Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

GOA BINOH : KENANGAN REVOLUSI DAN PERANG KEMERDEKAAN INDONESIA DI KOTA DENPASAR

Bali Tribune / Wayan Windia - Ketua Umum DHD-45 Provinsi Bali dan anggota Dewan Pembina Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Provinsi Bali.

balitribune.co.id | Kota Denpasar, selama ini dikenal sebagai sebuah kota, dengan konsep pembangunan ber-wawasan budaya. Namun demikian, Denpasar juga memiliki sisi-sisi wawasan dan kenangan yang lain. Diantaranya adalah kenangan abadi tentang perang rakyat. Pertama, dikenal sebagai kawasan, di mana terjadi Perang Puputan Badung. Kemudian, dikenal pula sebagai kawasan, di mana terjadi berbagai peristiwa berkait dengan Perang Kemerdekaan Indonesia. Misalnya, perang Serangan Umum Kota Denpasar, oleh para pejuang kemerdekaan, pada tanggal 11 April 1946. Mirip dan analogis seperti sejarah Serangan Umum ke Kota Yogyakarta.

Meski dalam kedua perang itu kita “kalah”, namun masalahnya, bukan kalah atau menang. Tetapi yang perlu dikenang adalah, semangat juang rakyat Denpasar, yang ikhlas untuk berkorban, demi Ibu Pertiwi. Sebab, tidak banyak masyarakat Bali dan Indonesia pada era itu, yang terpanggil untuk maju ke medang perang, melawan penjajah. Pada saat perang kemerdekaan terjadi, penduduk Bali tercatat sebanyak satu juta orang. Tetapi hanya sekitar 24.000 orang yang terpanggil untuk terlibat dalam perang kemerdekaan.

Adapun salah satu diantara kenangan revolusi dan perang kemerdekaan Indonesia di Kota Denpasar adalah, artefak Goa Binoh. Artefak itu adalah sebuah goa yang terletak di Banjar Binoh Kaja, dengan lebar dua meter dan tinggi tiga meter. Artinya, cukup leluasa untuk lalu-lalang manusia di goa tsb. Masyarakat setempat menyebut goa itu, sebagai Goa Penyingkiran (GP).

Seorang penduduk setempat, I Made Luther (cucu veteran pejuang I Made Sekar) mengatakan bahwa goa itu mulai ditemukan oleh penduduk pada tahun 1970-an. Pada saat itu beberapa orang penduduk melakukan kegiatan bersih-bersih. Lalu tiba-tiba mereka menemukan sebuah goa yang cukup mengerikan. Tetapi justru menakjubkan. Karena lubang goa sudah banyak ditutupi berbagai ranting tanaman yang melilit, dan dihuni oleh banyak binatang melata (ular, biawak, dll). Namun tepi-tepi goa masih terlihat tertata rapi. Ada tempat duduk-duduk di ujung goa, dan dindingnya masih mulus. Kawasan di sekitar goa, terlihat masih alami.

Hal itu menandakan bahwa keberadaan Goa Penyingkiran (GP) itu sangat dirahasiakan keberadaannya. Bahwa hingga perang kemerdekaan sudah berakhir lk 25 tahun sebelumnya, namun lokasi goa masih tetap belum dibuka ke-rahasia-annya. Dapat dibayangkan, betapa ketatnya masyarakat Banjar Binoh Kaja memegang rahasia perjuangan kemerdekaan.

Goa itu juga membawa kenangan bahwa, betapa rakyat Banjar Binoh Kaja, sangat membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dapat dibayangkan bahwa, di pusat kota, di mana berpusat tentara penjajah dan pemerintahan penjajah, namun rakyat tidak tinggal diam. Mereka dengan berani membangun goa perlindungan itu, yang dimanfaatkan untuk membantu kaum gerilya (penyingkiran).

Kita tahu resiko dari masyarakat yang membantu pejuang kemerdekaan. Resikonya adalah hukuman mati bagi yang bertanggung jawab, siksaan bagi masyarakat di kawasan itu, dan bahkan bukan tidak mungkin kawasan itu bisa dibumi hanguskan. Seperti halnya Desa Wangaya Gde di Penebel, Tabanan yang dibakar habis oleh Belanda, karena diketahui membantu pasukan pejuang pimpinan I Gusti Ngurah Rai.

I Made Luther mengatakan bahwa awal goa diperkirakan bermula dari rumah Pan Nyemplo. Sekitar 400 meter jaraknya dari mulut goa, yang secara kebetulan ditemukan oleh masyarakat setempat. Hingga saat ini belum pernah ada masyarakat yang berani masuk goa dan menelusuri goa tersebut hingga tuntas. Namun diharapkan, seirama dengan munculnya generasi baru Indonesia, maka artefak goa itu perlu dilestarikan.

Maksudnya adalah, sebagai artefak kenangan revolusi kemerdekaan Indonesia, agar dipahami dan dihayati oleh generasi muda Indonesia. Generasi muda yang terlahir pada zone nyaman. Mereka tidak mudah untuk bisa memahami penderitaan para pejuang kemerdekaan, yang dahulu merebut kemerdekaan Indonesia. Artefak goa itu dapat digunakan sebuah bukti-kenangan, betapa dahulu leluhurnya, siap untuk menderita, di tengah ganas dan kejamnya para penjajah.

Kawasan goa itu perlu ditata dengan sebaik-baiknya. Sebagai sebuah penghormatan generasi muda saat ini, kepada generasi leluhurnya. Menurut tokoh masyarakat Banjar Binoh Kaja, Djesna Winada SH, MH, bahwa masyarakat Binoh tidak saja pernah terlibat dalam perang kemerdekaan. Tetapi juga banyak yang terlibat dalam Perang Puputan Badung. “Kami masih memiliki berbagai artefak untuk mengenang Perang Puputan itu, yakni berupa keris, dll” katanya.

Tampaknya masyarakat Binoh Kaja khususnya, adalah masyarakat berdarah pejuang. Meskipun lokasinya sangat terpencil, tetapi manusia-manusianya berpikiran jauh ke depan. Mereka  jauh melihat ke masa depan, dibandingkan hanya termangu berada di bawah tekanan penjajah. Bagi mereka, kemerdekaan jauh lebih berharga, dibandingkan dengan setitik tetesan darah.

Bahkan kawasan itu perlu diperkenalkan sebagai kawasan wisata-sejarah. Artefak goa itu adalah sebuah benda pusaka atau warisan. Semua artefak yang umurnya lebih dari 50 tahun, dapat disebut sebagai benda pusaka. Selanjutnya bisa menjadi referensi kejuangan bagi masyarakat setempat, dan generasi muda pada khususnya.

Selanjutnya para pemuka masyarakat, perlu bekerja sama dengan para pejabat setempat, dan generasi muda, agar membuat usulan kepada Pemkot Denpasar. Usulan, agar goa dan kawasan itu dilestarikan, dan dikembangkan sebagai kawasan wisata sejarah perjuangan perang kemerdekaan. Jangan sampai terlambat. Karena, kalau sampai kawasan goa itu beralih fungsi, maka kita akan kehilangan pusaka sejarah, yang tak ternilai harganya. 

Pada awalnya, pusaka itu perlu diperkenalkan terlebih dahulu kepada anak-anak sekolah setempat. Sambil memperkenalkan sejarah kawasannya, dan sejarah leluhurnya. Hanya demikian caranya, kita akan mampu menimbulkan kebanggaan di dada para anak-anak kita. Kebanggaan kepada kawasannya, kepada leluhurnya, dan kepada bangsanya. Mereka mungkin bisa membuat selfi di kawasan itu, sebagai kenangan.

Tercatat para pejuang yang pernah memanfaatkan Goa Penyingkiran di Banjar Binoh Kaja adalah : pejuang Kompyang Sudjana (Denpasar), Made Sanggra (Sukawati), Made Djapa (Kota Gianyar), dan banyak lagi pejuang kemerdekaan lainnya. Mereka tidak saja disediakan tempat perlindungan untuk konsolidasi, tetapi juga jaminan makanan. Meskipun masyarakat di kawasan Banjar Binoh Kaja bukan masyarakat yang kaya di kala itu, namun mereka ikhlas menyediakan makanan dan minuman bagi para pejuang kemerdekaan.

 
wartawan
Wayan Windia
Category

Geely EX2 Resmi Mengaspal, Mobil Listrik Terjangkau dengan Teknologi Mewah

balitribune.co.id | Denpasar - Setelah dipamerkan di Gaikindo International Indonesia Auto Show (GIIAS) 2025 kemudian Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2025. Geely Indonesia mengumumkan akan  meluncurkan  mobil listrik EV, Geely EX2, Selasa (20/1). Dalam undangan yang diterima redaksi Bali Tribune disebutkan peluncuran mobil model ketiga  Geely di Indonesia mengusung tema Extra Fun 2 You.

Baca Selengkapnya icon click

Tanamkan Disiplin di Jalan, Astra Motor Bali Sambangi SMK Pratama Widya Mandala

balitribune.co.id | Denpasar - Astra Motor Bali terus menunjukkan komitmennya dalam menanamkan budaya keselamatan berkendara sejak usia sekolah melalui kegiatan edukasi Safety Riding yang dilaksanakan pada Kamis (15/1/2026) di SMK Pratama Widya Mandala. Kegiatan ini diikuti oleh 75 peserta yang terdiri dari siswa dan tenaga pendidik.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Dari AHRS ke Panggung Dunia, Mario Aji dan Veda Ega Siap Menggebrak Grand Prix 2026

balitribune.co.id | Jakarta – Menjelang bergulirnya musim balap Moto Grand Prix (GP) 2026, dua talenta terbaik Indonesia lulusan Astra Honda Racing School (AHRS), Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama, bersiap bertolak ke Barcelona, Spanyol. Keduanya dijadwalkan segera memulai proses adaptasi dan koordinasi teknis bersama Honda Team Asia.

Baca Selengkapnya icon click

Sinergi Indonesia-India di Festival Mahabharata Memperkokoh Diplomasi Peradaban

balitribune.co.id | Jakarta - Festival Mahabharata secara resmi dibuka di Bhopal, Madhya Pradesh, India pada Jumat (16/1/2026). Perhelatan agung ini dihadiri langsung oleh Ketua Menteri Madhya Pradesh, Dr. Mohan Yadav, serta Ida Rsi Putra Manuaba (Padmashri Agus Indra Udayana) sebagai Tamu Kehormatan Khusus. Kehadiran tokoh spiritual asal Bali tersebut menegaskan kuatnya dialog peradaban yang dibangun melalui Ashram Gandhi Puri.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Dituduh Gelapkan Rp4,5 Miliar, Mantan Bendesa Serangan Sebut Laporan "Mengada-ada"

balitribune.co.id | Denpasar - Mantan Jro Bendesa Adat Serangan, I Made Sedana, bereaksi keras terhadap laporan polisi yang dilayangkan oleh Jro Bendesa saat ini, I Nyoman Gede Pariartha, bersama sejumlah prajuru desa. Sedana membantah tuduhan penggelapan dana sebesar Rp4,5 miliar terkait penjualan lahan atas nama Desa Adat Serangan.

Baca Selengkapnya icon click

Bupati Badung Terima Penghargaan Upakarya Wanua Nugraha Tahun 2025

balitribune.co.id | Mangupura - Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, menerima Penghargaan Upakarya Wanua Nugraha Tahun 2025 dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan pada acara Puncak Peringatan Hari Desa Nasional (Hardesnas) Tahun 2026, yang diselenggarakan di Lapangan Desa Butuh, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, Kamis (15/1).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.