Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Relasi Antagonistik Penguasa dan Oposisi (1)

Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Ketika mengapresiasi komentar Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang memuji Jokowi soal reaksi cepat terhadap dampak bencana Palu-Donggala, Sekjen PSI Raju Juli Antoni menilai SBY sebagai oposisi yang baik (Detik.com, 18/9). Sebaliknya terhadap Gerindra yang menyindir Jokowi tidak sensitif soal anggaran sidang IMF-WB, Sekjen PPP Asrul Sani menilai sebagai oposisi yang buruk (Bali tribune  , 12/10). Sementara tekanan Fraksi PDIP DPRD Bali, kepada Gubernur Wayan Koster (usungan PDIP) untuk segera melaksanakan janji kampanye, dinilai sebagai 'Pendukung' yang rasional. (Bali Tribune , 10/10). Fakta dan narasi politik ketiga politisi inilah yang menjadi titik berangkat Penulis untuk mengangkat tulisan di bawah judul: 'Relasi Antagonistik Penguasa dan Oposisi'. Opposition lazim diterjemahkan menjadi oposisi. Kata itu berasal dari bahasa Latin oppōnere, yang berarti menentang, menolak, melawan. Nilai konsep, bentuk, cara, dan alat oposisi itu bervariasi. Nilainya antara kepentingan bersama sampai pada kepentingan pribadi atau kelompok. Oposisi dalam dunia politik berarti partai penentang di dewan perwakilan yang menentang dan mengkritik pendapat atau kebijaksanaan politik golongan yang berkuasa agar tidak terjadi abuse of power. Dengan demikian, partai oposisi dalam pemerintahan demokrasi adalah urgen. Urgensitasnya bahkan sama dengan keberadaan penguasa/partai yang sedang atau dalam 'posisi' berkuasa. Mengapa? Karena kekuasaan yang tidak dikontrol oleh kekuatan pengimbang (oposisi), cenderung korup dan otoriter. Sesuai dengan quotes ‘Power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely’ dari Lord Acton, sebuah pemerintahan yang absolut diyakini akan melahirkan keburukan yang absolut pula. Karena itulah, pemerintah membutuhkan kelompok oposisi untuk menjaga supaya pemerintahannya tidak absolut. Meski demikian, tugas dan tanggung jawab oposisi dalam penyelenggaraan negara tidak hanya untuk menentang penguasa. Oposisi sebaiknya mengambil peran sebagai lawan tanding yang baik seperti dalam dunia olahraga tinju misalnya. Keberadaannya justru untuk membantu menunjukkan kepada sang petinju andalan tentang kelemahan yang harus diperbaiki dan kelebihan yang wajib dipertahankan. Tujuan lawan tanding pun sama: agar sang petinju menang dalam tarung sungguhan. Dalam hal ini, kita bisa bercermin pada negeri pelopor demokrasi dunia, Amerika Serikat. Partai Demokrat dalam banyak hal memberikan dukungan kepada pemerintah yang dikuasai Partai Republik, terutama dalam hal perlindungan kepada warganya di luar negeri dan kebijakan war on terrorism. Demikian pula sebaliknya jika Partai Demokrat berkuasa. Hal yang sama juga mesti dijunjung penguasa dan partai pendukung kekuasaan (posisi) di Indonesia saat ini. Dia tidak harus membungkam kritik dengan kekuatan tentara dan polisi. Dia juga tidak boleh berusaha menggerus pilar-pilar kekuatan oposisi untuk tidak berdaya atau menjadi tidak ada. Parpol pendukung kekuasaan pun, tidak selalu harus memuji sang Penguasa di ruang publik. Dia sewaktu-waktu wajib mengingatkan hal yang patut atau tidak patut dilakukan penguasa seperti yang diperlihatkan Fraksi PDIP DPRD Bali terhadap Gubernur Wayan Koster pada sidang paripurna kemarin.  Seiring dengan perkembangan sistem pemerintahan di dunia, oposisi akhirnya muncul dalam beberapa varian konseptual. Saat ini setidaknya ada empat konsep oposisi yang pernah dan sedang berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia dengan derajat yang bervariasi. Pertama, Oposisi Seremonial.  Artinya  ‘oposisi tipu-tipu’ atau oposisi yang dibentuk hanya untuk formalitas saja. Oposisi seremonial sengaja dibentuk oleh pemerintah yang berkuasa supaya rakyat melihat sistem pemerintahan yang ada seakan-akan seimbang. Padahal orang-orang yang berada dalam oposisi, kedudukan, fungsi, hingga keputusan-keputusan yang diberikan telah ditentukan oleh penguasa. Taktik seperti itu pernah dimainkan Pak Harto di masa Orde Baru dengan berusaha mendrop H. Jaelani Naro ke dalam pusaran kompetisi Muktamar PPP pada Agustus 1984 dan berhasil memenangkan Muktamar menjadi Ketua Umum PPP. Posisi itu direbut Naro dengan back up pemerintah setelah terus-menerus cekcok di internal partai. Itulah muktamar pertama PPP sejak berdiri, 11 tahun sebelumnya. Presiden Soeharto, yang hadir bersama Wapres Umar Wirahadikusumah pada pembukaan muktamar di Balai Sidang, Senayan, Jakarta, menyebutnya sebagai proses panjang yang memerlukan kesabaran, kesiapan, sambil menunggu saat yang tepat. 

wartawan
Mohammad S. Gawi
Category

Pemkab Bangli Gelar Upakara Tumpek Uye, Tegaskan Komitmen Pelestarian Alam dan Satwa

balitribune.co.id | Bangli - Pemerintah Kabupaten Bangli melaksanakan Upakara Tumpek Uye untuk mengimplementasikan Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi demi mewujudkan Bali Era Baru. Ritual sakral tersebut dipusatkan di Pura Dalem Prajapati, Desa Adat Sidembunut, Kelurahan Cempaga, Kecamatan Bangli, Sabtu (5/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

SIBER TABANAN Resmi Diluncurkan, Akses Data Kesehatan Publik Kini Lebih Mudah dan Real-Time

balitribune.co.id | Tabanan - Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Tabanan resmi memperkenalkan dan mengimplementasikan inovasi Aksi Perubahan sistem kerja baru bertajuk SIBER TABANAN (Sistem kerja BERkelanjutan, Terintegrasi, Aktual, Berorientasi hasil, terpadu, daN AkuNtabel). 

Baca Selengkapnya icon click

Hari Pelanggan Nasional, Honda Hadirkan Kejutan Spesial untuk Konsumen

balitribune.co.id | Jakarta – Memperingati Hari Pelanggan Nasional 2026, PT Astra Honda Motor (AHM) bersama 29 jaringan main dealer sepeda motor Honda di seluruh Indonesia turut memeriahkan dengan beragam aktivitas apresiasi bersama konsumen. Kegiatan memanjakan konsumen ini akan berlangsung hingga akhir September dengan melibatkan ribuan pelanggan melalui aktivitas seru yang dapat memberikan pengalaman yang berkesan dan personal.  

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Sepenuh Hati Memahami, Telkomsel Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026 di GraPARI Renon

balitribune.co.id | Denpasar – Memperingati Hari Pelanggan Nasional 2026, Telkomsel mengusung semangat “Sepenuh Hati, Memahami” sebagai bagian dari komitmen “Melayani Sepenuh Hati”. Melalui momentum ini, Telkomsel Regional Bali Nusra menghadirkan rangkaian interaksi dan apresiasi bagi pelanggan di GraPARI Renon Denpasar.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.