
balitribune.co.id | Bangli - Musibah gempa bumi yang terjadi dua pekan lalu, dampaknya masih dirasakan masyarakat di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani. Masyarakat di beberapa dusun yang terdampak gempa kini kesulitan untuk mendapatkan air bersih.
Menurut warga Dusun Bunut, Desa Trunyan Kintamani, Jro Gde Arta, sebelumnya untuk pemenuhan air bersih warga memanfaatkan sumber air Panseg dekat Gunung Abang, Kintamni. Damapk gempa mengakibatkan rusaknya instaliasi perpipaan Imbasnya kini sebanyak 150 KK kini tidak dapat pasokan air. “Untuk dapatkan air, warga beli air dari pedagang air,” ujarnya, Minggu (31/10/2021).
Harga air berkisar antara Rp 80-150 ribu per tangki tergantung volume. Kata Jro Gde Arta untuk perbaikan instalasi perpipaan yang rusak belum bisa dilakukan, pasalnya kondisi tanah yang masih labil. “Perbaikan jaringan pipa tentu melihat faktor keselamatan, jika kondisi tanah masih labil sangat beresiko, perbaikan dilakuan jika kondisi sudah aman,” ujarya
Jro Gde Arta menambahkan, melihat kondisi pasca gempa yang dihadapi masyarakat, pihaknya berharap ada suplay air bersih dari pemerintah daerah. “Memang aksen jalan ditutup tapi untuk suplay bisa lewat Karangsem,” sebutnya.