Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

KORONA DAN WATAK BENGKUNG-BELOG-AJUM (BBA)

Bali Tribune / Wayan Windia - Guru Besar (E) di Fak. Pertanian, Unud, dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Made Sanggra, Sukawati.

balitribune.co.id | Peranan pers memang luar biasa. Laporan pers bisa membuat masyarakat menjadi marah berdarah-darah (saat reformasi). Sebaliknya pers juga bisa membuat masyarakat bersatu-padu membangun kemanusiaan (saat gempa bumi atau gunung meleus). Saat inipun, di mana korona sedang merebak dunia, pers juga telah mampu membangun kebersamaan masyarakat. Kita melihat di mana-mana komunitas memberikan bantuan dengan ikhlas. Perhimpunan INTI Bali misalnya, telah membangun wadah pencuci-tangan dan blok-desinfectan  di mana-mana. Juga memberikan bantuan ke panti jompo.

Tetapi saya agak tercenung dengan tagline media berkait dengan tema  liputannya. Media massa terus gembar-gembor dengan slogan “Bersatu Melawan Korona”. Lho, kok melawan?  Siapa yang dilawan? Semakin dilawan, ia akan semakin ganas. Mungkin akan memunculkan varian-varian yang baru. Apakah ada orang yang merasa mampu melawan kehendak alam?

Banyak orang yang percaya bahwa, penyebaran Korona adalah bagian dari kehendak alam. Alam yang “disakiti”, lalu memberikan reaksi. Penggundulan hutan, pengotoran sungai, pembasmian sawah, polusi udara, bumi yang dibeton dan diplester, dll adalah bagian dari cara-cara manusia menyakiti alam. Juga tercermin dalam berbagai wacana, bahwa pemunculan virus korona karena manusia mulai menyerang dan memakan khewan liar.

Dalam ajaran agama dan ajaran spiritualitas, banyak dikemukakan bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan di dunia ini.  Pasti ada sebab-musababnya. Virus Korona yang tiba-tiba muncul, sudah dinyatakan tak ada obatnya. Juga tak ada vaksinnya. Oleh karenanya, yang dapat kita lakukan adalah “Bersatu Menghindari Korona”. Mari kita sembunyi, dan biarkan ia lewat. Bukan melawannya.

Pemerintah tampaknya sudah melakukan tindakan yang sepaham dengan alam. Diajarkan agar kita mulat sarire. Penduduknya mulai diajari tentang cara mencuci tangan, sampai bersih. Tampaknya, setelah hampir 75 tahun merdeka, kita lupa tentang tata-cara mencuci tangan yang baik dan bersih. Terlanjur kita terlena berada dalam zone nyaman, untuk secara berkelanjutan meng-eksplorasi dan meng-eksploitasi alam raya.

Sampai-sampai Presiden dan Ibu Negara ikut mengajari penduduknya mencuci tangan. Juga mulai diajari tentang tata cara bersin dan batuk. Diperkenalkan juga tata-cara menyampaikan salam yang sehat dan cara duduk yang sehat. Sekarang, alam tampaknya mendorong manusia untuk mulat sarire, tentang hal-hal yang mendasar dalam kehidupan. Satu virus, mampu mendorong umat manusia untuk melakukan transformasi sosio-kultural.

 Pemerintah juga sudah mendorong agar penduduk tinggal di rumah untuk sementara waktu. Jangan bepergian ke luar daerah. Jangan bergerombol. Jangan mengadakan ritual yang menyebabkan berkumpul banyak orang. Tetapi nyatanya, masih saja ada penduduk yang bergelombang mudik lebaran, masih saja diadakan upacara pernikahan, masih saja ada penduduk yang bergerombol di mesjid, gereja, pura, café, dll.

Itu semua, adalah nafsu manusia yang menantang alam, dan menentang himbauan pemerintah.  Hari Sabtu (4/4), ormas Islam yang terbesar di Indonesia, PBNU sudah meminta warganya agar mengikuti himbauan pemerintah. Kita lihat saja nanti, bagaimana kepatuhan warga NU tsb. Sementara itu, Wapres berencana akan mendorong MUI mengeluarkan fatwa tentang haramnya mudik, pada era korona saat ini. Kita lihat saja nanti, bagaimana reaksi MUI.

Tampaknya pemerintah sangat-sangat berhati-hati mengambil sikap tegas untuk menghindari sebaran Korona. Untuk melarang mudik saja, tidak berani. Banyak sekali pertimbangan sosialnya. Padahal semua itu adalah untuk kesehatan bersama. Inilah resikonya sebuah negara yang yang terlalu mendewakan demokrasi dan mendewakan HAM.

Mengapa RRT dengan sigap mampu mengendalikan Virus Korona, dengan korban yang relatif minimal? Karena negara itu tampaknya berani melakukan tindakan tangan-besi, demi untuk keselamatan/kesehatan/kesejahteraan rakyatnya secara umum. Dan kemudian, demi untuk harga diri negara dan bangsanya. Sementara itu, di USA, Italia, Spanyol, dll korbannya berlipat-lipat dibandingkan dengan di RRT. Oleh karenanya, kita tidak perlu meniru-niru sistem demokrasi negara lain, yang belum tentu cocok di negara kita. Demokrasi adalah alat. Demokrasi bukan tujuan. Demokrasi yang dikembangkan harus sesuai dengan sosio-kultural masyarakat ybs. Selanjutnya demokrasi itu dapat membantu pencapaian kesejahteraan rakyat.

Kini, yang harus dijaga agar demokrasi yang dikembangkan di Indonesia, tidak berkembang ke arah anarchi. Karena akan dapat menyebabkan keruntuhan bangsa. Hal itu bisa terjadi, kalau kita melihat pengalaman di Era Yunani Kuno, sebagaimana dicatat Bung Hatta (1986), dalam bukunya “Alam Pikiran Yunani”. Bahwa kehancuran demokrasi yang dikembangkan Parikles, disebabkan karena ulah kaum Sofis (kaum cerdik pandai). Di mana demokrasi berkembang menjadi anarchi.

Dicatat oleh Hatta bahwa, sebetulnya tidak ada maksud dari kaum Sofis untuk menghancurkan demokrasi. Karena mereka telah diberikan kebebasan berbicara, atas nama demokrasi. Namun, secara tak disadari bahwa kebebasan berbicara yang berlebihan (kelewat batas), ke”aku”an yang berlebihan, menuntut harus menang sendiri secara berlebihan, dll, tampaknya secara tak disadari bisa melemahkan demokrasi. Muaranya adalah kehancuran Athena, yang dibangun dengan susah-payah untuk mencapai kemakmuran dan demokrasi, di bawah pimpinan Parikles (461-429 SM).

Dalam menghadapi Virus Korona, tercermin betapa “lemahnya” pemerintah kita. Pemerintah tidak berani bertindak keras dan tegas. Kalau perlu dengan hukuman, bagi pihak yang melanggar. Kenapa ?  Karena kita sudah kebablasan dalam ber-demokrasi dan ber-HAM. Padahal tujuan tindakan itu adalah untuk keselamatan bersama. Kapolri sudah mengeluarkan maklumat. Seharusnya bisa bertindak tegas dan keras. Kalau ada manusia yang berkerumun harus berani dibubarkan dan dihukum. Entah di bandara, entah di terminal bus, entah di ritual, dll. Hal-hal seperti itu sudah dilaksanakan di beberapa bagian NKRI. Namun, demi untuk keselamatan bangsa, maka semua polisi di Indonesia harus siap sedia membubarkan kerumunan orang. Tujuannya, agar kita bisa menghindar dari sebaran virus korona tsb.

Rakyat kita yang masih miskin ini, memang masih banyak yang  belog-bengkung. Di TV beberapa penduduk yang akan mudik mengatakan bahwa, ia sudah tahu sebetulnya himbauan pemerintah. Namun ia tetap saja mudik. “Ya, sudah tahu sih. Tapi ya, tetap saja mudik” katanya cepat, ketika ditanya pers. Kalau begini kasus-kasusnya, maka pemerintah pasti semakin berat bebannya. Terutama menghadapi rakyat yang wataknya : belog-bengkung-ajum, alias BBA.

 

 

 

wartawan
Wayan Windia
Category

Rayakan HUT Pertama, NSWAC Gelar ‘Road to Signature Experience’ untuk Perkuat Layanan dan Awareness

balitribune.co.id | Denpasar – Tak terasa, NgoerahSun Wellness & Aesthetic Center (NSWAC) kini telah genap berusia satu tahun. Pusat layanan kesehatan dan kecantikan yang diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada 25 Juni 2025 ini, merayakan hari jadinya dengan menggelar rangkaian kegiatan bertajuk ‘Road to Signature Experience’ sepanjang bulan Juni 2026.

Baca Selengkapnya icon click

Tinjau Lokasi Banjir Baktiseraga, Bupati Sutjidra Soroti Sampah dan Pelanggaran Sempadan Sungai

balitribune.co.id | Singaraja – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna turun langsung meninjau lokasi banjir yang melanda Dusun Tista, Desa Baktiseraga, Jumat (12/6/2026). Bencana yang dipicu hujan deras sejak pagi itu menyebabkan aliran sungai meluap, merobohkan satu rumah warga di kawasan Griya Mahadewa dan menimbulkan korban jiwa.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Tragedi Banjir Buleleng, Mahasiswa Undiksha Tewas Tertimbun Saat Selamatkan Keluarga

balitribune.co.id | Singaraja - Bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrem yang melanda wilayah Buleleng, Jumat (12/6/2026) siang, berujung duka mendalam. Seorang mahasiswa Undiksha bernama Ricardo Razaq Alghiveri (20) ditemukan meninggal dunia setelah tertimbun reruntuhan rumahnya yang roboh diterjang banjir bandang di Blok A4 Perumahan Mahadewa, Jalan Laksamana, Gang Sahadewa, Desa Bhaktiseraga, Kecamatan Buleleng.

Baca Selengkapnya icon click

Astra Motor Bali dan Jasa Raharja Hadirkan Promo Service Murah untuk Tingkatkan Keselamatan Berkendara

balitribune.co.id | Denpasar - Astra Motor Bali melalui jaringan AHASS Bali berkolaborasi dengan Jasa Raharja menghadirkan program “Service Murah Jasa Raharja x AHASS Bali” yang diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan edukasi Safety Riding di Kantor Jasa Raharja Bali, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, Kamis (11/6/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ariel Suardana Resmi Daftar Ketua Peradi SAI Denpasar, Siap "All Out" Lawan Mafia Peradilan

balitribune.co.id | Denpasar - Pengacara kondang, I Made "Ariel" Suardana, secara resmi mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Peradi SAI Denpasar untuk masa jabatan empat tahun ke depan. Langkah ini diambil setelah ia menerima dukungan kuat dari lebih dari 200 anggota yang tergabung dalam kelompok Solidaritas Advokat Untuk Perubahan (SAUP).

Baca Selengkapnya icon click

Resmikan Pos AHASS TEFA, AHM Jembatani Siswa Masuki Dunia Industri

balitribune.co.id | Jakarta – Mendukung kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dan berkompeten dalam Industri otomotif, PT Astra Honda Motor (AHM) bersama Astra Motor Jawa Tengah menghadirkan sekolah SMK Mitra Binaan Astra Honda bertaraf Pos AHASS Teaching Factory (TEFA) di SMK Muhammadiyah 3 Weleri, kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.