Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Nyoman Nuarta dan GWK Antara Mimpi, Luka, dan Ikon Dunia

GWK
Bali Tribune / Garuda Wisnu Kencana (ist)

balitribune.co.id | Mangupura - Saat matahari merayap turun di cakrawala Jimbaran, siluet raksasa Garuda Wisnu Kencana (GWK) menoreh langit. Bayangan patung setinggi 121 meter itu jatuh ke bukit-bukit kapur Ungasan, menjadikan sore Bali kian syahdu. Turis mancanegara berderet di plaza, sibuk menengadah, mencoba menangkap keagungan Mahakarya Wisnu di atas punggung Garuda.

Di hadapan mereka, karya itu tampak sempurna, megah, kokoh, dan tak tergoyahkan. Namun di balik gemerlap lampu sorot dan sorakan kagum wisatawan, ada kisah getir tentang mimpi yang hampir terkubur, drama politik, dan kompromi pahit seorang maestro seni rupa. “GWK itu bukan milik saya. Saya persembahkan GWK untuk bangsa ini. Saya hanya perantara yang melahirkan,” ujar I Nyoman Nuarta, maestro patung kelahiran Tabanan, saat dihubungi melalui selulernya, Sabtu (27/9)

Lantas Nuarta mulai bercerita, pada akhir 1980-an, dirinya yang kala itu telah dikenal luas sebagai pematung muda pemenang sayembara Monumen Proklamasi datang membawa ide besar, membangun sebuah monumen budaya yang bisa menandingi simbol dunia. Paris punya Eiffel, New York punya Liberty, Rio punya Christ the Redeemer. Indonesia? Ia ingin Bali punya GWK. “Waktu itu saya membayangkan, seorang turis mendarat di Ngurah Rai lalu melihat patung raksasa menyapa dari kejauhan. Sebuah ‘landmark’ yang tak bisa dilupakan,” kenangnya.

Baginya, GWK bukan sekadar patung. Ia adalah pertemuan antara seni, budaya, dan pariwisata. “Saya seniman, bukan pengusaha. Tapi saya percaya, budaya bisa jadi lokomotif ekonomi. Turis datang karena ingin merasakan pengalaman budaya, bukan sekadar hotel atau pantai,” katanya.

Seiring waktu, mimpi itu berubah jadi beban. Biaya pembangunan kian membengkak, dan suara penolakan pun bermunculan. Ada yang menuduh GWK proyek mercusuar, ada yang menyebutnya mencemari kesakralan. Beban mulai terasa, dirinya mulai mencari berbagai alternatif agar mega proyek itu bisa diselesaikan.

Nuarta membuka jalan agar GWK benar-benar jadi milik bangsa. “Saya pernah tawarkan saham 100 persen ke negara. Gratis. Hanya syaratnya, mereka selesaikan patung. Tapi tidak ada respons,” ujarnya lirih.

Ia juga mengetuk pintu Pemerintah Provinsi Bali. “Saya kasih opsi, Pemda bisa akuisisi lewat cicilan tiga tahun. Nilainya sudah termasuk penyelesaian patung. Sayangnya, DPRD menolak, bahkan kala itu saya jutru diserang habis-habisan di dewan,” katanya, menghela napas panjang.

Momen itu jadi salah satu titik paling menyakitkan bagi Nuarta. “Saya sadar, seniman selalu kalah kalau berhadapan dengan birokrasi. Idealismenya sering dianggap utopia,” sentilnya.

Krisis moneter 1998 jadi hantaman telak. Pinjaman Rp30 miliar yang dulu cair lewat restu Presiden Soeharto, tiba-tiba ditagih dengan bunga komersial. Proyek GWK macet, pekerja terpaksa dirumahkan, dan utang menumpuk.

“Bayar pakai apa? Pemerintah saja bangkrut waktu itu. Saya lebih seniman daripada pebisnis. Jangankan menghitung cashflow, saya lebih sering mikir soal komposisi patung dan tekstur material,” ujarnya sambil tertawa getir.

Di titik ini, Nuarta dihadapkan pada dilema besar, membiarkan proyeknya mati atau menyerahkan ke pihak yang mampu melanjutkan. Pilihannya jatuh pada The Nin King, bos properti terbesar di Tanah Air, pemilik PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI). Konglomerasi properti yang menawarkan modal besar dengan syarat kepemilikan penuh. Itupun sebetulnya dilepas Nuarta dengan berat hati, tapi karena ia tahu The Nin King pemilik Alam Sutra punya rasa kebangsaan yang tinggi, lepaslah GWK ke Alam Sutra yang sebelumnya melalui audit dari Morgan Stanley yang berpusat di London, Inggris. “The Nin King itu orang baik, saya lepaskan saham ke dia, karena kalau tidak, GWK hanya akan jadi tumpukan besi dan tembaga yang membusuk di gudang. Itu pilihan yang paling rasional sekaligus paling pahit,” cetusnya.

Bagi Nuarta, keputusan melepas GWK adalah pengakuan bahwa idealisme seniman tak selalu selaras dengan logika bisnis. “Saya ingin GWK lahir sebagai monumen kebangsaan. Tapi bisnis punya logikanya sendiri-efisiensi, profit, manajemen. Itu bukan dunia saya,” ujarnya.

Ia mengaku, banyak yang menuduhnya “menjual” karya. Padahal, baginya, yang terpenting adalah keberlanjutan. “Kalau saya egois mempertahankan, GWK mungkin tak pernah selesai. Sekarang orang bisa lihat dan menikmatinya. Itu jauh lebih penting,” katanya.

Sejak awal, GWK juga tak lepas dari kontroversi soal makna simbolik. Ada yang menganggapnya sakral, ada pula yang menolak karena dianggap komersialisasi. “GWK bukan simbol agama. Ia monumen budaya, tempat orang belajar, tempat bangsa ini unjuk diri. Saya rancang untuk event internasional dengan standar keamanan tinggi,” tegasnya.

Bahkan setelah tragedi Bom Bali, GWK pernah dipilih sebagai lokasi peringatan karena dianggap salah satu tempat paling aman bagi tamu kenegaraan. “Budaya itu bukan hanya soal estetika. Ia juga soal daya tahan, soal bagaimana kita dikenang dunia,” tambahnya.

Belakangan, polemik soal tembok pembatas GWK memicu keresahan warga Banjar Adat Giri Dharma, Desa Adat Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung. Namun, Nuarta menolak ikut terseret. “Itu sudah bukan masa saya. Semua akses jalan ke dalam, dulu saya yang buat. Pagar baru muncul setelah saham saya lepas,” tandasnya.

Meski begitu, ia menuturkan, kala itu ia memiliki kedekatan dengan masyarakat sekitar, terutama warga Banjar Adat Giri Dharma,"Kalau tidak percaya, coba tanyakan bagaimana kita merawat hubungan baik. Bahkan dulu saya menyumbang ke banjar, dan masyarakat disana selepas kerja formal bisa "ngayah' di GWK," ungkapnya.

Tapi kalau untuk pemagaran sekeliling GWK itu diluar kewenangan saya,"Jangankan mikirkan pemagaran, mikir keberlanjutan proyek GWK aja saya sudah pusing," tuturnya, seraya menambahkan akses ke GWK memang terbuka, bisa darimana saja. "Bahkan sapi dan hewan peliharaan lain bisa juga masuk ke GWK," ucapnya menjelaskan.

Namun, secara pribadi Nurata beranggapan pemagaran yang dilakukan Alam Sutra mungkin saja demi keamanan lokasi, jika dilihat dari berbagai even Internasional yang kerap digelar di GWK.

Ia hanya berharap konflik hari ini tak mengaburkan makna besar GWK dan cepat berlalu, “Bagi saya, tugas sudah selesai. GWK berdiri. Ia jadi ikon Indonesia, dikenal dunia. Itu sudah lebih dari cukup,” ucapnya, menutup dengan suara pelan.

wartawan
ARW
Category

AHM Best Student 2026 Regional Bali, Siswi Tabanan Juara 1 Lewat Olahan Limbah Kulit Pisang

balitribune.co.id | Denpasar – Kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan mengantarkan Ni Putu Issabel Kirana Selena Devi, siswi SMAN 1 Tabanan, meraih Juara 1 AHM Best Student (AHMBS) 2026 tingkat regional Bali. Melalui inovasi olahan limbah kulit pisang menjadi abon nabati bernama Biu-Zy, Issabel sukses menjadi yang terbaik dan berhak mewakili Astra Motor Bali ke ajang AHMBS 2026 tingkat nasional.

Baca Selengkapnya icon click

Tinggalkan Sistem Manual, DPRD Bangli Terapkan Inovasi Berbasis Elektronik 

balitribune.co.id | Bangli - Sebanyak enam pejabat eselon IIB di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangli resmi meluncurkan proyek perubahan sebagai bagian dari Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Tahun 2026. Acara peluncuran tersebut berlangsung di Gedung Bhukti Mukti Bhakti (BMB) Kantor Bupati Bangli, Kamis (17/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Urgensi Armada Damkar di Kintamani untuk Pangkas Waktu Tanggap Kebakaran

balitribune.co.id | Bangli - Wacana penempatan armada mobil Pemadam Kebakaran (Damkar) di Kecamatan Kintamani telah berembus sejak sepuluh tahun terakhir. Meski demikian, hingga saat ini penempatan armada tersebut belum juga terealisasi.

Padahal, potensi terjadinya kebakaran di wilayah Kintamani tergolong cukup tinggi. Berdasarkan data setempat, tercatat sebanyak empat kasus kebakaran terjadi sejak Agustus hingga pertengahan September.

Baca Selengkapnya icon click

Urgensi Armada Damkar di Kintamani untuk Pangkas Waktu Tanggap Kebakaran

balitribune.co.id | Bangli - Wacana penempatan armada mobil Pemadam Kebakaran (Damkar) di Kecamatan Kintamani telah berembus sejak sepuluh tahun terakhir. Meski demikian, hingga saat ini penempatan armada tersebut belum juga terealisasi.

Padahal, potensi terjadinya kebakaran di wilayah Kintamani tergolong cukup tinggi. Berdasarkan data setempat, tercatat sebanyak empat kasus kebakaran terjadi sejak Agustus hingga pertengahan September.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

OJK Cabut Izin Usaha BPR Pasarraya Kuta, LPS Siapkan Proses Likuidasi

balitribune.co.id | Mangupura - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mencabut izin usaha PT Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Pasarraya Kuta setelah bank tersebut dinilai tidak mampu mengatasi persoalan permodalan dan likuiditas. Hal ini diungkapkan OJK melalui siaran persnya, Jumat (18/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Diduga Membuat Surat Palsu, Polisi Tahan Direktur Penanganan Sengketa Pertanahan Kementerian ATR I Made Daging 

balitribune.co.id | Denpasar - Tidak lama berselang setelah KPK menahan Dirjen Lampri Kementerian ATR/BPN RI dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor, giliran penyidik Ditreskrimsus Polda Bali menahan Direktur Penanganan Sengketa Pertanahan di Kementerian ATR/BPN RI,  I Made Daging A.Ptnh., M.H. 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.