Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Tangani Bersama Demi Masa Depan Bali

dosen
Bali Tribune / Drs. I Nengah Suardhana, M.Pd - Dosen Undiknas Denpasar

balitribune.co.id |“Peringatan BMKG yang terlupakan. Bali tenggelam perlahan. Aku adalah hujan yang turun membasahi Bali bukan air biasa, tapi air mata langit yang menangisi kelalaianmu. BMKG sudah berteriak tentang datangnya musim hujan ekstrem, tapi Pemerintah masih sibuk berdebat tentang proyek megah dan masyarakyat wilayah Jatiluwih penuh luka. Kapan kalian akan mendengar jeritanku”?                                  

Hutan Desa yang Sekarat. Aku, pohon beringin di setra/kuburan, dulu adalah penjaga resapan air. Kini akarku tercabut untuk dijadikan tempat parkir, sementara Pemerintah mengizinkan villa-villa dibangun di atas tanah basah. Kalian memotong dahan yang melindungi, lalu ironisnya kalian heran saat banjir datang. Di mana logikamu? 

Reklamasi Benoa, Penghambat Air yang Dianggap Solusi. Aku adalah laut Benoa yang dulu bernapas lega dengan pasang surut alami. Kini wajahku dipaksa berubah oleh reklamasi, airku terjebak, tak bisa mengalir. Banjir di sekitar sini bukanlah akibat ulahku tetapi musibah yang engkau ciptakan atas kesalahan kalian! Pemerintah seolah-olah buta tuli dan mengizinkan proyek reklamasi ratusan hektar tanah laut. Alamku bisa dibeli dengan uang, tetapi amarahku jauh melebihi nilai materi yang engkau peroleh. Jikalau engkau tidak sadar dan segera memperbaiki segala kesalahanmu, maka kerusakan yang lebih besar segera menunggu. Ini pasti!!

Rumah Panggung vs Betonisasi Buta. Aku adalah tanah Bali, yang dulu dihormati dengan rumah panggung, bahkan ada yang berpendapat bahwa setiap jengkal tanahku adalah sakral. Kini, kalian menindihku dengan beton dan aspal, lalu bertanya mengapa air tak punya jalan keluar. Pemerintah sibuk dengan perubahan peraturan ketinggian bangunan 15 meter, tapi lupa bahwa grand design awal, ternyata demi kepentingan investor.

Kota Denpasar yang Makin Tenggelam. Aku adalah drainase Denpasar yang semakin sempit,  sesak, dan berbau busuk dan tengik. Setiap tahun tubuhku mengalami pendangkalan dan penyempitan. Kota boleh indah dengan trotoar dan parkiran yang rapi, tetapi debit air hujan pun harus diperhitungkan dengan matang. Yang aku perlukan bukan sekedar janji, tetapi tindakan pasti. Jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa bisa menampung air hujan yang baru tiga jam. Percayalah!! Jika keadaanku terus seperti ini, aku mengalirkannya ke rumah-rumah orang yang tidak bersalah.

Tradisi yang Terlupakan. Aku adalah kearifan lokal leluhur Bali, hidup harmonis dengan alam sudah menjadi filsafat hidupku. Dulu desa punya aturan ketat soal resapan air dan larangan menebang pohon. Sekarang aturan adat kalah oleh SK Gubernur dan izin investasi. Kalian menertawakan kami sebagai kuno, tapi siapa yang tertawa ketika banjir datang?

Data Penduduk yang Tak Pernah Jelas. Aku adalah statistik resmi yang seharusnya menjadi acuan pembangunan. Tiap kantor punya angka berbeda - jumlah penduduk, dan produksi sampah adalah linear, termasuk dengan kebutuhan air. Bagaimana mau mengatur tata ruang jika data dasarnya saja tidak pasti? Pemerintah lebih suka berdebat di belakang meja daripada turun ke lapangan dan duduk bersama menyamakan angka-angka ini. Copot dasimu, singsingkan lengan bajumu, turunlah langsung ke masyarakat. Terima aspirasinya dan eksekusi dalam tindakan nyata.

Sawah yang Berubah Menjadi Kuburan Air. Aku adalah sawah di Badung yang dulu punya sistim drainase sempurna. Sekarang saluranku dipenuhi sampah dan dipendam untuk perluasan jalan. Petani mengeluh tapi tidak didengar. Pemerintah bilang "modernisasi", tapi modernisasi macam apa yang mengubah sawah menjadi kubangan air saat hujan? Engkau, seluruh masyarakat Bali, berhentilah buang sampah ke kali dan selokan-selokan. Ternyata bukan hanya sampat unorganic saja yang aku dapat, tetapi juga banyak sampah bekas banten-banten tertuang ditubuhku. 

Embung yang Tak Kunjung Dibangun. Aku adalah solusi sederhana yang terus diabaikan. Embung-embung penampung air bisa mengurangi banjir, tapi anggarannya selalu kalah dengan proyek mercusuar. Setiap musim hujan kalian panik, musim kemarau tiba, kalian lupa. Kapan pemerintah Bali akan belajar dari siklus ini?

Pohon-pohon yang Menangis di Tengah Kota. Aku adalah pepohonan di tengah kota yang dulu jadi paru-paru Denpasar. Pemerintah bilang "nanti akan ditanam kembali", tapi pohon kecil mana bisa menggantikan akar-akarku yang sudah puluhan tahun menyerap air? Banjir adalah tangisan kami yang tak kalian dengar.

Tukad-tukad yang Tercekik. Aku adalah sungai kecil Bali yang dulu mengalir jernih. Sekarang tubuhku dipenuhi sampah, dan air keruh nan bau. Tidak berhenti sampai di situ, badanku pun jadi bertambah ‘kurus’, tersesak oleh bangunan-bangunan liar. Pemerintah daerah punya peraturan, tapi tak punya nyali untuk menertibkan. Kami sungai kecil ini kini jadi saluran pembuangan, bukan penyalur kehidupan. 

Generasi Z yang Harus Menanggung. Aku adalah anak-anak Bali yang akan mewarisi pulau ini. Kalian dewasa sekarang boleh sibuk berdebat tentang proyek dan anggaran, tapi kamilah yang akan menderita di masa depan. Pemerintah lupa bahwa banjir hari ini adalah hutang lingkungan yang harus kami bayar besok. Coba lihat bukit-bukit di bagian Utara Bali. Lebih dominan bangunan daripada alam. Bukit Jimbaran yang dulu hijau, kini dipenuhi oleh bangunan beton. Sudah cukup, cukup, cukup!! Demi Bali yang berdaya guna dan terpelihara dengan baik, maka dengarkanlah BMKG, dengarkanlah alam, dengarkanlah jeritanku sebelum semuanya terlambat!

wartawan
Redaksi
Category

Presiden Prabowo Pilih Sapi Bali Asal Baturiti untuk Hewan Kurban Idul Adha 2026

balitribune.co.id I Tabanan -  I Wayan Doni Ardita (36), peternak asal Banjar Anyar, Desa Perean Kangin, Kecamatan Baturiti, tengah diliputi rasa bangga. Sapi Bali hasil peliharaannya kembali terpilih dan dibeli oleh Presiden Prabowo Subianto untuk dijadikan hewan kurban pada hari raya Idul Adha 2026.

Baca Selengkapnya icon click

Fenomena Satwa Laut Terdampar di Jembrana, Setelah Paus Kini Lumba-Lumba

balitribune.co.id | Negara - Hingga kini satwa laut yang terdampar mati semakin banyak ditemukan di pesisir Bali barat. Teranyar seekor lumba-lumba ditemukan terdampar di Pantai Yehsumbul, Mendoyo pada Minggu (17/5/2026). Bangkai satwa laut yang mati akhirnya dikuburkan di pantai di sekitar lokasi penemuan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Dilaporkan Hilang Usai Pergi ke Ladang, Kakek Yuda Ditemukan di Jurang

balitribune.co.id I Gianyar - Sempat menghilang semalaman, I Made Yuda (73) alias Kakek Yuda akhirnya  ditemukan selamat. Lansia asal Banjar Tangkas, Desa Kenderan, Tegallalang, ini ditemukan terperosok di dasar jurang di aliran Sungai Tukad Petanu,  dan langsung dievakuasi, Sabtu (16/5/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Beresiko Tinggi, 50 Pemandu Arung Jeram Bali Ikuti Sertifikasi Kompetensi

balitribune.co.id I Gianyar - Sebanyak 50 pemandu arung jeram (rafting guide) mengikuti Sertifikasi Kompetensi Kerja Bidang Kepariwisataan  2026 Sabtu-Minggu (16-17/5/2026) di Jalur Sungai Ayung, Ubud. Kualitas pemandu wisata berisiko tinggi  ini diharapkan memiliki ketrampilan dengan standar keselamatan yang ketat.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

38 Koperasi Merah Putih di Bali Siap Beroperasi, Ditargetkan Capai 120 Unit pada Juli 2026

balitribune.co.id | Mangupura - Pemerintah Provinsi Bali mencatat sebanyak 38 Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) telah siap beroperasi di berbagai wilayah Bali. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 120 koperasi hingga akhir Juli 2026. 

Hal itu disampaikan Wayan Koster saat menghadiri Peresmian Operasionalisasi 1.061 KDKMP secara virtual dari KDKMP Desa Sembung, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Sabtu (16/5/2026).

Baca Selengkapnya icon click

DPRD Bali Soroti Dugaan Jual Beli Izin Sapi, Kresna Budi Minta Sistem Kuota Dihapus

balitribune.co.id I Singaraja - Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali, IGK Kresna Budi, mendesak Pemerintah Provinsi Bali segera mengevaluasi bahkan membekukan sistem kuota pengiriman sapi Bali menyusul adanya dugaan praktik jual beli izin pengiriman sapi oleh oknum tertentu.

Menurut Kresna Budi, praktik tersebut sangat merugikan peternak dan pengusaha kecil karena biaya tambahan yang muncul membuat mereka sulit bersaing dengan pemodal besar.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.