Diposting : 8 August 2018 09:57
Agung Samudra - Bali Tribune
Ketua PHDI Bangli, I Nyoman Sukra
BALI TRIBUNE - Guncangan gempa berkekuatan 7 SR  yang terjadi Minggu (5/8) lalu mengakibatkan sejumlah tempat suci (pura,red) di wilayah Bangli rusak. Untuk perbaikan tempat suci dimaksud, warga pun mendatangi PHDI setempat guna meminta petunjuk.
 
Perihal banyaknya warga yang berkoordinasi ke lembaga itu dibenarkan Ketua PHDI Bangli, I Nyoman Sukra. Dia menyebutkan, kedatangan warga lebih banyak pada  persoalan, bagaimana proses pembangunan kembali sebuah tempat suci yang rusak oleh bencana.
 
“Mereka berkoordinasi untuk meminta petunjuk terkait proses pembanguan kembali tempat suci yang rusak  akibat gempa,” terang Sukra, Selasa (7/8) kemarin.
 
Dikatakan, proses perbaikan tempat suci (pura) akibat gempa harus dilakukan layaknya membangun sebuah tempat suci baru. Oleh karenanya, perbaikan pura hendaknya dikoordinasikan dengan pengempon pura serta mengacu pada kemampuan umat.
 
“Memang kalau ada keinginan mengganti dengan yang baru itu sah-sah saja asalkan tidak menjadi beban bagi pengempon,” ucapnya.
 
Lebih jauh  mantan Kadisdikpora Bangli ini menjelaskan, perbaikan dapat mempergunakan materi sebelumnya asalkan didahului dengan prosesi ritual pemrayascita  (ritual pembersihan,red).
 
 “Tujuannya adalah, menghilangkan segala keletehan (kekotoran,red) materi yang akan digunakan kembali ,” jelasnya.
 
Setelah bangunan suci rampung, dilanjutkan dengan menggelar ritual pemelaspas, mendem pedagingan serta ngenteg linggih.
 
“ Prosesi ini bertujuan untuk mengembalikan kesucian atau kesakralan bangunan suci dimaksud,” imbuh tokoh agama asal Br. Blungbang Kelurahan Kawan itu.
 
Pada akhir pembicaraan, Sukra kembali menekankan tingkatan ritual untuk mengembalikan kesakralan pura hendaknya dilaksanakan sesuai dengan kemampuan pengempon pura.