balitribune.co.id I Gianyar - Ketersediaan BBM bersubsidi jenis Pertalite di sejumlah wilayah Bali menjadi sorotan setelah muncul laporan kelangkaan yang berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama nelayan. Kondisi tersebut mendorong Anggota DPR RI I Nyoman Parta meminta pemerintah bersama Pertamina melakukan evaluasi menyeluruh terhadap distribusi BBM subsidi.
Saat meninjau salah satu SPBU di Kabupaten Gianyar, Nyoman Parta mendapati stok Pertalite dalam kondisi kosong. Menurutnya, fenomena tersebut diduga berkaitan dengan meningkatnya konsumsi Pertalite setelah harga Pertamax mengalami kenaikan.
Ia menilai perubahan pola konsumsi masyarakat berpotensi meningkatkan beban subsidi sekaligus mengurangi ketersediaan Pertalite bagi kelompok yang selama ini bergantung pada BBM bersubsidi, seperti nelayan dan petani.
Selain di Gianyar, Nyoman Parta mengaku menerima laporan serupa dari Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Buleleng. Di kedua daerah tersebut, nelayan disebut mengalami kesulitan memperoleh Pertalite sehingga mengganggu aktivitas melaut.
Sementara itu, Ketua Kelompok Nelayan Desa Lebih, I Made Ana, mengatakan kelangkaan Pertalite memaksa sebagian nelayan membeli Pertamax dengan harga yang lebih tinggi. Kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya biaya operasional melaut.
Ia menjelaskan, rekomendasi pembelian Pertalite yang diterima nelayan dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gianyar hanya sebesar 10 liter, sedangkan kebutuhan untuk sekali melaut mencapai sekitar 40 liter.
Karena itu, para nelayan berharap pemerintah menambah kuota Pertalite serta memastikan distribusi BBM bersubsidi berjalan lancar agar pasokan tetap tersedia bagi masyarakat yang berhak menerimanya. Di sisi lain, Nyoman Parta menegaskan perlunya evaluasi distribusi oleh Pertamina dan pemerintah agar kelangkaan Pertalite tidak terus berulang.