Kesulitan Material, Kerajinan Bokor Bahan Baku Kertas Banjir Pesanan | Bali Tribune
Bali Tribune, Rabu 23 September 2020
Diposting : 28 November 2019 19:10
Redaksi - Bali Tribune
Bali Tribune/Ketut Badri dan hasil kerajinannya

balitribune.co.id | Singaraja - Dibalik musibah Tuhan punya rencana indah untuk kita. Barangkala pepatah itu tepat untuk seorang pedagang warung kecil yang berasal dari banjar Pucak Sari, desa Gerokgak, Singaraja.

Ketut Badri, awalnya mengalami musibah yang menyebabkan dia harus berurusan dengan hukum dan berakhir di lapas Singaraja. Selepas dari rumah tahanan, Ketut Badri mencoba meneruskan usaha dari hasil pembelajaran di lapas yaitu membuat bokor dan kerajinan lainnya dengan bahan baku kertas bekas.

 Baru berjalan 4 bulan sudah banyak kerajinan yang bisa dihasilkan Ketut Badri dari bahan baku kertas ini. “Tyang ingin sekali mengajak anak anak muda di desa tyang untuk belajar kerajinan, sudah ada yang mau ikut beberapa.” ujarnya.

 “Pesenan mulai datang tapi tyang kesulitan bahan baku kertas,” lanjutnya.

Bahan baku utama adalah kertas bekas termasuk kertas koran. Pria kelahiran tahun 60 ini harus menempuh waktu 1 jam ke kota Singaraja untuk mendapatkan kertas bekas karena banjirnya pesanan. Itupun belum mencukupi dan saat ini bahan baku dicari ke wilayah Denpasar. Kerajinan bokor di bandrol dengan harga Rp 150.000 sampai Rp 250.000 tergantung dari ukuran barangnya.

 Pengerjaan kerajinan ini memerlukan waktu cukup singkat yaitu 2 hari dengan kebutuhan bahan baku kertas sebanyak 1 kilo gram untuk kerajinan bokor ukuran kecil. Sedangkan untuk pemasaran masih dilakukan dari mulut ke mulut atau pembeli langsung datang ke rumak Ketut Badri di Gerokgak, Singaraja.