balitribune.co.id | Tabanan - Seluruh siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan direncanakan akan dipindahkan ke Kabupaten Karangasem pada Tahun Ajaran 2026/2027. Migrasi ini dilakukan seiring dengan progres pembangunan gedung Sekolah Rakyat (SR) terpusat di Kecamatan Kubu, Karangasem, yang saat ini pengerjaannya sudah mencapai 51 persen.
Jika tidak ada arah melintang, perpindahan massal bagi siswa yang menempuh pendidikan berbasis asrama ini akan dieksekusi pada awal tahun ajaran baru, sekitar bulan Juli 2026.
Saat ini, tercatat ada 74 siswa SRMP 17 Tabanan yang beraktivitas penuh di Sentra Mahatmiya Bali. Para siswa tersebut berasal dari berbagai wilayah di Bali, mulai dari Tabanan, Badung, Denpasar, hingga Buleleng.
Kepala Sentra Mahatmiya Bali, Tommy Heriyanto, mengungkapkan bahwa selain mempersiapkan perpindahan, pihaknya kini tengah gencar melakukan perluasan penjaringan untuk calon siswa SR baru dari keluarga prasejahtera.
“Fokus kami terutama pada anak-anak yang masuk dalam data Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) desil 1 dan 2,” jelas Tommy, Senin (18/5/2026).
Proses penjaringan ini dilakukan dengan menyortir puluhan ribu data penerima bantuan sosial untuk mendeteksi keberadaan anak usia sekolah yang putus sekolah. Setelah data tersaring, tim lapangan akan mendatangi langsung para orang tua untuk mengenalkan program SR agar anak-anak mereka bisa kembali mengenyam pendidikan.
Dalam proses penerimaannya nanti, seleksi akan menerapkan sistem aplikasi pendidikan yang disesuaikan dengan usia serta kemampuan akademik calon siswa.
Tantangan Psikologis: Jarak Jauh Bikin Orang Tua Berat Hati
Meski rencana infrastruktur di tempat baru sudah matang dan ditargetkan rampung sebelum Juli 2026 demi menampung kuota hingga 260 siswa, tantangan non-teknis justru muncul dari sisi psikologis wali murid.
Sejumlah orang tua siswa, khususnya yang berdomisili di Tabanan, mengaku berat hati jika harus melepas anak-anak mereka bersekolah di lokasi yang jaraknya cukup jauh dari rumah.
“Saat ini tantangan utama kepindahan siswa SRMP 17 Tabanan ini adalah kerelaan orang tua untuk melepas anaknya ke Karangasem. Keberatan ini baru sebatas kekhawatiran soal jarak, namun kalau sampai menolak untuk melanjutkan sekolah, sejauh ini belum ada,” beber Tommy.
Langkah Mitigasi dari Pusat
Mengantisipasi kemungkinan adanya siswa yang benar-benar tidak bisa ikut pindah ke Karangasem karena kendala keluarga, Tommy menyebut pihak pusat dipastikan akan menyiapkan langkah mitigasi.
Opsi utama dari mitigasi tersebut adalah memastikan anak yang bersangkutan tidak sampai putus sekolah dan tetap mendapatkan akses pendidikan, salah satunya melalui jalur sekolah reguler di daerah asal.
“Saat ini formulasi mitigasi mengenai siswa yang nanti tidak ikut melanjutkan ke SR Karangasem memang belum diturunkan secara rinci. Tetapi tentunya nanti kebijakan itu akan langsung disiapkan dari pusat,” pungkasnya.