Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Bupati Mahayastra Berbicara Tentang Subak dan Pertanian

Bali Tribune /Wayan Windia - Guru Besar (E) pada Fak. Pertanian Unud dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Made Sanggra, Sukawati.

balitribune.co.id | Bupati Gianyar, Made Mahayastra adalah “orang pariwisata”. Pendidikannya di bidang pariwisata, dan  juga sekaligus sebagai praktisi di bidang pariwisata. Jarang saya dengar ia berbicara tentang subak dan pertanian. Karena gerak-geriknya selama ini lebih fokus di bidang pariwisata, peningkatan PAD, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan kepemudaan.

Tetapi berbeda halnya ketika diadakan acara pertanggung-jawaban publik, setelah dua tahun kepemimpinannya (bersama wakil bupati Anak Agung Mayun). Acara itu diadakan dengan sederhana (lesehan), dengan prokes yang ketat, di areal belakang Kantor Bupati Gianyar (20/9) ybl.

Karena diundang, saya hadir dalam acara itu. Saya agak terkejut, ketika Bupati Mahayastra ber-orasi tanpa teks. Ia berbicara dengan lancar tentang pelayanan rumah sakit dengan sistem online, berbicara tentang infrastruktur jalan, berbicara tentang pembangunan wantilan di desa adat, angkutan murid, dan berbicara tentang pelayanan kepada masyarakat secara umum. Ia ingin agar masyarakat Gianyar memahami ala-kadanya tentang teknologi informasi. Sehingga pelayanan di rumah sakit dapat lebih tertib, dan ada kepastian.

Ia juga tak segan-segan mengancam bawahannya yang tidak bekerja. Ia terus menekankan agar OPD bekerja dengan programnya yang menyentuh kepentingan rakyat. “Kalau tidak, maka programnya tidak akan saya biayai. OPD itu akan saya berikan gaji saja. Bahkan untuk membeli kertas pun, tidak akan saya berikan. Untuk apa kertas, karena OPD itu tidak ada pekerjaan” katanya tegas. Dengan penegasan itu, saya baru paham bahwa Bupati Mahayastra adalah seorang pekerja keras. Ia bekerja mulai dari jam 6 pagi, hingga jam 10 malam.

Akhirnya ia berbicara tentang subak dan pertanian. Bahwa ia sangat bangga, karena Kabupaten Gianyar adalah satu-satunya pemda yang sudah memiliki Perda tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Ia ingin agar lahan sawah di Gianyar bisa bertahan abadi, sesuai dengan kesepakatan masyarakat (subak). Ia ingin agar petani senang dan bangga sebagai petani. Pemkab Gianyar, akan memberikan insentif yang cukup bagi petani (subak) yang bersedia ikut dalam program LP2B tsb. Kalau subak sudah menanda-tangani kesepakatan, lalu pihak subak melanggar (meng-konversi sawah), maka subak itu akan dikenakan sanksi (pinalti).      

Bagi saya, ide Bupati Mahayastra sangat baik. Yakni memberikan insentif kepada petani (subak) yang bersedia ikut dalam kegiatan LP2B. Kalau petani tidak diberikan insentif sesuai perda, maka banyak sekali petani di Gianyar akan menjual sawahnya. Saat ini rata-rata pengurangan sawah di Bali adalah 2800 ha/tahun (tahun 2014-2018). Jumlah sawah di Bali kurang dari 70.000 ha. Dengan demikian dapat dikalkulasi, kapan kira-kira sawah di Bali akan habis. Salah satu kebijakan strategis yang bisa dilakukan adalah melalui Perda LP2B tsb.

Hanya sayang, Perda LP2B itu masih memerlukan waktu yang agak lama untuk pelaksanaannya. Kenapa? Karena masih diperlukan sebuah peraturan bupati (perbup). Karena kawasan subak yang mana,  dan kawasan sawah yang mana yang masuk dalam LP2B, harus masuk dalam Peraturan Bupati (sesuai amanat Perda LP2B). Oleh karenanya, yang kini perlu segera dilaksanakan adalah segera membuat perbup, sebagai penjabaran dari Perda tsb. Tetapi Bupati Mahayastra sudah ada ancang-ancang. Bahwa paling tidak, lahan sawah milik pemerintah harus diabadikan. Setelah itu, barulah diadakan dialog dengan pihak subak, untuk mencari kesepakatan, tentang lahan sawah yang akan dilestarikan.

Bagaimana dengan petani di lahan kering (subak-abian) yang mengelola tanaman hortikultura? Bupati Mahayastra berpikir tentang industri-hilir. Bahwa ia merasa kasihan dengan produksi jeruk dll yang berlimpah, dan harganya jatuh berkeping-keping. Oleh karenanya, ia akan melaksanakan program pengembangan industri hilir, untuk mengolah bahan baku (jeruk dll) yang melimpah ruah tsb. Bisa saja dengan program pembuatan jus-jeruk, Jely dan jam-jeruk, dll.

Lalu kemana dipasarkan produk tsb? “Ya, di hotel dan vila yang ada di Gianyar” katanya. Saya usul, agar produk jus-buah tsb juga disediakan untuk kantor bupati dan semua OPD yang ada di Gianyar. Kalau ada tamu yang datang, maka jamuannya adalah jus jeruk. Tidak lagi harus teh atau kopi. Demikian juga kalau ada kegiatan seminar, rapat, dll. Maka pada saat istirahat minum, maka minumnya tidak lagi harus teh dan kopi. Bisa diganti dengan air putih (produksi Perusda) dan juga bisa jus jeruk dll produksi subak.

Bagi saya, ide utuk pengembangan industri hilir, sudah cukup lama saya gembar-gemborkan. Karena dengan satu unit investasi yang tidak besar, bisa menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Jauh lebih besar, kalau dibandingkan unit investasi itu di-investasi-kan di sektor tersier (pariwisata). Di samping itu, pengembangan industri hilir, bisa merangsang kegiatan di usahatani yang lebih besar. Yakni bisa merangsang tiga kali lipat lebih besar, bila dibandingkan dengan pengembangan industri hulu.

Saya berharap agar Bupati Mahayastra bisa konsisten dalam komitmennya dalam pengembangan sektor pertanian dan perlindungan subak. Karena eksistensi sektor pertanian, tidak saja berpengaruh pada ketahanan pangan, tetapi juga berpengaruh pada eksistensi kebudayaan Bali. Prof. Nyoman Sutawan berpendapat bahwa kalau sawah dan subak di Bali hilang, maka kebudayaan Bali juga akan goyah dan lenyap. Kapan subak di Bali akan hilang? Menurut Dr. Made Geriya, yakni pada tahun 2030. Kalau tidak ada perubahan kebijakan yang strategis dari pemda di Bali.      

wartawan
Wayan Windia
Category

TP. PKK Badung Salurkan 200 Paket Olahan Ikan di Desa Getasan

balitribune.co.id | Mangupura - Ketua TP PKK Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, menghadiri kegiatan penyaluran paket olahan ikan melalui Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Kegiatan yang bertujuan mencegah kekurangan gizi dan menekan angka stunting ini digelar di Balai Banjar Buangga, Desa Getasan, Kecamatan Petang, Badung, pada Rabu (13/5).

Baca Selengkapnya icon click

Badung Siapkan Rekayasa Arus di Pecatu, Akses Wisata Uluwatu Ditarget Lebih Lancar

balitribune.co.id | Mangupura - Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Perhubungan mulai mematangkan rekayasa lalu lintas di kawasan Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, sebagai langkah jangka pendek mengurai kemacetan menuju kawasan pariwisata Uluwatu.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Wujud Toleransi, Umat Lintas Agama di Denpasar Antusias Ikuti Prosesi Pindapata

balitribune.co.id | Denpasar - Sebanyak delapan Bhikku dari Vihara Buddha Sakyamuni menggelar tradisi Pindapata di sepanjang Jalan Gunung Agung, Denpasar, pada Kamis (14/5/2026). Prosesi ini dilaksanakan sebagai rangkaian menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 yang jatuh pada 31 Mei mendatang.

Baca Selengkapnya icon click

Proyek SJUT Sanur Rampung 100%, Pemkot Denpasar Beri Waktu 3 Bulan Bagi Provider untuk Pindah Jalur

balitribune.co.id | Denpasar - Pekerjaan konstruksi proyek Sarana Jaringan Utilitas Terpadu Infrastruktur Pasif Telekomunikasi (SJUT-IPT) di kawasan Sanur resmi tuntas 100%. PT Sarana Utilitas Optimal (SUO) selaku Badan Usaha Pelaksana (BUP) telah menyerahkan hasil pembangunan tersebut kepada Perumda Bhukti Praja Sewakadarma (BPS) Kota Denpasar melalui penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST), Rabu (13/5/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Indonesia Rugi Rp9 Triliun Akibat Penipuan Online, ASEAN Memperkuat Upaya Penanggulangan

balitribune.co.id | Denpasar - Di Indonesia sepanjang tahun 2025 tercatat lebih dari 411.000 laporan kasus penipuan online dengan estimasi kerugian finansial mencapai sekitar USD 550 juta atau setara Rp9 triliun, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC).

Baca Selengkapnya icon click

Bukan Ribet Malah Cuan, Ibu Rumah Tangga di Tabanan Raup Tabungan dari Bank Sampah

Gerakan Pilah dan Kelola Sampah dari Rumah mendapat respons positif dari masyarakat. Salah satunya datang dari Ni Made Serly Liana Dewi, warga Desa Dauh Peken Kecamatan Tabanan, yang menilai kebijakan pembatasan sampah ke TPA menjadi dorongan bagi masyarakat untuk mulai berubah dan lebih bertanggung jawab dalam mengelola sampah dari rumah.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.