Tegal Kertha

balitribune.co.id | Denpasar - Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara Berkesempatan Menghadiri Karya Ngresigana, Melaspas, Mupuk Pedagingan dan Piodalan di Banjar Graha Shanti, Desa Tegal Kertha, Denpasar Barat, pada Sukra Pon Kulantir, Jumat (1/5/2026). Upacara ini dilaksanakan setelah bangunan bale kul-kul dan tembok penyengker Balai Banjar Graha Santhi tuntas direnovasi. 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Telat Bayar dan Lapor Pajak? DJP Beri Penghapusan Denda hingga 1 Bulan

balitribune.co.id | Jakarta - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan relaksasi bagi wajib pajak badan dalam pelaporan dan pembayaran pajak tahun buku 2025. Kebijakan ini diumumkan melalui siaran pers pada Kamis (30/4/2026), sebagai bagian dari penyesuaian implementasi sistem inti administrasi perpajakan.

Baca Selengkapnya icon click

Dua Kali Pimpin Bali, Yohanes Kurniawan Kini Ditugaskan ke Astra Motor Palembang

balitribune.co.id | Denpasar - Kursi pimpinan Astra Motor Bali kini berganti. Jabatan Kepala Wilayah yang selama ini dipegang oleh Yohanes Kurniawan sejak April 2022 akan beralih. Terhitung mulai Mei 2026, Kurniawan ditugaskan sebagai Kepala Wilayah Astra Motor Palembang. “Mutasi dan perubahan pimpinan di kalangan Honda Sales Operation (HSO) memang rutin diadakan sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan ke depannya,” ungkap Yohanes Kurniawan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.