Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

FOKUS : Pancasila, Komunisme dan Indonesiaisme

gaga
Ida Bagus Gaga

Oleh: Drs. I.B Gaga Adi Saputra, MSi

Presiden Joko Widodo  telah menandatangani Surat Keputusan Presiden terkait penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Sebelumnya, Jokowi mengungkapkan keberadaan Pancasila sebagai dasar negara merupakan sebuah anugerah. Berkat Pancasila, Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dan memiliki 17 ribu pulau dengan beragam latar belakang rakyatnya tetap bisa hidup bersama dan membangun toleransi. Dengan kata lain, bagi Bangsa Indonesia, Pancasila telah terbukti ‘benar-benar sakti” karena mampu berlaku sebagi rem perekat kebhinekaan dan mengubahnya menjadi persatuan Indonesia.

Tetapi Pancasila sebagai ideologi agaknya akan terus-menerus diusik oleh rasa takut dengan kemunculan kembali ide-ide yang tak masuk akal dan tak lagi laku macam komunisme. Keppres Hari Lahir Pancasila sendiri ditandatangani Presiden di tengah silang pendapat  mengenai cara terbaik bagi bangsa ini dalam memberlakukan masa lalu, yaitu pemberontakan G 30 S PKI,  agar Indonesia  dapat berjalan terus  ke masa  depan tanpa terganggu sejarah bangsa yang paling getir tersebut. Belum lagi diperoleh solusi atas masa lalu yang getir itu, kini telah ramai lagi dibicarakan adanya usaha untuk menghidupkan ajaran komunisme di Indonesia. Menurut  Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, belakangan ini kemunculan lambang-lambang komunisme di Jakarta dan beberapa daerah kembali marak. Tapi bukankah TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 masih berlaku hingga dapat  bertindak sebagai benteng kokoh dalam menghadang penyebaran ide-ide komunisme? Lagi pula, bukankah sebagai bangsa Indonesia sudah mantap untuk  mengakui Kesaktian Pancasila sehingga tak rentan dari segala macam penyakit komunisme?

Sebagai ideologi bangsa, Pancasila  memang selalu menghadapi resistensi dari ajaran yang bertentangan dengan hakekatnya, khususnya komunisme.  Tapi apakah ideologi  komunisme yang berintikan pada perjuangan kelas layak untuk kita khawatirkan akan menjadi resistensi abadi dari Pancasila? Ideologi komunis adalah Marxisme-Leninisme, artinya Marxisme sebagaimana yang ditafsirkan oleh Lenin (bapak komunisme) yang di Indonesia mendapatkan wujudnya dalam bentuk Partai Komunis Indonesia. Tetapi komunisme yang bertumpu pada perjuangan kelas secara hakekat tidak sesuai dengan nilai-nilai Indonesiaisme, yaitu bangsa yang berideologi Pancasila dimana idealisasinya adalah keharmonisan antar kelas.

Pancasila tidak muncul sebagai ideologi Bangsa Indonesia dalam waktu semalam melainkan melalui perjalanan panjang ribuan tahun dari Indonesiaisme. Sebagai rangkuman ide berusia ribuan tahun,  Pancasila tidak akan mudah digerogoti oleh  “ideologi kemarin sore” macam komunisme. Pancasila bukan hanya Ideologi Bangsa Indonesia. Pancasila adalah Indonesiaisme itu sendiri dan Indonesiaisme adalah  hakekat Bangsa Indonesia.    

Sebuah bangsa kata Ilmuwan politik Cornell University,  Benedict Richard O'Gorman Anderson,  adalah komunitas yang dibayangkan (Imagined Communities). Sebagai sebuah komunitas yang dibayangkan maka sebuah bangsa sesungguhnya adalah realitas pikiran yang diubah menjadi sesuatu yang kasat mata oleh nilai-nilai dasar (sila) yang berlaku dalam komunitas tersebut. Nilai-nilai dasar itulah yang kemudian bertindak sebagai penuntun dan pemberi arah bagi perjalanannya. Akan halnya Bangsa Indonesia,  ideologi atau nilai-nilai dasar yang disepakati bersama adalah lima sila (Pancasila) yang kita yakini “memiliki kesaktian” untuk tetap kokoh  dalam gempuran ‘ideologi aneh’ pasokan  bangsa lain, entah itu komunisme atau kapitalisme.

Secara legal-formal, Indonesia sepakat bahwa Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni. Tetapi sesungguhnya secara filosofis, Pancasila  lahir jauh sebelum tanggal tersebut, yaitu saat Indonesia masih berupa kumpulan kerajaan-kerajaan kecil,   benih yang tercerai berai dan kemudian digali oleh Bung Karno untuk ditampilkan tinjunya demi kejayaan Indonesiaisme. Pancasila adalah ismenya Indonesia.  Ismenya Indonesia adalah Pancasila! Untuk itu maka riak-riak kecil yang kita anggap sebagai pertanda kebangkitan komunisme tidak harus mengecilkan makna Kesaktian Pancasila. Bagaimanapun riak-riak kecil  akan selalu hancur dihantam gelombang besar Pancasila.

Bagi kita Bangsa Indonesia, kewaspadaan tidak perlu harus diarahkan sepenuhnya pada ancaman komunisme. Perhatian harus lebih dipusatkan pada sumber mata air dari ajaran-jaran radikal, termasuk komunisme, yaitu kesenjangan sosial dan kehilangan martabat sosial dari kelompok sosial tertentu. Hanya dengan menangani secara serius kedua hal tersebut maka ancaman komunisme dan terorisme tidak akan pernah menggerogoti Pancasila dan meruntuhkan Indonesiaisme yang memiliki hakekat keragaman. Bukankah kesenjangan sosial dan hilangnya martabat sosial kelompok masyarakat tertentu adalah lahan subur bagi bangunnya komunisme dan radikalisme? Bangsa Indonesia yang dianugerahi keragaman suku ras dan agama memiliki ancaman yang lebih nyata dan menakutkan dari komunisme dalam hal “keporakporandaan sosial” atau disintergrasi sosial. Sejarah bangsa-bangsa di dunia menunjukkan bahwa elemen-elemen suku, ras dan agama adalah faktor-faktor potensial penyebab disintegrasi sosial atau “keporakporandaan sosial.”

Indonesia sendiri dalam sejarahnya tidak terlepas dari ancaman disintegrasi akibat perbedaan etnis, ras  dan agama. Nasionalisme Indonesia atau paham Indonesiaisme terus menerus mengalami tantangan berbahaya dalam wujud disintegrasi bangsa yang jauh lebih nyata berbahaya daripada sekadar ancaman kebangkitan komunisme.

Penulis adalah  alumnus Fisipol Universitas Gajahmada (UGM), Yogyakarta, saat ini menjabat  Sekda Kabupaten Gianyar

wartawan
habit
Category

Rakerkomwil IV APEKSI di Denpasar Ditutup dengan Pelepasan Tukik

balitribune.co.id I Denpasar - Rangkaian kegiatan Rapat Kerja Komisariat Wilayah (Rakerkomwil) IV ke-21 Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Kota Denpasar resmi ditutup pada Sabtu (23/5/2026). 

Penutupan acara berlangsung hangat dan penuh kebersamaan, diisi dengan yoga bersama hingga pelepasan tukik di kawasan Pantai Sanur sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian ekosistem pesisir.

Baca Selengkapnya icon click

Virus ASF 'Hantui' Peternak, Tim Disperpa Badung Cek Puluhan Babi Mati Misterius di Canggu

balitribune.co.id I Mangupura - Ancaman Virus African Swine Fever (ASF) kembali menghantui peternak babi di Badung. Puluhan ekor babi di kawasan Banjar Kayu Tulang, Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara dilaporkan mati mendadak dengan gejala mengarah kuat pada serangan virus mematikan tersebut.

Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kabupaten Badung pun langsung bergerak cepat setelah informasi kematian ternak itu ramai diperbincangkan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Sapi “Kliwon” Asal Abianbase Gianyar Jadi Pilihan Kurban Presiden RI

balitribune.co.id I Gianyar - Prestasi membanggakan diraih peternak muda asal Banjar Pekandelan, Kelurahan Abianbase, Gianyar, I Kadek Astitiya. Sapi Bali miliknya yang diberi nama “Kliwon” resmi terpilih sebagai hewan kurban Presiden RI Prabowo Subianto untuk Hari Raya Idul Adha tahun 2026.

Baca Selengkapnya icon click

Permudah Warga Bayar Pajak, Bupati Sutjidra Resmi Luncurkan Mobil Samsat Keliling

balitribune.co.id I Singaraja - Pemerintah Kabupaten Buleleng kembali menghadirkan inovasi pelayanan publik dengan meluncurkan Mobil Samsat Keliling di arena Car Free Day Singaraja, Minggu (24/5/2026). Layanan tersebut dihadirkan untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan pembayaran pajak kendaraan bermotor tanpa harus datang langsung ke kantor Samsat.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Jelang Hari Tri Suci Waisak, Umat Buddha Denpasar Gelar Pattidana untuk Leluhur

balitribune.co.id I Denpasar - Menyambut perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak yang jatuh pada 31 Mei 2026 mendatang, Vihara Buddha Sakyamuni, Jalan Gunung Agung Denpasar menggelar upacara Pattidana atau pelimpahan jasa kepada para leluhur. Kegiatan ini digelar pada Minggu (24/5/2026) yang menjadi wujud bakti umat kepada orang tua dan leluhur yang telah tiada.

Baca Selengkapnya icon click

K3S Badung Study Tiru ke UPTD Pelayanan Sosial Griya Bina Karya Dinsos Jabar

balitribune.co.id | Mangupura - Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kabupaten Badung melakukan kunjungan kerja dan studi tiru ke Rumah berdaya UPTD Pelayanan Sosial Griya Bina Karya Dinas Sosial, Provinsi Jawa Barat, Jumat (22/5/2026). Kunjungan ini bertujuan mempelajari tata kelola fasilitas tempat tinggal sementara gratis bagi masyarakat kurang mampu.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.