balitribune.co.id | Tabanan - Sepeda motor jenis matic warna putih dengan plat nomor DK 4111 GBB yang dikendarai Luh Gede Puspasari (19), korban terseret arus Tukad Yeh Ho yang hendak menyeberang dari arah Kerambitan ke Selemadeg Timur, Jumat (7/10) malam ditemukan dalam keadaan rusak berat. Sementara petugas gabungan masih berupaya mencari korban sampai ditemukan.
Kapolsek Kerambitan AKP Luh Komang Sri Subakti menyebutkan, sepeda motor ditemukan di dekat pura Semulunga Senin sekitar pukul 06.30 Wita.
"Sepeda motor ditemukan bersama dengan surat-surat berharga dan kartu identitas atas nama Luh Gede Puspasari, sepeda motor ini ditemukan sekitar 1 km dari bibir Pantai Abian Kapas," jelasnya.
Kapolsek Sri Subakti menyebutkan pihak keluarga korban sudah mengakui jika sepeda motor itu adalah sepeda motor yang dikendarai oleh Luh Gede Puspasari. Saat ini sepeda motor sudah diserahkan kepada pihak keluarga.
Sri Subakti menambahkan, proses pencarian masih dilakukan dengan menyusuri Tukad Yeh Ho dari lokasi terseretnya korban yakni di jembatan penghubung Desa Tangguntiti dan Beraban sampai ke Pantai Abian Kapas dan berlanjut ke Pantai Pacung. Berbagai prosesi skala niskala sudah diupayakan oleh pihak keluarga korban. Sementara penyisiran dari titik kordinat penemuan barang bukti berupa kendaraan sepeda motor dan barang - barang korban atas nama Luh Gede Puspasari masih nihil.
"Bantuan dari beberapa nelayan seputaran Batu Mejan, Sawung Galuh yang menyusuri sepanjang laut pantai Selatan masih nihil ada tanda - tanda korban mengapung terbawa air laut yang cukup pasang sejak kejadian pada tanggal 7 Oktober 2022 lalu," bebernya.
Sementara itu, ayah korban, Made Diarta menyatakan sudah ikhlas dengan kejadian yang menimpa anaknya.
"Kami dari pihak keluarga sudah ikhlas atas apa yang menimpa anak kami, yang sekarang kami inginkan adalah anak kami segera bisa ditemukan sehingga bisa diupacarai," jelasnya, Senin (10/10/2022).
Diarta menyebutkan beberapa upaya sudah dilakukan untuk mencari keberadaan korban. Salah satunya adalah menempuh jalan niskala. Yakni dengan memanggil korban dengan gong (beleganjur) dan menghaturkan banten pengulapan serta banten penebusan.
"Dari upaya nislaka yang kami lakukan, yakni bertanya kepada orang pintar, kami mendapat petunjuk jika ini sudah jalan anak kami. Dari petunjuk tersebut, anak kami minta dijemput karena kedinginan dan tidak bisa bernapas. Dari orang pintar itu, kami juga mendapat informasi jika jenazah anak kami posisinya berpegangan pada akar pohon besar di dekat jembatan, sehingga kami fokuskan pencarian di lokasi yang dimaksud," ungkapnya.