Pelebon dan Upacara Perkawinan Marak di Gianyar | Bali Tribune
Bali Tribune, Sabtu 08 Agustus 2020
Diposting : 23 April 2020 22:07
I Nyoman Astana - Bali Tribune

balitribune.co.id | Gianyar - Meski Wabah Pendemi Covid 19 sudah menyerang warga Gianyar di seluruh kecamatan di Gianyar upacara adat seperti Pelebon hingga perkawinan tetap berjalan. Kondisi inipun membuat, jajaran Kepolisian dan TNI harus turun tangan untuk memastikan pembatasan keterlibatan warga dan protokol kesehatan dilaksanakan.

Seperti upacara pelebon Jro Mangku Istri Dadia Pasek Kayu Selem yang diselenggarakan, Kamis (23/4) kemarin­­­­ di Desa Adat Banda, Desa Saba, Blahbatuh.  Lantaran di desa setempat, sudah ada warga yang terpapar Covid 19, namun upacara harus dilaksanakan, pelaksanaannya pun mendapat perhatian dan pengawasan serius aparat terkait.  Sejumlah petugas Dari Polsek Blahbatuh diturunkan untuk memastikan  Intruksi Kapolri, Gubernur dan Bupati dijalankan. Demikian juga Satgas gotong royong setempat turut aktif agar  pelaksanaan pelobon hanya dilakukan oleh lingkungan keluarga.

Pelebon yang biasanya dipenuhi warga,  kini hanya melibatkan sekitar  25 orang di pekarangan rumah duka. Sejumlah sesajen untuk upakara pun diangkut menggunakan mobil pickup. Sejumlah polisi dan tentara berjaga-jaga disepanjang jalan. Hingga upacara pelebon selesai, situasi berjalan aman dan lancar sesuai arahan satgas gotong royong desa adat. “ Tidak hanya sebatas mengeluarkan himbaun, kami juga menerapkan kebijakan membatasi keterlibatan warga dalam kegiatan upacara, “ ungkap Bedesa Desa Adat Banda, I Wayan Balik.

Kondisi yang sama juga terlihat saat upacara perkawinan antara Gusti Putu Budiartha dengan dari Desa Adat Tatiapi Kelod, Pejeng Kawan, Tampaksiring.  Lantaran upacar harus dilaksanakan dalam situasi wabah, prosesi pun berjalan sederhana tanpa kehadiran kerabat maupun temannya karena larangan untuk tidak membuat keramaian. “Pernikahan ini sudah  kami rencanakan jauh sebelum pandemic Covid-19. Kami sudah mematuhi aturan untuk tidak membuat upacara yang melibatkan orang banyak, bapak-bapak dari Babinkantibmas dan Babinsa juga ikut memantau ,”ungkap Gusti Budiartha.

Sebelum melangsungkan pernikahan, Rah Artha mengaku telah meminta masukan dari berbagai pihak termasuk Kelihan adat Banjar Tatiapi Kelod. Dalam mempersiapkan upacara pernikahannya juga tidak melibatkan tetangga maupun warga sekitar. Mengingat upacara telah disiapkannya sejak lama, orang tuanya telah mencicil pembuatan sarana upakara sejak dulu.  “Kami tetap bahagia, meski hanya dihadiri keluarga tanpa ada resepsi ataupun undangan bagi teman dan kerabat,” pungkasnya.