Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Komedi Sektor Pariwisata dan Tragedi Sektor Pertanian

Bali Tribune / Wayan Vindia - Ketua Stispol Wira Bhakti, Denpasar.

balitribune.co.id | Bulan ini, pemerintah memberikan hibah bagi sektor pariwisata. Ketika berita itu muncul, saya mencoba diam dan menunggu saja dahulu. Menunggu, bagaimana reaksi masyarakat, khususnya yang muncul di media sosial, dan kaum netralis di kalangan kampus. Akhirnya muncul juga keprihatinan di media, misalnya dari kolega saya Dr. Gde Sedana. Pertanyannya : kok hanya sektor pariwisata saja yang dapat hibah, lalu di mana hibah bagi sektor pertanian?

Mungkin memang demikianlah nasib orang-orang yang miskin dan terpinggirkan. Tidak ada yang hirau, kalau mereka mengalami musibah. Tetapi kalau orang kaya dan glamor yang mengalami musibah, dengan cepat orang-orang memberikan perhatian.

Ketika sektor pariwisata mulai dikembangkan, sektor per-bank-an gentayangan ingin memberikan kredit. Pemerintahpun memberikan berbagai fasilitas (bebas pajak import kebutuhan hotel, di bangunkan bandara, jalan by pass , dll). Kemudian ketika sektor pariwisata terpuruk, diberikan hibah. Mungkin dengan berbagai alasan. Tetapi justru sejatinya, tidak ada alasan untuk tidak memberikan hibah bagi sektor pertanian. Karena sektor pertanian-pun terpuruk. Tapi untunglah sektor pertanian masih terus bisa menjaga stabilitas ketahanan pangan Indonesia.

Lalu, di mana disimpan keuntungan sektor pariwisata ketika ia sedang jaya-jayanya? Pastilah di rekening kaum yang empunya kapital. Kalau sudah terlanjur disimpan di rekening bank, tentu saja sangat sulit bagi kapum kapitalis untuk mencairkannya, guna membantu karyawannya yanag sedang keteteran.

Saya meyakini bahwa keputusan memberikan hibah bagi sektor pariwisata diputuskan dalam sebuah sidang (kabinet). Seharusnya Menteri Pertanian bisa berargumentasi dan meyakinkan sidang, bahwa sektor pertanian-pun memerlukan hibah, agar ia semakin berdaya. Sementara itu, organisasi yang berkait dengan pertanian (HKTI, HNSI, dll) seharusnya berbicara keras. Tetapi suara seperti itu, nyaris tak terdengar. Mungkin karena pimpinannya masuk dalam jajaran birokrasi.

Bagi saya, dalam kasus seperti ini, layaknya sebuah komedi bagi sektor pariwisata, dan tragedi bagi kalangan sektor pertanian. Saya tertawa, karena kok juwari ya sektor pariwisata memperjuangkan hibah seperti itu, dalam suasana negara yang prihatin seperti ini. Dahulu sektor ini diagung-agungkan sebagai lokomotif ekonomi, lalu semua orang mendewa-dewakan sebagai sektor harapan. Lalu, apa yang terjadi sekarang? Harapannya justru ada pada sektor pertanian.

Saya juga kasihan pada sektor pertanian, yang secara terus menerus mengalami tragedi. Ketika sektor pariwisata mengalami zaman gemilang, sektor pertanian-pun mengalami tragedi. Produk sektor pertanian di- bon hingga beberapa bulan. Petani menjadi jatuh miskin. Lalu sang kapitalis, tetap menjadi semakin kaya. Gubernur Bali sampai-sampai mengeluarkan Pergub No. 99 tahun 2018 untuk menolong petani (Bali) yang berada dalam kondisi sangat prihatin tsb. Tetapi nyatanya tetap tidak bisa membantu petani kita. Memang tidak gampang melawan kapitalis. Sekali mereka mencengkram ekonomi kita, maka selamanya mereka tidak akan bergeming. Kecuali “daerah kekuasaannya” sudah hancur lebur menjadi debu.

Bisa jadi, dalam perdebatan di kabinet, Menteri Pariwisata lebih ngotot dan lebih bisa meyakinkan menteri keuangan. Tentang kenapa sektor pariwisata harus dibantu. Meskipun per unit kapital yang diinvestasikan, penyerapan tenaga kerjanya lebih kecil dibandingkan dengan sektor industri dan pertanian. Seharusnya, dibangunlah antar sektor ekonomi yang lebih harmonis. Jangan terlalu memanjakan sektor pariwisata di Bali.

Minggu lalu, saya menguji calon doktor di Univ. Udayana. Namanya, Ni Wayan Putu Artini, staf dosen di Fakultas Pertanian Unud. Ia menemukan bahwa, kalau sektor pariwisata meningkat 100%, maka sektor pertanian akan meningkat 60%. Hal itu berarti bahwa sektor pariwisata bangkit selaras dengan pembangunan sektor pertanian. Meskipun pertumbuhan sektor pertanian lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan sektor pariwisata.

Tetapi kok nyatanya tidak demikian yang terjadi di Bali. Sektor pariwisata semakin menjulang, dan sektor pertanian semakin mengecil. Bahkan saat ini sumbangan sektor pertanian terhadap ekonomi Bali masih hanya 13%. Sedangkan yang bekerja di sektor ini 35%. Juga NTP sektor pertanian di Bali di bawah 100%.

Apakah ini artinya? Artinya adalah pertumbuhan sektor pariwisata di Bali, adalah lokomotif bagi sektor pertanian di luar Bali bahkan di luar negeri. Bukan lokomotof bagi pertumbuhan sektor pertanian di Bali. Jadi, ada yang salah dalam pengelolaan sektor pariwisata di Bali. Kalau sekarang kita memberikan hibah bagi sektor pariwisata di Bali, itu artinya akan membantu pertumbuhan sektor pertanian di luar Bali.

Beberapa teman yang pernah menjadi turis ke China mengatakan, bahwa di sana para turis dihidangkan produksi pertanian (buah-buahan, sayuran) dan makanan khas setempat. Tidak peduli bentuknya, dan rasanya. Pokoknya dihidangkan untuk menemani minum teh atau kopi,  saat istirahat sidang-sidang. Mungkin itulah sebabnya, pertanian di China semakin maju. Bahkan kini mereka dapat memberikan makan bagi 1,4 milyar penduduknya. Dibandingkan dengan 50 tahun yang lalu, mereka bahkan tidak bisa memberikan makan bagi 600 juta penduduknya.

Pertanyaannya : beranikah kita menerapkan konsep pariwisata seperti di China? Kalau berani, itulah namanya pengembangan pariwisata yang berkualitas. Pariwisata yang mampu membangkitkan ekonomi lokal, budaya lokal, dan manusia lokal.

Riset yang dilakukan Artini menunjukkan bahwa perkembangan sektor pariwisata di Bali, hanya tercatat dalam dokumen angka-angka statistik. Tercatat, jumlah (kuantitas) wisatawan meningkat, jumlah hotel meningkat, jumlah restoran meningkat, dll. Tetapi tidak memberikan dampak positif bagi sektor yang paling terpinggirkan (sektor pertanian), yang bahkan dianggap sebagai penunjang sektor pariwisata yang paling setia. Dudley Sears, dan bahkan Mubyarto mengatakan bahwa pembangunan yang dianggap berhasil adalah pembangunan yang sekaligus dapat mengurangi kesenjangan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan mengurangi pengangguran.  

wartawan
Wayan Windia
Category

KUA-PPAS RAPBD 2027 Bangli Resmi Disepakati, DPRD Harap Arah Anggaran Berpihak ke Rakyat

balitribune.co.id | Bangli – DPRD Kabupaten Bangli bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli resmi menyepakati Kebijakan Umum Anggaran (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Tahun Anggaran 2027. Kesepakatan ini dituangkan melalui penandatanganan Nota Kesepakatan dalam Rapat Paripurna DPRD Bangli, Selasa (11/8/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Gerebek Five Stars Bali, Polisi Tetapkan 5 Tersangka dan Buru 2 Bandar

balitribune.co.id I Denpasar - Setelah menjalani pemeriksaan secara intensif, penyidik Subdit IV Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri akhirnya menetapkan lima orang tersangka kasus tindak pidana narkotika hasil penggerebekan Tempat Hiburan Malam (THM) Five Stars di Jalan Mahendradata, Jumat (07/08/2026) dini hari lalu. Sementara dua orang masih buron alias masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

66 WNA Terindikasi Langgar Administrasi Keimigrasian, Patroli Dharma Dewata Perketat Pengawasan 

balitribune.co.id I Denpasar - Pengawasan terhadap warga negara asing (WNA) di Bali terus diperketat. Dalam sepekan terakhir, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Bali menjaring 66 WNA dari 27 negara yang terindikasi melakukan pelanggaran keimigrasian.

Baca Selengkapnya icon click

Sopir Truk Masih Parkir Liar di Depan Terminal Mengwi, Dishub Siapkan Tilang

balitribune.co.id I Mangupura - Larangan parkir di depan Terminal Tipe A Mengwi, Badung, masih saja dilanggar. Sejumlah sopir truk nekat memarkir kendaraan berukuran besar di Jalan Jaksa Agung R Soeprapto, meski kawasan tersebut sudah dipasangi spanduk larangan parkir dan berkali-kali ditertibkan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Buntut Penggeledahan oleh Kejari, Sekda Bakal Panggil Jajaran Diskes Tabanan

balitribune.co.id I Tabanan – Sekretaris Daerah (Sekda) Tabanan I Gede Susila berencana memanggil jajaran pimpinan Dinas Kesehatan (Diskes) terkait aksi penggeledahan yang dilakukan Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat.

Rencana ini untuk mendapatkan konfirmasi internal mengenai dugaan kasus korupsi anggaran bahan bakar minyak (BBM) dan makan minum (mamin) yang tengah disidik.

Baca Selengkapnya icon click

Kejari Tabanan Teliti Barang Bukti Usai Geledah Kantor Dinkes

balitribune.co.id I Tabanan – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan mulai meneliti seluruh barang bukti yang disita dari hasil penggeledahan di Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

Ini dilakukan sebagai langkah persiapan sebelum tim penyidik melanjutkan pemeriksaan saksi-saksi secara bergelombang terkait dugaan korupsi anggaran BBM dan makan minum tahun 2023-2025 di Dinkes Tabanan tersebut.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.