Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Menangisi Nasib Rakyat

Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Ada sebangsa mahkluk malang bernama 'rakyat'. Demi kemaslahatan umum, daulat yang melekat pada  dirinya, dilimpahkan kepada organ-organ politik, terutama yang memegang cabang kekuasaan eksekutif dan legislatif. Presiden sebagai Kepala Eksekutif dan Badan-badan perwakilan (DPR/DPRD, DPD/Daerah) sebagai representasi rakyat (Legislatif) kemudian memikul tugas mengelola negara bersama cabang kekuasaan lainnya. Rakyat yang seharusnya menjadi tuan atas mereka malah cenderung menjadi penonton. Selama sepekan, tontonan yang disuguhkan kepada rakyat adalah manuver partai politik (Parpol) dalam merebut kekuasaan di level nasional (Presiden dan Wakil Presiden). Di panggung depan, semua yang dipertontonkan tampak tertata rapi, dengan embel-embel demi kepentingan bangsa dan negara. Parpol yang sudah terbelah dalam dua koalisi,  menampilkan figur pilihan (Capres-Cawapres) yang akan berkontestasi merebut kedua jabatan tersebut. Hiruk pikuk itu mulai diisi dengan deklarasi, pawai, pendaftaran Cawapres-Cawapres dan kemarin sudah mulai membentuk tim pemenangan. Tim ini secara terkonsentrasi bakal bekerja meyakinkan rakyat tentang keunggulan figur pilihannya. Ruang publik tanah air meriah dengan pemunculan elit parpol kedua kubu di media massa. Yang dilontarkan hanya seputar keunggulan Capres-Cawapres usungan mereka dan kekuatan penopangnya. Mereka saling silang suara mirip suasana di seputar ring tinju. Para pendamping masing-masing petinju, memuji keunggulan kubunya guna memprovokasi dan menekan mental lawan. Hampir tidak ada atau sedikit sekali informasi tentang mengapa pemilihan pemimpin bangsa harus melalui proses demikian, apa manfaat dan pelajaran politik dari rivalitas ini, termasuk Pilpres yang menjadi puncaknya. Rakyat, yang tidak mendapat suguhan informasi edukatif seperti itu, ikut larut bahkan turut berenang dalam lautan kompetisi sebagaimana dilakukan oleh parpol koalisi pemerintah dan oposisi. Ruang publik seperti panggung baku hantam. Nuansa saling menjatuhkan juga kental terasa. Jagad maya dipenuhi narasi saling menjatuhkan. Ada yang mengungkit kisah dan aib masa lalu lawan dengan dukungan data yang sumir, seakan-akan benar terjadi, demi mempermalukan lawan di ruang maya. Ada juga yang memobilisasi Ormas/kelompok untuk menyerang dengan dasar isu. Aksi ini dibalas lawan dengan pola yang sama. Nalar jernih publik yang hampa dengan ilmu politik putih, terkotori oleh narasi-narasi itu. Pilpres dipersepsikan sebagai ajang perang saudara. Padahal, mandat yang diberikan kepada pejabat publik dan lembaga politik untuk mengurus negeri, mestinya dijadikan alat untuk menyuguhkan informasi sehat dan menghibur pemilik kedaulatan. Bahwa ini adalah pesta demokrasi yang untuk mencapainya harus melalui lomba, bukan tanding. Dan, lomba itu dimaksudkan untuk menyajikan keunggulan seperti menggelar menu di meja makan, agar para pemilik hajat memilih yang terbaik. Sebenarnya, ketika melepas daulat kepada penyelenggara negara, yang diharapkan rakyat adalah ada progres peningkatan kualitas keadilan dan kemakmuran. Karena itu yang menjadi tujuan negara. Untuk mencapainya, rakyat harus dilibatkan secara aktif di segala bidang kehidupan bangsa. Politik yang dimainkan adalah politik kebangsaan yang teduh, mendidik rakyat untuk tahu hak dan kewajibannya terhadap negara. Politik tidak semata-semata bergelut dengan intrik, konflik dan saling menjatuhkan. Ruang sosial kita wajib diisi dengan kesadaran dan aktivitas kemanusiaan yang menumbuhkan semangat solidaritas. Sektor ekonomi kerakyatan dengan bersendikan keadilan sosial harus digenjot, sehingga tidak justru menimbulkan disparitas yang semakin lebar. Rakyat dilibatkan dengan berbagai progragram partisipasi, tidak hanya menjadi kedok kaum elit untuk menciptakan citra personal atau kelompoknya. Ini adalah konsekuensi negara demokrasi, sekaligus manifestasi kesadaran akan jasa rakyat yang telah meneken kontrak berdirinya negara bangsa yang berdaulat. Rakyat, meminjam statemen AA Gym, bukan sekedar pendorong mobil, yang kalau mobilnya sudah jalan, rakyat ditinggalkan. Faktanya, daulat rakyat telah disia-siakan oleh banyak pemegang mandat. Menyedihkan memang, namun kita tak kuasa memotong mata rantai kompetisi yang syarat dengan intrik, konflik dan saling menjatuhkan ini. Kita hanya menangisi nasib mereka, sang pemilik kedaulatan, sambil berusaha sebisa mungkin untuk menyadarkan aktor politik bahwa rakyat membutuhkan rivalitas yang sehat, bukan saling menjatuhkan. 

wartawan
Mohammad S. Gawi
Category

Hendak Cek Sapi di Kandang, Warga Sanggalangit Justru Temukan Jasad di Saluran Irigasi

balitribune.co.id I Singaraja - Warga Banjar Dinas Kayu Putih, Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng digegerkan dengan temuan jasad seorang pria di saluran irigasi, Minggu (22/2/2026) sekitar pukul 05.30 Wita. Tubuh korban pertama kali ditemukan warga yang sedang membersihkan saluran air yang meluap.

Baca Selengkapnya icon click

Pemkab Buleleng Kucurkan Hibah Rp 13,8 Miliar untuk Desa Adat dan Subak

balitribune.co.id I Singaraja - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian adat dan sistem pertanian tradisional. Hal itu ditandai dengan penyerahan bantuan hibah oleh Bupati I Nyoman Sutjidra kepada desa adat dan lembaga subak se-Buleleng dalam rapat koordinasi virtual dari Kantor Bupati, Senin (23/2/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Dishub Jaring 5 Kendaraan Tak Laik di Terminal Pesiapan

balitribune.co.id I Tabanan - Dinas Perhubungan (Dishub) Tabanan menjaring lima angkutan barang yang tidak memenuhi syarat laik jalan dalam kegiatan ramp check di Terminal Pesiapan pada Senin (23/2/2026). Pemeriksaan ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk memastikan keamanan armada angkutan menjelang arus mudik hari raya besar. Baik armada angkutan barang atau orang.

Baca Selengkapnya icon click

PH Pura Dalam Balangan: Made Daging Satukan Tiga Alas Hak Tanah Pura Balangan Berbeda dengan Cara "Gulung Karpet"

balitribune.co.id | Denpasar - Penasehat Hukum (PH) Pengempon Pura Dalam Balangan, Harmaini Idris Hasibuan, SH mengatakan, telah mengingatkan tersangka oknum eks Kanwil BPN Provinsi Bali, I Made Daging, A.Ptnh, SH, MH sebelum melakukan pengukuran tanah Pura Dalam Balangan dengan cara “Gulung Karpet” pada 5 Agustus 2020, bahwa berdasarkan data spasial yang ada dalam aplikasi Komputerisasi Kegiatan Pertanahan (KKP) Kementerian Agraria, bidang tanah yang d

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Sidang Kasus Penembakan di Villa Casa Santisya Munggu, Anak Korban Minta Keadilan

balitribune.co.id I Denpasar - Suasana haru menyelimuti persidangan kasus penembakan di vila Munggu dengan agenda duplik di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Senin (23/2/2026). Anak ketiga dari korban tewas Zivan Radmanovic, remaja berusia 13 tahun hadir langsung membacakan surat terbuka yang menyentuh hati di hadapan Majelis Hakim.

Baca Selengkapnya icon click

Gubernur Koster Sebut Pemerintah Wajib Fasilitasi Kebutuhan Sulinggih

balitribune.co.id I Denpasar - Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan keberadaan para Sulinggih merupakan bagian penting yang juga wajib mendapat perhatian dari pemerintah. Mengingat mereka memiliki tugas dan tanggung jawab  cukup berat di bidang ritual, dalam menjaga kedamaian dan keselamatan Bali secara niskala. 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.