balitribune.co.id | Yogyakarta - Upaya penanganan sampah di Kelurahan Giwangan, Kota Yogyakarta, menunjukkan hasil positif. Pengelolaan sampah di wilayah ini semakin terkondisi dengan baik berkat penerapan sistem pemilahan yang dimulai dari lingkup terkecil, yakni rumah tangga.
Sistem ini berjalan dengan prinsip pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Setiap keluarga diimbau untuk memisahkan sampah sesuai jenisnya, baik organik maupun anorganik, sebelum dibuang ke tempat penampungan.
Untuk sampah jenis anorganik seperti plastik, kertas, dan logam, warga diarahkan untuk menyetorkannya ke Bank Sampah setempat. Langkah ini terbukti efektif tidak hanya dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat.
Sementara itu, untuk sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan, warga didorong untuk mengolahnya secara mandiri. Pihak Kelurahan Giwangan memberikan dukungan nyata melalui program pembuatan lubang biopori skala rumah tangga.
"Kami terus mengimbau warga agar sampah organik dimasukkan ke dalam lubang biopori yang sudah ditanam di halaman masing-masing. Cara ini sangat bermanfaat karena selain mengurai sampah, juga dapat menyuburkan tanah dan bermanfaat bagi tanaman," ungkap Lurah Giwangan, Dyah Murniwarini, Rabu (6/5/2026).
Dyah menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada peran aktif masyarakat. Pihak kelurahan berkomitmen untuk terus memotivasi dan mengedukasi warga agar kesadaran menjaga kebersihan lingkungan semakin meningkat.
"Dengan kerja sama dan kedisiplinan dari setiap individu, pengelolaan lingkungan di Kelurahan Giwangan diharapkan dapat terus berkelanjutan," pungkasnya.