Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Pemilu Curang

Bali Tribune

Oleh: Izarman

Rasa percaya diri yang berlebihan (overconffident) dari kedua kontestan Pemilu 2019 akan memenangkan kontestasi merupakan sesuatu yang berbahaya bagi keutuhan NKRI. Keduanya merasa seakan sudah menguasai negara yang besar ini dan akan mengelolanya dengan cara sendiri-sendiri. Visi-misi dan program-program yang ditawarkan, kendatipun banyak ‘dilepeh’ rakyat, seolah menjadi solusi terbaik dan satu-satunya cara untuk memajukan Indonesia dari Sabang sampai Marauke.

Kedua kontestan merasa haqul yakin, kalau pihaknya kalah Indonesia akan hancur. Kalau lawan yang menang maka rakyat akan menderita. Narasi itu sangat masif mengisi ruang publik, di panggung-panggung kampanye, di media mainstrem, apalagi media sosial.

“Jangan percayakan negeri yang besar ini dipimpin orang yang belum berpengalaman,” kata yang satunya.

“Jangan mau dibohongi untuk yang kedua kalinya,” teriak lawannya.

Rakyat awam tercengang-cengang. Sementara para pendukung terengah-engah, bekerja siang malam memasangi spanduk, kampanye door to door, mengumpulkan massa untuk memenuhi undangan. Otak mereka berputar seperti gasing. Berpikir keras mencari solusi, inovasi dan kreasi untuk meyakinkan pemilih, dan yang terpenting mencari kelemahan lawan.

Mencari kelemahan lawan, lalu mempertontonkannya ke publik menjadi senjata untuk melunturkan rasa simpati pemilih. Sekaligus tameng untuk menutupi kelemahan diri sendiri. Apalagi kalau dibumbui hoaks, sekelebat menjadi virus menyebar meracuni pikiran yang kodratinya jernih. Tak peduli dengan cara membully, menghina, mencaci maki bahkan menfitnah. Perbuatan yang dibenci agama itu pun ‘dihalalkan’ demi syahwat berkuasa, lima tahun sekali.

Hoaks yang diprodusi secara terstruktur, sistematis dan masif  (TSM) oleh kedua kubu, merupakan awal dari perpecahan yang sesungguhnya di negeri ini. Polarisasi yang terbentuk sejak Pilpres 2014 semakin menggelembung, dan menunggu saatnya pecah pasca Pilpres 2019 nanti. Setidaknya, hal ini sudah dimulai dengan statemen-statemen provokatif dan agitatif  “perang badar melawan perang total” semasa kampanye ini.

Kampanye damai yang pernah disepakati, kini menjadi macan kertas. Pelanggaran terjadi di mana-mana. Laporan demi laporan masuk ke Bawaslu dan pihak Kepolisian. Pelanggaran pidana, malah lebih banyak daripada pelanggaran pemilu, khususnya yang berkaitan dengan UU ITE. Ujaran kebencian bahkan fitnah melalui hoaks bersileweran. Masing-masing berlomba menjadi orang pertama yang menemukan ‘informasi sesat’ kemudian men-sharenya ke medsos.

Akibat hoaks, rakyat Indonesia seperti ‘dipaksa’ untuk menjadi dungu. Sesuatu yang benar dicari-cari pembenarannya agar tampak salah. Berpikir menggunakan akal sehat menjadi barang yang langka. Mengeritik infrastruktur dengan mandi lumpur. Berteriak kelaparan, sementara mulut penuh makanan. Shalat (beribadah) di lapangan monumen nasional (Monas), sementara tidurnya di Masjid Istiqlal. Idola—pejuang akal sehat—yang ‘kafir’ disambut selawat dan takbir.    

Semua paradoks dan kemunafikan dipertontonkan elit politik dan para pendukungnya. Aslinya feodal, penampilan milenial. Isinya bisnis, bungkusnya agamis. Ucapannya mengajak persatuan, perbuatannya memancing perpecahan. Sengaja berbuat (berbicara) salah dulu, setelahnya minta maaf. Teriaknya pro-rakyat, tapi menguasai tanah di seantero negeri.    

Potensi perpecahan bangsa tidak saja dari akibat berbiaknya hoaks, tapi yang lebih berbahaya dari narasi ‘pemilu curang’ yang datang dari penantang. Wajar, sebab mereka merasa berada di luar kekuasaan. Walau perangkat KPU dibentuk atas persetujuan DPR RI—sebagai representasi atau wakil rakyat—tetapi karena anggarannya berasal dari pemerintah, mustahil KPU independen.

Ancaman mundur dari kontestasi Pilpres yang pernah dilontarkan kubu penantang BPN Prabowo-Sandi apabila KPU tidak netral, menjadi isyarat berbahaya bagi demokrasi Indonesia. Hal itu bisa diartikan pemilu langsung yang sudah disepakati tidak bakal melahirkan pemimpin terbaik bangsa, melainkan siapa yang ‘paling culas’ menipu rakyatnya. Komisi pemilihan umum (KPU) diragukan independensinya serta tidak berlaku sebagai wasit, melainkan ikut membantu calon petahana. Netralitas institusi negara, termasuk pihak keamanan mulai dari Polri, TNI, dan BIN juga diragukan.       

Maka upaya-upaya delegitimasi KPU sebagai penyelenggara pemilu dilakukan secara terencana, dan lagi-lagi menggunakan hoaks. Mulai dari hoaks DPT ganda 25 juta, KTP tercecer yang akan digunakan untuk memenangkan petahana, 7 kontainer surat suara yang sudah tercoblos 01 di Pelabuhan Tanjungpriuk, kotak suara kardus, WNA punya hak pilih, sampai surat suara yang sudah dicoblos di Sumatera Utara, dan entah apalagi menjelang tanggal 17 April 2019 nanti.

Narasi ini disampaikan secara terbuka oleh pihak penantang—seolah-olah mengingatkan rakyat Indonesia—bahwa mereka dikalahkan oleh kecurangan. Lalu hasil-hasil survei yang memenangkan penantang pun dibeberkan, dipublikasikan berulang-ulang sampai terbentuk opini bahwa penantang sudah menang pemilu. Karenanya, apapun hasil penghitungan quit count maupun manual KPU usai pencoblosan nanti, tidak layak dipercaya rakyat, sebab merupakan hasil rekayasa KPU – Petahana (penguasa).

Sampai pada tataran ini, maka demo dan anarkisme oleh pihak yang kalah karena merasa dicurangi menjadi sebuah permakluman: sesuatu yang memang seharusnya dilakukan. Kantor KPU di seluruh Indonesia, berikut rekap hasil pemilihan menjadi titik rawan dari aksi pembakaran (pemusnahan). Chaos akibat penolakan hasil Pemilu 2019 menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi pihak TNI dan Kepolisian.

Pemilu merupakan proses demokrasi untuk memilih wakil rakyat (legislatif) dan pemimpin negara (eksekutif). Indonesia sudah melaksanakan 11 kali Pemilu sejak 1955. Pemilu 2019 merupakan yang ke-12. Dua pemilu terakhir (2014 dan 2019), khusus untuk calon presiden mempertemukan calon yang sama yakni Jokowi – Prabowo. Persaingan sangat ketat, dan cenderung tidak sehat.

Asas pemilu yang dulu akrab di telinga yakni Luber (langsung, umum, bebas, rahasia) serta Jurdil (jujur dan adil), terdegradasi oleh kemajuan teknologi. Khususnya untuk pengertian rahasia, sebab melalui medsos saat ini kita tahu siapa saja yang mendukung 01 dan 02. Netizen dengan bangga dan ‘semangat 45’ memasang logo jagoannya di wall FB, Instagram, Twitter dan WA masing-masing. Maka kritik-puji, caci-maki antar-pendukung di medsos (dunia maya), sering terbawa ke dalam pergaulan di dunia nyata.

Ada filosofi kontestasi dalam pesta demokrasi yang seharusnya dipegang: Menang bermartabat, kalah terhormat. Sebagai calon pemimpin terbaik bangsa dan negara yang berpenduduk lebih dari 259 juta jiwa, kedua capres/cawapres sejatinya adalah negarawan. Mereka adalah tokoh yang sedang berjuang berebut kekuasaan sesuai konstitusi. Namun dalam proses perebutan kekuasaan itu seharusnya mereka lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, yakni keutuhan NKRI, daripada keuntungan pribadi dan kroni. ***

wartawan
habit
Category

Bupati Badung Dukung Temu Wicara UMKM dan Penyerahan Sertifikat HKI Provinsi Bali Tahun 2026

balitribune.co.id | Mangupura - Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa didampingi Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan temu wicara bersama UMKM terkait Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Manajemen Usaha, yang dirangkaikan dengan Penyerahan Sertifikat HKI Provinsi Bali Tahun 2026, yang digelar di Kabupaten Klungkung, Rabu (1/4/2026).

Baca Selengkapnya icon click

BKDPSDM Bangli Isyaratkan Pelayanan Publik Tak Tersentuh Penerapan WFH

balitribune.co.id | Bangli - Pola Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah secara resmi mulai diterapkan oleh pemerintah pusat per tanggal 1 April 2026. Yang mana, jadwal WFH diberlakukan satu hari dalam sepekan yakni pada hari Jumat dengan menyasar kalangan ASN. Sementara untuk unit pelayanan publik yang strategis tetap berjalan i seperti biasa.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Pajak Bali Menguat di Awal 2026, Pariwisata dan Perdagangan Dorong Kinerja

balitribune.co.id I Denpasar - Kinerja penerimaan pajak di Provinsi Bali menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Hingga Februari 2026, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Bali berhasil menghimpun penerimaan pajak sebesar Rp2,25 triliun atau 9,26 persen dari target tahun 2026 sebesar Rp24,31 triliun.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Buruh Proyek Curi Mobil Mandornya yang Lagi Mudik

balitribune.co.id I Tabanan - Seorang buruh proyek berinisial MY (33) asal Bondowoso, Jawa Timur, ditangkap gara-gara mencuri mobil milik mandornya sendiri. Aksi pencurian ini dilakukan MY di sebuah garasi terbuka yang berada di sekitar perumahan Graha Sanata, Banjar Kutuh Kelod, Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan.

Baca Selengkapnya icon click

Konflik di Timur Tengah Dapat Berdampak Pada Perguruan Tinggi Pariwisata

balitribune.co.id I Badung - Perguruan tinggi pariwisata mulai mengkhawatirkan dampak dari konflik geopolitik di Timur Tengah jika terjadi berkepanjangan. Pasalnya, ketegangan antarnegara di Timur Tengah akan berpengaruh terhadap terbatasnya pergerakan masyarakat di negara-negara tersebut khususnya yang ingin melakukan perjalanan wisata ke suatu destinasi termasuk ke Bali. 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.