balitribune.co.id I Tabanan – Misteri identitas mayat pria (Mr. X) yang ditemukan tewas mengenaskan di kawasan hutan Banjar Gunung Sari Umakayu, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, akhirnya menemui titik terang.
Kepolisian memastikan bahwa korban merupakan warga negara asing (WNA) asal Afrika Selatan yang berprofesi sebagai seorang fotografer profesional.
Kasatreskrim Polres Tabanan, AKP Made Teddy Satria Permana, mengungkapkan bahwa kepastian identitas tersebut diperoleh setelah timnya melakukan serangkaian penyelidikan mendalam.
Hingga Senin (6/7/2026), petugas telah mengantongi nama serta latar belakang pria berusia 48 tahun yang jenazahnya ditemukan dalam keadaan mengenaskan di lereng Gunung Batukaru tersebut. “Dari hasil penyelidikan sementara, kami berani memastikan bahwa identitas jenazah Mr X itu atas nama Adrian Campbell Louw,” ujar Teddy pada Senin (6/7/2026).
Berdasarkan penelusuran pada rekam jejak digitalnya, Adrian dikenal sebagai sosok yang sangat aktif di platform media sosial Pinterest. Korban secara rutin mengunggah berbagai karya fotografi orisinal miliknya yang menangkap keindahan alam di berbagai lokasi yang ia kunjungi. “Yang bersangkutan (korban) sering update foto pemandangan,” imbuhnya.
Meskipun identitas korban sudah terkuak, penyebab pasti kematiannya hingga kini masih menjadi tanda tanya. Kepolisian saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik dari RS Prof Ngoerah (Sanglah), Denpasar, untuk mendeteksi adanya unsur-unsur aneh di dalam tubuh korban. “Sejauh ini prosesnya masih di tahap Toksikologi,” ungkapnya.
Tahapan toksikologi itu sendiri dilakukan untuk memastikan apakah kematian korban berkaitan dengan kandungan obat-obatan, racun, maupun zat kimia berbahaya lainnya. Hingga saat ini, polisi belum menemukan bukti kuat adanya tindak pidana kekerasan terhadap pria berkebangsaan Afrika Selatan tersebut. “Sekilas tidak ada tanda-tanda kekerasan. Sementara untuk dugaan sakit, kami masih menunggu hasil otopsi,” tegasnya.
Data dari Kantor Imigrasi Denpasar memperlihatkan bahwa Adrian merupakan pelancong yang cukup sering berkunjung ke Bali, dengan catatan kedatangan paling akhir pada 24 Maret 2026. Pihak pengelola penginapan tempat korban tinggal sejak Juni 2026 pun memberikan gambaran mengenai perilaku tertutup korban selama menginap. “Di penginapan, hanya malam saja datangnya,” kata Teddy.
Ini menandakan bahwa korban lebih banyak menghabiskan waktunya di luar ruangan untuk berburu objek foto. Untuk mengabarkan kondisi korban kepada pihak keluarga di negara asalnya, Polres Tabanan sudah menghubungi konsulat serta kedubes Afrika Selatan. “Kami sudah koordinasi juga dengan konsultasi dan Kedubes Afrika Selatan di Jakarta,” pungkas Teddy.