Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Soal Siswa SMP di Buleleng Belum Bisa Baca Tulis, Sudah Ingatkan 10 Tahun Lalu

Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya
Bali Tribune / Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya

balitribune.co.id | Singaraja - Kendati Buleleng menyatakan sebagai kota pendidikan, namun potret buram dunia pendidikan Buleleng terungkap melalui pernyataan yang mengejutkan dari Ketua Dewan Pendidikan Buleleng I Made Sedana. Dalam pernyataannya Sedana menyebut ratusan siswa pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Buleleng tidak bisa membaca disebabkan karena berbagai faktor. 

Menurut Sedana bersama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng setempat menghimpun data bahwa hampir sekitar 400 orang anak lebih masih bermasalah pada bidang membaca dan mengeja. Bahkan banyak diantaranya tidak bisa membaca sama sekali.

Melihat kondisi itu, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya mengaku prihatin. Kendati demikian ia mengaku sudah memberikan warning kepada para pihak akan terjadi hal itu sejak 10 tahun lalu, namun faktor kemiskinan tidak bisa dihindarkan menjadi penyebab nomor satu kondisi tersebut.

Ngurah Arya juga menyayangkan pernyataan dari Ketua Dewan Pendidikan Buleleng I Made Sedana yang baru mengungkap soal itu. Padahal kondisi itu sudah lama bisa diprediksi bakal terjadi. Terlebih Made Sedana memiliki latar belakang pendidikan dengan menjadi pegawai di Dinas Pendidikan tentu mengetahui keadaan pendidikan di Buleleng.

"Pastinya beliau (Made Sedana) mengetahui keadaan pendidikan di Buleleng. Bahkan adanya kemungkinan siswa SMP yang tidak bisa baca, tulis  dan hitung (calistung) 10 tahun silam sudah saya sampaikan dalam HUT PGRI saat itu,” ujar Ngurah Arya, Senin (7/4).

Kondisi itu menurut Arya merupakan potret buram dalam dunia pendidikan di Buleleng. Karena itu dalam setiap kali kesempatan Ngurah Arya mengaku menyampaikan ke khawatirannya terhadap kualitas pendidikan di Buleleng yang kurang memenuhi standar.

“Dilevel anak-anak yang memiliki kemampuan materi tentu tidak bermasalah karena sudah mengenyam pendidikan sejak usia Paud pasti sudah bisa calistung. Yang bermasalah usia anak sekolah berada dilingkaran kurang mampu tentu memiliki keterbatasan. Padahal dasar pendidikan seorang anak itu harus bisa membaca, menulis dan menghitung.” imbuhnya.

Menurut Arya, kepada pengurus PGRI ia sampaikan untuk menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dialokasikan untuk biaya les tambahan untuk siswa  Sekolah Dasar (SD) dari Kelas 1 hingga kelas 6.

Ia pun menyebut tiga faktor pendukung dalam dunia pendidikan yang saling melengkapi. Diantaranya tenaga pendidik, infrastruktur yang memadai dan sarana prasarana tanggap pendidik.

“Soal kualitas tenaga pendidik guru-guru sekarang hebat ya, tapi soal pengalaman kita tidak munafik karena pola mengajar berbeda dengan yang dulu. Yang lama itu bukan jelek tapi ada beberapa yang seharusnya di adopsi dan dikolaborasikan untuk mengetahui karakter anak didik,” sambungnya.

Ia pun berharap kondisi itu akan di respon oleh Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna  terutama di 100 hari mengawali kepemimpinannya. Dengan terobosan yang visioner akan menjadi momentum bahwa pola kepemimpinan akan berbeda dari sebelumnya.

“Yang kemarin bukan jelek tapi ada yang dilengkapi. Selaku Ketua DPRD Buleleng kita akan bersinergi memberikan yang berbaik untuk melengkapi yang luput dati perhatian,” ucapnya.

Untuk mengatasi kondisi itu, Ngurah Arya telah meminta kepada anggota dewan untuk turun dimasing-masing daerah pemilihan (dapil) agar datang ke sekolah-sekolah untuk membuat pemetaan dan memastikan kemampuan membaca dan menulis siswanya.

Amanat undang-undang menyebutkan bahawa orang merdeka itu merdeka belajar karena dari belajar anak-anak itu akan mengetahui banyak hal. Dari cara itu akan ditemukan data berapa banyak pelajar setingkat SD memiliki kemampuan baca dan tulis.

“Kebetulan dengan kondisi keuangan yang tengah efisiensi kita akan bisa lebih fokus memperhatikan kondisi pendidikan sehingga mengetahui kemampuan baca tulis siswa di masing-masing dapil. Bila perlu kita membuat grup les anak-anak dengan anggaran dari kantong sendiri untuk memastikan 99 persen mereka sudah bisa calistung,” kata Arya.

Terkait kurikulum merdeka belajar, menurut Arya hanya jargon semata karena terbukti tidak memberikan kontribusi signifikan buat dunia pendidikan. Menurutnya, hingga hari ini, anak-anak belum merdeka belajar. Penyebabnya hampir 40 persen infrastruktur pendidikan belum selasai.

“Kemerdekaan itu terjadi ketika fasilitas pendidikan bagus, sarana prasarana lengkap, tenaga pendidiknya bagus dan berkualitas, itu baru merdeka dalam proses belajar mengajar,” ungkapnya.

Sementara itu, alokasi anggaran untuk pendidikan di Buleleng dalam postur APBD Buleleng menurut Arya, sudah sangat memadai, hampir 40 persen dari total anggaran sebesar Rp800 miliar. Hanya saja anggaran sebesar itu tidak cukup untuk belanja pegawai tanpa belanja modal.

“Artinya seorang guru tidak cukup anggaran untuk melakukan kreasi. Apalagi jika disingkronkan dengan dana BOS dan  Program Indonesia Pintar (PIP) tentu harus melalui penilaian sekolah dan tercantum dalam data Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS),” tandasnya.

wartawan
CHA
Category

Pertanian Organik Berkelanjutan, Burung Hantu Predator Pengendali Hama Tikus

balitribune.co.id | Gianyar - Upaya mengembangkan pertanian organik berbasis konservasi lingkungan dan pelestarian keanekaragaman hayati (biodiversity) di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar dilakukan dengan pemanfaatan burung hantu Tyto alba sebagai predator alami pengendali hama tikus.

Baca Selengkapnya icon click

Menarik Pengunjung, Spot Kuliner Buat Inovasi Pemotretan Sambil Menunggangi Kuda di Tepi Pantai

balitribune.co.id | Mangupura - Salah satu spot kuliner di Kabupaten Badung membuat inovasi untuk menarik minat wisatawan berkunjung. Pemilik usaha kuliner ini menawarkan paket pemotretan atau photo shooting sinematik tepi pantai. Mengingat, lokasi spot kuliner ini berada di tepi pantai yang cocok untuk pemotretan dan pengambilan video. 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Peringati Tumpek Krulut, Wali Kota Jaya Negara Komitmen Tingkatkan Pelayanan Kesehatan bagi Warga Denpasar

balitribune.co.id | Denpasar - Pemerintah Kota Denpasar menggelar persembahyangan bersama serangkaian Hari Pitenget Tumpek Krulut Kota Denpasar Tahun 2026 dipusatkan di Kawasan Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung Denpasar, pada Sabtu, (1/8/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Pemkab Tabanan Perkuat Tata Kelola APBD dan Pencegahan Korupsi Lewat Persiapan MCSP-RBS 2026

balitribune.co.id | Tabanan - Pemerintah Kabupaten Tabanan mulai mempersiapkan implementasi Monitoring Controlling Surveillance for Prevention-Risk Based Surveillance (MCSP-RBS) Tahun 2026 sebagai paradigma baru pencegahan korupsi daerah yang menitikberatkan pada deteksi risiko sejak tahap perencanaan hingga pengawasan pelaksanaan program.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

BRI Gelar Apresiasi Layanan Pensiunan di KCP Telesera untuk Perkuat Pengalaman Nasabah

balitribune.co.id | Denpasar - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Kantor Cabang Pembantu (KCP) Telesera menyelenggarakan kegiatan Apresiasi Layanan Pensiunan bertajuk "Melayani Sepenuh Hati, Bersama dalam Harmoni, Bersama dalam Sejahtera" pada Senin (3/8/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Gedung BLK Tabanan Semakin Uzur, Perlu Perbaikan dan Tambahan Fasilitas Pelatihan

balitribune.co.id I Tabanan – Sejumlah gedung Balai Latihan Kerja atau BLK Tabanan agaknya perlu segera mendapatkan perbaikan. Bukan tanpa sebab, sebagian besar gedung yang berlokasi di Desa Meliling, Kecamatan Kerambitan, sudah uzur dimakan usia.

Tidak hanya itu, persoalan lainnya adalah ketersediaan fasilitas penunjang pelatihan kerja bagi masyarakat yang menempuh pendidikan di sana masih belum optimal.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.