Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Tim Dosen ITB STIKOM Bali Adakan Pelatihan Pengolahan Jerami Menjadi Pupuk Organik

Bali Tribune / BANTUAN - Tim pengabdian masyarakat dosen ITB STIKOM Bali menyerahkan bantuan mesin perontok padi kepada kelompk tani Bakti Pertiwi.

balitribune.co.id | Denpasar – Selama ini limbah hasil panen padi, yaitu jerami, menjadi persoalan tersendiri bagi para petani. Cara menghilangkannya adalah dengan membakar. Tapi cara ini berpotensi menimbulkan kebakaran di lain tempat akibat terbawa angin, selain menimbulkan polusi udara. Padahal jerami menyimpan potensi besar sebagai pupuk organik.  Jerami padi diolah menjadi kompos dengan cara yang mudah dan murah. Kandungan hara dalam kompos jerami cukup besar dan bisa memenuhi separuh dari kebutuhan pupuk petani, dapat menghemat pengeluaran negara untuk subsidi pupuk dan mengurangi konsumsi pupuk kimia nasional. Itulah yang mengilhami tim pengabdian masyarakat dari dosen ITB STIKOM Bali  mengadakan pelatihan pengolahan jerami pasca panen menjadi pupuk organik bagi kelompok tani Bakti Pertiwi di Desa Kesuit, Kecamatan Kerambatan, Kabupaten Tabanan, Bali.

Ketua tim pengabdian masyarakat dosen ITB STIKOM Bali yang dipimpin Ni Putu Nanik Hendayanti dengan anggota Ni Wayan Ekayanti dan Putu Adi Guna Permana menerangkan, sebagian besar  Desa Kesiut merupakan wilayah pertanian, yang dikelola oleh beberapa kelompok tani. Salah satunya adalah Kelompok Tani Bakti Pertiwi, beranggotakan 15 orang  dengan seorang ketua kelompok bernama I Ketut Rusna.  Masing-masing anggota memiliki areal sawah rata-rata seluas  lebih dari 1000 m2. Kelompok Tani Bakti Pertiwi mengelola sawah setiap anggotanya secara bersama-sama. Jika ada anggota kelompok yang akan menggarap sawah, maka anggota lainnya akan membantu.

Berdasarkan temuan tim di lapangan, kelompok Tani Bakti Pertiwi memiliki berbagai permasalahan dalam proses pertanian padi, terutama  saat panen dan pasca panen serta masalah analisis usaha tani. Masalah saat panen yaitu pemisahan biji padi dari tangkainya dan sisa jerami hasil panen. Selama ini petani  menyewa mesin pemisah biji padi karena kelompok tani Bakti Pertiwi belum memiliki mesin sendiri.  Masalah keuangan yang ditemui adalah kurangnya pemahaman tentang analisa usaha tani dari pemasukan dan pengeluaran karena tidak ada tata kelola keuangan yang baik. 

“Selama ini limbah hasil panen padi, yaitu jerami, menjadi persoalan tersendiri bagi para petani. Cara gampang untuk menghilangkannya  adalah dengan  membakar. Tapi cara ini berpotensi menimbukkan kebakaran di tempat lain akibat bara api terbawa angin, selain menimbulkan polusi udara. Padahal jerami menyimpan potensi besar sebagai pupuk organik. Jerami  bias diolah menjadi kompos.  Kandungan hara dalam kompos jerami cukup besar.  Pemanfaatan kompos jerami oleh petani  dapat menghemat pengeluaran negara untuk subsidi pupuk dan mengurangi konsumsi pupuk kimia nasional,” kata Ni Putu Nanik Hendayanti, di Denpasar, Kamis (22/10/2020).

Menurut Ni Putu Nanik Hendyanti, permasalahan pupuk hampir selalu muncul setiap tahun, seperti kelangkaan pupuk di musim tanam, harga pupuk yang cenderung meningkat, beredarnya pupuk palsu, dan beban subsidi pemerintah yang semakin meningkat. Beberapa upaya dan program telah digulirkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pertanian RI, sebagai contoh, subsidi pupuk kimia untuk petani. Tetapi banyak penyelewengan dalam implementasi subsidi pupuk ini menyebabkan kerugian baik pemerintah maupun  petani. Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia secara intensif oleh petani selama beberapa dekade ini membuat petani tergantung pada pupuk kimia dan dalam jangka panjang menyebabkan menurunnya kesuburan tanah dan kandungan bahan organik tanah. Kandungan bahan organik di sebagian besar sawah di Pulau Jawa diperkirakan menurun hingga 1% saja. Padahal kandungan bahan organik yang ideal adalah sekitar 5%. Kondisi miskin bahan organik ini menimbulkan banyak masalah, antara lain efisiensi pupuk yang rendah, aktivitas mikroba tanah rendah, kebutuhan pupuk meningkat, dan produktivitas lahan yang semakin menurun. Maka dari itu, alternatif lain dari pupuk kimia adalah pupuk organik. Petani melupakan salah satu sumber daya yang dapat menyediakan unsur hara tanaman, mempertahankan kesuburan tanah dan menambah bahan organik tanah, yaitu jerami. 

Petani memiliki kebiasaan membakar jerami setelah panen. Pemanfaatan jerami sisa panen padi untuk kompos secara bertahap dapat mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas sawah. Kompos jerami adalah bahan yang sangat potensial untuk meningkatkan kandungan bahan organik di sawah-sawah. Potensi jerami kurang lebih 1,4 kali dari hasil panen. Rata‐rata produktivitas padi nasional adalah 48,95 ku/ha, sehingga jumlah jerami yang dihasilkan kurang lebih 68,53 ku/ha. Pemanfaatan jerami dalam kaitannya untuk menyediakan hara dan bahan organik tanah adalah merombaknya menjadi kompos. Rendemen kompos yang dibuat dari jerami kurang lebih 60% dari bobot awal jerami, sehingga kompos jerami yang bisa dihasilkan dalam satu ha lahan sawah adalah sebesar 4,11 ton/ha. 

“Andaikan semua jerami dibuat kompos akan dihasilkan kompos sebanyak 58 juta ton secara nasional,” tegas Ni Putyu Nanik Hendayanti.

Lebih jauh Ni Putu Nanik Hendrayanti menerangkan, untuk mengolah jermai menjadi pupuk organic, tim dosen ITB STIKOM Bali memberkan bantuan kepada  mitra (kelompok tani Bakti Pertiwi)  mesin perontok padi, memberikan bantuan bahan-bahan  untuk produksi pupuk berupa cairan decomposer beka yang  berguna untuk mempercepat perombakan dan penguraian  bahan organik dari tanaman dan hewan dalam pembuatan kompos. Beka juga dapat diaplikasikan langsung di lahan (insitu) dengan menyemprotkan Beka ke sisa jerami untuk merombak dan mengurai sisa bahan organik menjadi kompos. Kompos yang dihasilkan ini adalah kompos  berkualitas karena  berfungsi sebagai penyubur tanah yang mampu menetralkan pH serta meningkatkan nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Water Holding Capacity (WHC) lahan. Selain itu juga ada penyerahan terpal ukuran 5x6 sesuai permintaan dari pihak petani yang digunakan untuk menutupi bahan pupuk yang akan diolah sehingga dapat mempercepat proses penguraian bahan organik yang akan diolah menjadi pupuk

Selanjutnya, tim dosen ITB STIKOM Bali itu mengadakan penyuluhan pembuatan pupuk dengan melibatkan seluruh anggota mitra. Penyuluhan ini  dalam bentuk sharing informasi dan diskusi mengenai berbagai aspek teknologi pembuatan pupuk organik  serta manfaat yang didapatkan dari pupuk organic.

“Kegiatan kami terakhir adalah praktek pembuatan pupuk kompos,” ujar Putu Nanik.

Disebutkan, pupuk kompos ibarat multivitamin bagi tanah dan tanaman. Kompos memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Kompos akan mengembalikan kesuburan tanah. Tanah keras akan menjadi lebih gembur. Tanah miskin hara akan menjadi subur. Bahan yang akan dibuat kompos juga harus cukup mengandung air. Air ini sangat dibutuhkan untuk kehidupan bakteri pengurai.Bahan yang kering lebih sulit dikomposkan. Akan tetapi kandungan air yang terlalu banyak juga akan menghambat proses pengomposan. pembuatan pupuk disini menggunakan dekomposer BEKA, Sebagai bahan dalam membuat kompos, mengandung mikrobia unggul pengurai bahan organik, produk kompos kaya dengan mikrobia penambat N, Pelarut P dan Pelarut K, proses pengomposan cepat dan mudah diterapkan.  

Manfaat beka lainnya adalah sebagai penetral bau kotoran ternak. Dengan dekomposer beka ini petani dapat membuat pupuk organik sendiri yang berkualitas dengan cara mudah. Untuk dosis penerapan, cairan ini perlu dilarutkan dengan dosis larutan : 5 cc beka/1 liter air/ 6 tutup beka untuk larutan air 14 liter. Jadi kebutuhan 1 liter beka untuk 5 ton bahan organik. Untuk penerapannya,  kocok dekomposer beka sebelum campur dengan air, lalu segera gunakan setelah dilarutkan dengan air. Siramkan secara merata larutan beka pada tumpukan jerami, 30 cm disemprot sampai basah, lalu ditumpuki bahan lagi 30 cm disemprot lagi dan seterusnya, waktu yang diperlukan biarkan sampai 3 minggu atau 4 minggu bahan siap gunakan.

Tim dosen ITB STIKOM Bali ini  menyimpulkan,  penggunaan alat perontok padi 100% bermanfaat dalam hal ekonomi, karena proses pemanenan bisa dilakukan oleh kelompok tani secara langsung tanpa menyewa mesin perontok lagi, sehingga pengeluaran dapat diminimalkan. Penggunaan mesin pencacah jerami 100% bermanfaat dalam pemotongan jerami, sehingga memudahkan dan memercepat proses pencacahan jerami yang akan diproses untuk pembuatan pupuk. Pengolahan jerami meningkat hingga 100 %,  karena  hasil pengolahan jerami diolah menjadi pupuk organik, sehingga dapat menghemat pengeluaran dalam hal pembelian pupuk kimia.

wartawan
Redaksi
Category

Konjen Jepang di Denpasar Serahkan Penganugerahan Bintang Jasa Jepang kepada Prof. Wirawan

balitribune.co.id | Denpasar - Upacara Penganugerahan Bintang Jasa Jepang untuk Musim Gugur Tahun 2025 kepada Prof. Ir. I Gede Putu Wirawan, M.Sc., Ph.D., Guru Besar Universitas Udayana berlangsung Senin 16 Maret 2026, bertempat di Kediaman Dinas Konsul-Jenderal (Konjen) Jepang di Denpasar.

Baca Selengkapnya icon click

Nyepi Caka 1948, Bupati Badung Ajak Masyarakat Jaga Keteduhan Hati dan Kebersamaan

balitribune.co.id | Mangupura - Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 kepada seluruh umat Hindu di Kabupaten Badung.

Bupati dan Wakil Bupati Badung berharap perayaan Nyepi Caka 1948 membawa ketenangan, kedamaian, serta semangat kebersamaan bagi seluruh masyarakat.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Soal Utang Obat RSU Tabanan, Komisi IV Minta Ada Audit dan Subsidi Pemkab

balitribune.co.id I Tabanan - Komisi IV DPRD Tabanan mengusulkan perlunya audit terhadap piutang pasien yang memicu penumpukan utang obat dan bahan medis habis pakai (BMHP) senilai Rp36 miliar lebih di RSU Tabanan.

Tidak hanya itu, Komisi IV berencana akan bertemu dan meminta Bupati Tabanan memberikan dukungan anggaran untuk menyelamatkan operasional rumah sakit rujukan tipe B tersebut.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Tewasnya Desak Gayatri di Moskow Ungkap Risiko Fatal Berangkat Non-Prosedural

balitribune.co.id | Singaraja - Desak Komang Ayu Gayatri, pekerja migran asal Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, meninggal dunia saat bekerja di Kota Moskow, Rusia. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Buleleng, Putu Arimbawa membenarkan laporan tersebut. Menurutnya, Desak Gaytari meninggal dalam peristiwa kebakaran yang terjadi ditempatnya bekerja.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.