balitribune.co.id I Tabanan - Sebagian murid SDN 3 Sembung Gede, Kecamatan Kerambitan, terpaksa menjalani kegiatan belajar secara daring pasca-ambruknya bangunan kelas pada Kamis (30/4/2026). Keputusan ini diambil guna menjamin proses belajar tetap berjalan meskipun fasilitas sekolah mengalami kerusakan berat.
Kepala SDN 3 Sembung Gede, Pande Komang Juni Arsana, menjelaskan bahwa skema daring diterapkan khusus untuk murid kelas I, II, dan III. Sementara murid kelas IV, V, dan VI tetap belajar di sekolah dengan memanfaatkan ruang kelas rendah yang kondisinya masih relatif aman.
"Berdasarkan hasil rembug dengan orang tua siswa, komite, dan Dinas Pendidikan Tabanan pada Sabtu (2/5), kami sepakat menerapkan belajar daring untuk kelas rendah," ujar Juni Arsana, Senin (4/5/2026).
Pihak sekolah sempat mempertimbangkan penggunaan wantilan atau balai banjar sebagai lokasi belajar sementara. Namun, rencana tersebut dibatalkan karena faktor keselamatan. Lokasi wantilan yang berada di pinggir jalur utama Denpasar-Gilimanuk dengan arus lalu lintas padat dinilai sangat berisiko bagi murid.
"Arus lalu lintas sangat padat, risiko keselamatannya tinggi. Guru juga akan kesulitan membagi pengawasan antara murid di sekolah dan di wantilan," jelasnya.
Durasi pembelajaran daring ini masih bergantung pada proses pembersihan material bangunan yang ambruk. Berdasarkan koordinasi dengan BPBD Tabanan, pembersihan dijadwalkan berlangsung pada Rabu (6/5).
Setelah material kelas IV, V, VI, dan ruang UKS selesai dibersihkan, pihak sekolah akan mengevaluasi opsi penggunaan ruang guru atau perpustakaan sebagai kelas darurat.
Terpisah, Kabid SD Dinas Pendidikan Tabanan, I Made Sukanitra, menegaskan bahwa status daring ini hanya bersifat sementara. Pemerintah daerah kini tengah mengupayakan langkah perbaikan agar gedung sekolah tersebut segera dapat digunakan kembali secara normal.