Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Dua Wajah Bangsa Antara Moralitas Politik dan Pendidikan

Bali Tribune / I Komang Warsa - seorang pendidik, Bendesa dan Majelis Adat Kecamatan Rendang

balitribune.co.id | Ketika membicarakan arah dan nasib bangsa maka politik dan pendidikan menjadi dua pilar yang amat penting dan saling beririsan. Pada politiklah panggung pengambilan keputusan dalam menentukan arah kebijakan  pendidikan serta tempat lahirnya segala regulasi untuk mengatur arah jalan pendidikan nasional. Dan di sisi lain, pendidikan merupakan fondasi yang membentuk karakter dan moralitas bangsa, baik itu moralitas politik, moralitas demokrasi bahkan moralitas hukum sebagai etika keadaban yang patut dijaga dan diimplementasi agar menjadi bangsa yang bermartabat. Semua itu sepatutnya dibentuk di rumah pendidikan sebagai  rumah peradaban karakter.  Kemampuan generasi muda untuk menjaga karakter bangsa secara holistik satu dambaan. Idealnya rumah pendidikan adalah salah satu rumah untuk mencetak anak bangsa yang cerdas berkarakter. Sayangnya, kedua pilar yakni moralitas politik dan pendidikan  sering kali berjalan tidak harmonis yang semestinya harus beririsan.  Dua wajah yang terkadang saling berlawanan dalam sebuah kepentingan di antara pendidikan dan kempentingan politik yang terkadang mengabaikan moralitas terutama dalam perhelatan politik. Pendidikan  menjanjikan dan mengajarkan idealisme moral, etika sebagai peradaban karakter. Sementara politik dikepung oleh ambisi dan kepentingan yang terkadang mengabaikan etika, moralitas.

Program pendidikan politik dan politik pendidikan mesti diperkenalkan pada wilayah pendidikan menengah dalam belajar berdemokrasi melalui P5 yakni suara demokrasi seperti pemilihan OSIS, pemilihan MPK di sekolah. Rumah karakter yang disebut sekolah tempat anak-anak mendidik pikiran dan hati yang berbuah  akhlak sebagai bekal dalam melanjutkan kehidupan yang bermartabat. Pendidikan politik menjadi sangat penting agar demokrasi kita tidak seperti pasar gelap demokrasi yang penuh caci maki ketika ada perhelatan demokrasi. Dua wajah bangsa seakan saling berbenturan antara menjungjung nilai pendidikan dengan sebuah kepentingan politik. Pendidikan mengedepankan etika moralitas sedangkan politik mengdepankan kepentingan dengan mengabaikan aspek etika moralitas sebagai legalitas normatif. Ironisnya, ketika politik mengintervensi terlalu jauh dalam proses pendidikan di sekolah, lahirlah degradasi yang tak terelakkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, degradasi pendidikan di Indonesia tampak semakin jelas, terutama ketika kita menyoroti kebijakan-kebijakan yang secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh kepentingan politik. Ambil contoh penerimaan siswa baru, menerapkan disiplin sekolah  yang  sering kali dibayangi oleh kepentingan dan intervensi politik, terkadang menuaikan protes dari kalangan masyarakat. Intervensi ini mengakibatkan guru menjadi setengah hati untuk mendisiplinkan siswa hanya ingin berada pada zona nyaman  dan berdampak akan rusaknya nilai-nilai dasar pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang seharusnya berfungsi untuk menumbuhkembangkan kemampuan dan karakter justru dipolitisasi, sehingga para siswa dan guru sering kali menjadi korban dari sistem yang cenderung lebih mengutamakan kecerdasan intelektual  daripada karakter. Amanat UUD 1945 terkadang diabaikan dengan munculnya dikriminasi pendidikan hanya karena melihat keunggulan akademis semata abai dengan yang lain. Munculnya sekolah unggulan, RSBI, sekolah Bali mandara adalah salah satu bentuk diskriminasi pendidikan karena hanya melihat dari satu aspek saja, kepinteran. Semua anak dalam usia pendidikan berhak atas pendidikan di sekolah tanpa membedakan gender, kaya miskin, dan bodoh pintar. Semua itu bagian dari tanggung jawab negara dan negara harus hadir.

Tahun demi tahun, kita melihat betapa seringnya kebijakan pendidikan berganti arah karena pergantian pemimpin. Setiap kali terjadi perubahan kebijakan, tenaga pendidik dihadapkan pada tuntutan adaptasi, yang tidak selalu selaras dengan kebutuhan siswa atau kualitas pembelajaran. Ketidakpastian ini pada akhirnya memperburuk kualitas pendidikan dan menurunkan moralitas dalam institusi pendidikan, karena yang diutamakan semata akademis dan digitalisasi tanpa melihat hakikat dari pendidikan itu sendiri. Seharusnya, pendidikan dapat menjadi aset yang beririsan dengan politik secara saling menguntungkan. Jika pendidikan dikelola dengan prinsip profesionalisme, tanpa intervensi politik berlebihan, maka cita-cita menuju Indonesia Emas bukanlah sebuah utopia. Kebijakan yang dibuat secara objektif, berdasarkan kebutuhan pendidikan itu sendiri dan jauh dari kepentingan politik, akan mendorong terciptanya generasi yang siap bersaing di panggung kesejagatan.

Gagasan besar ini hanya akan terwujud jika ada kemauan dari para pemimpin politik untuk memprioritaskan kepentingan pendidikan di atas ambisi pribadi atau kelompok. Pada akhirnya, keberhasilan bangsa ini tidak hanya diukur dari pencapaian politik, tetapi dari kemampuan kita membentuk generasi yang berkarakter dan berkompeten melalui sistem pendidikan yang bebas dari intervensi yang menghalangi kemajuan.

wartawan
I Komang Warsa
Category

Tak Hanya Panggung Kreativitas Ogoh-Ogoh, Badung Caka Fest Putar Ekonomi Hingga Rp 1,49 Miliar

balitribune.co.id | Mangupura - Dalam sambutannya di Badung Caka Fest Tahun 2026 beberapa waktu lalu, Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, mengatakan bahwa Badung Caka Fest tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi antara seni, kreativitas, dan penguatan ekonomi masyarakat.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Tanah Merayap di Lokapaksa Berstatus Waspada, BMKG Pastikan Bukan Dipicu Aktivitas Tektonik

balitribune.co.id I Singaraja - Fenomena tanah merayap yang terjadi di Banjar Dinas Sorga Mekar, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, mendapat perhatian dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Hasil kajian awal disebut tanah merayap tersebut bukan dipicu aktivitas tektonik.

Baca Selengkapnya icon click

Wawali Arya Wibawa Hadiri RUPS PT Jamkrida Bali Mandara

balitribune.co.id | Denpasar - Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Jamkrida Bali Mandara (Perseroda) Bali Tahun 2026 di Gedung Wiswa Sabha, Kantor Gubernur Bali, Selasa (10/32026). RUPS ini dilaksanakan atas amanat AD/ART perseroan serta UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang RUPS tahunan yang wajib dilaksanakan paling lambat 6 bulan setelah tahun buku berakhir. 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Sidak Pasar Jelang Hari Raya, Harga Stabil dan Ketersediaan Bahan Pokok Terkendali

balitribune.co.id | Tabanan - Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Tabanan menggelar inspeksi mendadak (sidak) pemantauan harga kebutuhan pokok di Pasar Kediri, Senin (10/3/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan harga bahan pokok selama bulan Ramadan sekaligus menjelang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri.

Baca Selengkapnya icon click

Sikat Agung 2026, Polres Gianyar Ungkap 61 Kasus Kriminal

balitribune.co.id I Gianyar - Sebulan Operasi Sikat Agung 2026, pengungkapan kasus kriminal di wilayah Gianyar sangat mencengangkan. Tidak tangung-tanggung, dalam sebulan 61 kasus berhasil diungkap dengan 58 tersangka diamankan. Hasil ini dibeber dalam konferensi pers di Mapolres Gianyar, Selasa (10/3/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.