balitribune.co.id I Gianyar - Sebanyak 30 pelari mengikuti kegiatan MatuRUN, sebuah lari spiritual menuju Pura Besakih dengan jarak tempuh sekitar 33 kilometer. Sembahyang ala pelari ini digagas oleh komunitas Healing On The RUN, merupakan bentuk persembahyangan (tangkil) dengan cara berbeda, yakni berlari sambil berbhakti.
Ide tersebut terinspirasi dari perjalanan leluhur Bali yang dahulu menuju Besakih dengan berjalan kaki, bahkan tanpa alas kaki. Koordinator kegiatan, Gue Jhoni menyampaikan bahwa MatuRUN tidak sekadar olahraga, melainkan upaya merasakan perjalanan spiritual secara langsung di tengah perkembangan zaman modern. Sekarang mungkin orang menganggap lebih praktis menggunakan kendaraan. Tapi yang ingin kami rasakan adalah proses perjalanan spiritualnya, bagaimana tangkil dengan cara yang berbeda, ujarnya, Senin (13/4/2026).
Peserta yang mengikuti kegiatan ini merupakan pelari yang telah terbiasa melakukan lari jarak jauh. Panitia juga melakukan seleksi guna memastikan seluruh peserta memiliki ketahanan fisik (endurance) yang memadai. Menariknya, salah satu peserta berusia 60 tahun asal Klungkung turut ambil bagian dan bahkan menjadi salah satu yang tercepat mencapai lokasi tujuan.
Dari sisi logistik, peserta hanya membawa perlengkapan sederhana seperti air minum, makanan ringan, dan energy gel. Sepanjang perjalanan, dukungan juga datang dari komunitas dan warga setempat yang menyediakan water station serta minuman isotonik. MatuRUN telah memasuki pelaksanaan ketiga dan direncanakan menjadi agenda rutin setiap tahun, khususnya saat momentum karya di Besakih. Kegiatan ini diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk menjaga kebugaran fisik sekaligus meningkatkan spiritualitas.
Setibanya di Besakih, peserta diberikan waktu untuk beristirahat, membersihkan diri, dan dilanjutkan dengan persembahyangan di pedharman masing-masing maupun di Penataran Agung. Selain itu, kegiatan ini juga mengandung unsur sosial, di mana dukungan dana dari komunitas lari akan disalurkan sebagai dana punia di Pura Besakih.