balitribune.co.id I Badung - Perguruan tinggi pariwisata mulai mengkhawatirkan dampak dari konflik geopolitik di Timur Tengah jika terjadi berkepanjangan. Pasalnya, ketegangan antarnegara di Timur Tengah akan berpengaruh terhadap terbatasnya pergerakan masyarakat di negara-negara tersebut khususnya yang ingin melakukan perjalanan wisata ke suatu destinasi termasuk ke Bali.
Hal itu akan membawa dampak pada penurunan kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata yang tentunya memengaruhi tingkat hunian kamar hotel maupun akomodasi wisata lainnya di Bali. Jika ini terjadi, maka mahasiswa/mahasiswi pariwisata akan sulit untuk mendapatkan tempat magang. Mengingat, magang atau praktik langsung di industri merupakan suatu keharusan bagi mahasiswa/mahasiswi pariwisata. Demikian disampaikan Direktur Politeknik Pariwisata Bali, Ida Bagus Putu Puja beberapa waktu lalu di Badung.
"Memang dampaknya akan berpengaruh terhadap pariwisata terutama berpengaruh juga pada orang melakukan perjalanan mungkin terbatas dan pengaruhnya tingkat hunian di hotel menurun. Ada penurunan juga kami di pendidikan untuk mencari tempat magang akan berpengaruh juga," jelasnya.
Kendati kunjungan wisatawan ke Bali saat ini belum mengalami penurunan, namun kekhawatiran akan dampak konflik sudah mulai muncul di kalangan pendidikan terutama di perguruan tinggi pariwisata. Berdasarkan data di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada pertengahan Maret 2026 hingga akhir Maret 2026 rata-rata melayani lebih 62 ribu pergerakan penumpang per hari baik domestik dan internasional. Angka yang sama pada pertengahan hingga akhir Maret 2025 pergerakan penumpang rata-rata lebih 62 ribu per hari.