balitribune.co.id I Mangupura - Pemerintah Kabupaten Badung membagi pengelolaan sampah berdasarkan wilayah untuk mengantisipasi penutupan permanen TPA Suwung mulai 1 Agustus 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Badung I Made Agus Aryawan, mengatakan saat ini pengelolaan sampah di Badung dilakukan melalui dua skema utama.
Untuk wilayah Kuta, sampah organik ditampung sementara di TPST Padang Sumbu, baik yang diangkut armada DLHK maupun jasa angkut swasta. Sementara itu, sampah organik dari wilayah Kuta Utara, Mengwi, dan Abiansemal diarahkan ke TPST Mengwitani.Untuk wilayah Kuta Utara, Mengwi, dan Abiansemal, seluruh sampah organik diarahkan ke TPST Mengwitani, ujar Aryawan, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, sistem di Kuta Utara relatif lebih terkendali karena telah didukung operasional TPS3R dan pemanfaatan lahan terbuka untuk pengolahan kompos.
Kebijakan pembagian wilayah tersebut juga berlaku bagi pelaku usaha, terutama hotel, restoran, dan kafe, yang diwajibkan memilah sampah menjadi organik, anorganik, dan residu. Selain memilah, pelaku usaha juga didorong mengolah sampah organik secara mandiri sebelum residu dikirim ke tempat pengolahan.
Di sisi lain, Pemkab Badung juga tengah menyiapkan pengadaan tiga unit mesin Refuse-Derived Fuel (RDF) yang rencananya ditempatkan di TPST Mengwitani. Mesin RDF tersebut akan digunakan untuk mengolah sampah residu menjadi bahan bakar alternatif bagi industri, seiring kebijakan penghentian pengiriman residu ke TPA Suwung setelah 1 Agustus 2026.