Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Saksi Hidup Perjuangan Kemerdekaan, Nasib Kakek Ekhsan Memprihatinkan, Belum Masuk Veteran

TNI
Kakek Ekhsan

BALI TRIBUNE - Salah seorang pelaku sejarah sekaligus saksi atas perjuangan bangsa Indonesia menghadapi penjajahan diwilayah Jembrana, Ekhsan (115 th) asal Dusun Pangkung Dedari, Melaya kini menjalani kehidupannya yang sangat memprihatinkan. Dalam kondisi yang sakit-sakitan karena usianya yang sudah renta, kakek Ekhsan ini kini menghuni rumah tua yang bocor dan sebagian juga terbuat dari gedek. Bahkan penglihatan kakek kini sudah rabun karena faktor usia. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kakek menghandalkan pemberian anak-anaknya yang juga tidak mampu dan menempati gubuk bambu yang sudah reot.

Namun di usia yang sudah uzur, daya ingat kakek yang memiliki 12 orang anak dan banyak cicit ini masih cukup kuat. Ditemui, Kamis (14/12), saat pelaksaanaan bedah rumah dalam rangka Hari Juang Kartika 2017, Kakek Ekhsan menceritakan dirinya termasuk salah satu saksi sejarah dijaman penjajahan silam. Saat zaman perjuangan kakek mengaku membantu pamannya Mat Nur yang tergabung dalam Pemuda Gerilya Indonesia mengontrol senjata dan granat yang disembunyikan di hutan di dekat wilayah Kaliakah yang kini sudah didirikan  monumen bersejarah.Kakek yang pernah mengenyam pendidikan hingga dijenjang Sekolah Rakyat (SR) yang ada di Negara ini juga masih ingat dengan sejumlah lagu-lagu yang sering dinyanyikan saat zaman perjuangan dulu. Bahkan beberapa lagu sempat dinyanyikan kakek baik Jepang dan Indonesia.

Saat zaman perjuangan atau revolusi Nasional Indonesia kakek juga sempat terlibat membantu dalam pergerakan secara gerilya tersebut. "Kalau kontak senjata langsung kami pemuda tidak ikut. Masing-masing ikut membantu sesuai caranya masing-masing. Saya hanya mengontrol senjata milik kita Indonesia saja yang disembunyikan di semak-semak. Nanti diambil prajurit Indonesia," tuturnya. 

Kakek yang sempat berpindah tempat tinggal dari Desa Tegal Badeng ke Pangkung Dedari ini juga mengaku ketika zaman Jepang saat dirinya berusia 25 tahun sempat direkrut sebagai pasukan Seinendan (tentara sukarela) yang dilatih untuk mempertahankan tanah air dengan kekuatan sendiri. "Panjang perjuangan kami," kata saksi hidup sejarah ini. Meskipun hidup dalam keprihatinan tidak mampu secara ekonomi namun ia mengaku tidak pernah mengeluh. "Saya hidup apa adanya. Sekarang ini dah minta saja sama anak sudah tidak mampu apa-apa," jelasnya.

Meskipun sempat ikut berjuang untuk meraih kemerdekaan saat zaman perjuangan namun Kakek Ekhsan hingga kini tidak masuk sebagai anggota veteran. Ia mengaku tidak sempat untuk mengurusnya.  "Apa yang kami lakukan iklas dan teman-teman seperjuangan saya sudah banyak yang tiada. Hanya saya yang masih," kenangnya. 

Dengan semangat ia berpesan kepada generasi muda untuk menjaga persatuan dan kesatuan karena kini banyak pihak yang berupaya memecah belah keutuhan bangsa Indonesia. "Tugas bapak-bapak baju hijau untuk mempertahankan," pesannya kepada sejumlah anggota TNI dari Koramil Melaya dan Babinsa Melaya yang juga ikut datang ke rumahnya. Ia juga berpesan petugas aparatur pemerintah untuk melaksanakan program pemerintah pusat untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia. "Ikuti program presiden. Perbaiki jalan-jalan rusak, bantu rakyat miskin dan bantu bedah rumah rakyat tidak mampu," tuturnya.

Salah seorang anak kakek Ekhsan, Taslim mengatakan kendati dulu ayahnya itu pernah memiliki dokumen bukti-bukti yang menyatakan ikut dalam perjuangan bahkan pernah punya kartu namun ayahnya tidak bisa mengurus untuk bisa masuk sebagai anggota Veteran karena dokumen milik ayahnya itu hilang.

wartawan
Putu Agus Mahendra
Category

Mudik Sisakan Tumpukan Sampah di Kargo Gilimanuk

balitribune.co.id I Negara - Arus mudik yang baru saja usai, menyisakan persoalan pelik di pintu gerbang Pulau Bali. Puluhan kilometer antrean kendaraan tak hanya meninggalkan jejak lelah, tetapi juga “warisan” berupa tumpukan sampah yang terkumpul kawasan Terminal Kargo hingga jalan-jalan lingkungan di Kelurahan Gilimanuk.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Terseret Truk Sejauh 7 Meter, Nenek Meninggal di Tempat

balitribune.co.id I Tabanan - Seorang nenek berusia 77 tahun, Ni Nengah Wasti, di Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan meninggal dunia di tempat setelah tertabrak dan terseret truk sejauh tujuh meter pada Senin (23/3/2026) pagi.

Peristiwa nahas tersebut terjadi saat korban tengah menyeberang jalan di kawasan permukiman penduduk, tepatnya di lingkungan Banjar Bantiran Kelod, sekitar pukul 05.30 Wita.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Berikan Penghargaan Tertib Administrasi, Wabup dan Ketua WHDI Badung Serahkan Akta Kematian

balitribune.co.id | Mangupura - Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta, menunjukkan komitmen pelayanan publik yang responsif dan humanis dengan melayat ke rumah duka almarhum Sang Bagus Nyoman Arka di Jalan Poppies Line II, Gang Ronta, Banjar Pering, Kuta, Senin (23/3/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.