Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Cerita Opium

IGM. Pujastana

Bali Tribune-Biang kerok itu adalah buah opium. Apabila terluka, buah itu akan menangis menitikan airmata getah putih kental. Setelah kering, getah itu berubah warna jadi coklat yang disebut opium mentah. Kalau opium mentah itu diekstrak lagi maka lahirlah morfin. Morfin yang diekstrak lebih lanjut akan menghasilkan heroin. Limbah ekstrasi ini dapat diolah lagi untuk menghasilkan narkotika murah seperti sabu-sabu” (metamfetamia), disingkat meth. 

Meth sesungguhnya adalah obat resep untuk kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian atau narkolepsi dengan nama dagang Desoxyn. “Crystal meth” adalah sabu berbentuk kristal yang dapat dihisap lewat pipa. Sekalipun daerah segitiga emas Asia Tenggara (persilangan Thailand, Kamboja dan Myanmar) dan Afghanistan adalah penghasil opium utama dunia tapi metamfetamina pertama kali  dibuat oleh Orang Jepang bernama Nagai Nagayoshi di tahun 1893.  Negara yang memiliki pecandu narkotika, termasuk sabu dan heroin, terbanyak di dunia adalah Iran yang letaknya bersebelahan dengan Afganistan,  kira-kira lima juta orang atau 2,5 persen dari seluruh populasi. Produk opium yang umum dikonsumsi adalah heroin atau methamphetamine Kristal (sabu-sabu) yang di negara itu kenal sebagai shisheh. Selain mengkonsumsi untuk dirinya sendiri, Iran juga aktif mengirim sabu ke Indonesia. Ditambah dengan kiriman dari  Malaysia, Thailand dan Kamboja maka Indonesia menjadi pasar sabu terbesar dunia. 

Menurut situs House of Opium Sejarah (sebuah museum di propinsi Chiang Rai di Thailand) opium dimulai sekitar 4500 tahun lalu saat para petani Mesopotamia (terletak di Irak sekarang) mulai menanamnya untuk narkotika dan obat. Opium lalu jadi komoditi penting di Asia. Bangsa Inggris bahkan rela berperang dua kali dengan Tiongkok di tahun 1800-an demi “emas hitam” itu. Di akhir tahun 1900-an, perdagangan opium menciptakan kawasan Segitiga Emas. Tempat kediaman para pedagang Opium itu adalah bagian dari tiga negara yang meliputi lebih dari 100.000 kilometer persegi pegunungan dan membentuk sebuah segitiga atau semacamnya. Dua buah sungai besar, Mekong dan Ruak, bersatu di tengah daerah itu.

Menurut buku terbitan tahun 2010 berjudul Issues for Engagement: Asian Perspectives on Transnational Security Challenges, sampai hari ini, “obat terlarang memasuki Kamboja dari daerah Segitiga Emas di sepanjang perbatasan-perbatasan Thailand, Laos dan Birma.” Lalu melalui Kamboja menuju Thailand dan Vietnam untuk diekspor. 

Negara-negara Segitiga Emas telah matang membuat dan mengedarkan obat terlarang. Laboratorium tersembunyi  ditunjang oleh sindikat kejahatan yang secara teratur membuat obat-obat terlarang di daerah-daerah Kamboja yang jarang penduduknya. Perbatasan-perbatasan yang bercelah lalu dapat memancing para penyelundup melewati hutan-hutan terpencil Thailand  dan menjadikannya “tempat pemindahan muatan dan importir bersih obat perangsang jenis amphetamine,”  demikian menurut Laporan Kebijakan Pengendalian Narkotika Internasional dari Departemen Luar Negeri A.S. beberapa tahun lalu, Menurut laporan tersebut, sabu-sabu diperdagangkan dari Birma melewati perbatasan utara Thailand untuk diekspor secara internasional. Kemungkinan obat-obatan terlarang dibawa dari Birma melalui Laos dan menyeberangi Sungai Mekong memasuki Thailand. Laporan itu menambahkan bahwa para penyelundup juga membawanya ke selatan melalui Laos menuju Kamboja di mana mereka masuk lewat perbatasan Thai-Kamboja. Jumlah tablet sabu yang diedarkan dari Segitiga Emas diduga telah meningkat jumlahnya. Kabarnya pihak berwajib di propinsi Yunnan, China pernah menyita 2,4 ton sabu. Cina dan India merupakan penghasil besar ephedrin dan pseudoephedrin yang digunakan dalam pembuatan sabu-sabu. 

Bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia, opium telah menimbulkan kerusakan yang parah terhadap kualitas kehidupan. Opium adalah produk perdagangan yang luar biasa mengerikan. Opium tak ubahnya emas hitam kiriman dari neraka yang akan membuat pemakainya  menderita seumur hidup dan Indonesia sebagai pasar sabu-sabu terbesar dunia sepertinya sudah waktunya melakukan gerakan nyata penanggulangan sebelum emas hitam ini benar-benar membuat Negara kita menjadi neraka!

wartawan
IGM. Pujastana
Category

Ditengah Dinamika Ekonomi, Bank Terus Mengembangkan Solusi Keuangan Terintegrasi

balitribune.co.id | Denpasar - Tahun 2026 ini kinerja bank menunjukkan kekuatan model bisnis yang seimbang antara pertumbuhan dan kehati-hatian. Bahkan bank pun masih mencatatkan keuntungan ditengah dinamika ekonomi. Presiden Direktur salah satu bank swasta, Parwati Surjaudaja mengatakan, bank melihat momentum pertumbuhan yang tetap terjaga di awal tahun 2026. 

Baca Selengkapnya icon click

Ketua DPRD Badung Hadiri Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 dan Seminar Pendidikan

balitribune.co.id | Mangupura - Ketua DPRD Badung, I Gusti Anom Gumanti, menghadiri kegiatan Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh PGRI Cabang Kuta Utara di SMK Pratama Widya Mandala. Jumat (1/5/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ketua DPRD Badung Hadiri Sosialisasi Rencana Pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali

balitribune.co.id | Mangupura - Rencana pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali di kawasan bekas Sari Club, yang merupakan titik utama tragedi Bom Bali 2002, mulai disosialisasikan kepada masyarakat. Sosialisasi digelar di Balai Banjar Pengabetan, Kuta, Sabtu (2/5/2026), sebagai bagian dari tahapan awal pembangunan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

May Day Denpasar: Kolaborasi, Bukan Aksi

balitribune.co.id I Denpasar - Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Kota Denpasar berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan di Pantai Sidakarya, Jumat (1/5/2026). Mengusung tema Kolaborasi Bersama Mewujudkan Kemajuan Industri dan Kesejahteraan Pekerja, momentum ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus apresiasi bagi ribuan pekerja di ibu kota Provinsi Bali tersebut.

Baca Selengkapnya icon click

Terminal Wangaya Lumpuh, Pedagang Bunga Kembali Menjamur

balitribune.co.id I Denpasar - Matinya moda transportasi umum di Kota Denpasar berdampak pada beralihfungsinya sejumlah terminal menjadi pasar. Salah satunya terlihat di Terminal Wangaya, Kamis (30/4/2026). Meski sempat ditertibkan pada 2021 lalu untuk dikembalikan ke fungsi awal sebagai simpul transportasi, kini para pedagang bunga kembali menduduki kawasan tersebut.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.