“Tourism Logistic” Penopang Ekspor Bali ke Luar Negeri | Bali Tribune
Bali Tribune, Selasa 21 September 2021
Diposting : 28 June 2021 07:40
ARW - Bali Tribune
Bali Tribune/ Rudy Siregar.
balitribune.co.id | Denpasar  -  Tak bisa  dipungkiri kondisi pandemi Covid- yang berlangsung dari awal tahun 2020 memang secara prinsip telah berimbas pada seluruh sisi kehidupan ekonomi masyarakat. Apalagi sektor dunia usaha, mengalami kontraksi yang cukup dalam, akibat sebagian negara menutup impor mereka  dari Indonesia, khususnya Bali, baik lewat udara ataupun laut. Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Umum Wilayah Bidang Angkutan ALFI-ILFA Bali, Rudy Siregar, Sabtu (28/6) dari Kantornya  di Badung.
 
"Padahal ekpor Bali ke beberapa negara tujuannya untuk membantu  UMKM Bali dan kamilah pelaksananya," jelas Rudy.
 
Dijelaskan selama ini usaha ekpor-impor (cargo) lebih banyak ditopang dari "Tourism Logistic”. Artinya wisatawan yang datang ke Bali, selain berlibur juga melakukan pembelian barang-barang atau transaksi bisnis.
 
"Jadi itu salah satu yang mendorong dan mendukung ekspor Bali selama ini," ungkap Rudy yang sudah malang melintang di bisnis ekpor-impor.
 
Rudy yang juga selaku, Direktur PT Sejati Inter-Trans Logistik, menyebutkan, Produk unggulan UMKM Bali yang sangat diminati wisatawan yaitu kerajinan (handycraft), sedangkan negara-negara tujuan ekspor utama antara lain, Amerika Serikat, Eropa, Australia, New Zealand, Kanada dan beberapa negara lainnya.
 
"Dengan adanya pandemi Covid-19 dimana para buyer tidak bisa berkunjung ke Bali, yang jelas ini sangat berdampak," sebutnya, seraya berujar, saat ini para buyer tidak bisa berkunjung ke Bali, untuk melakukan sourching, memilih barang yang diinginkan, jelas ini sangat berdampak. 
 
"Jangankan re-order, datangpun mereka tidak. Nah, dengan kondisi yang sudah berkepanjangan ini, sekitar satu setengah tahun, sangat berdampak besar bagi usaha kami," tandasnya.
 
Namun ditengah kondisi yang kurang menentu, Rudy masih diuntungkan dengan hadirnya regular customer, yang melakukan order ataupun re-order melalui whatshap ataupun surat elektronik (email).
 
Dari sisi lain, selaku pelaku usaha di bidang cargo, ia menyambut baik wacana pemerintah untuk "open border" di Juli mendatang. Ia beranggapan dengan open bordernya Bali, hal ini menunjukkan poin untuk meningkatkan nilai ekspor kita melalui open border tadi.
 
"Dengan datangnya mereka ke Bali, ekspor Bali akan menggeliat kembali, ini salah satu satu poinnya," katanya.
Kondisi yang tidak menentu akibat pandemi Covid-19 yang jelas akan mempersulit para pelaku usaha cargo logistik ataupun UMKM Bali. Namun demikian usaha di bidang ini masih bisa berjalan 50 sampai 60 persen saja
 
"Jadi kita bersyukur di logistik masih tetap berjalan, meski terseok-seok," ungkapnya.
 
Kondisi drastis yang dialami, yaitu menurunnya volume kerja berimbas pada terjadinya efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja. Apalagi dikatakan sebelum Covid-19 mewabah,  banyak menggunakan tenaga harian lepas, dan sekarang hanya tenaga tetap saja yang dipertahankan.
 
"Ia berharap pemerintah bisa bersinergi, membantu agar kunjungan wisatawan bisa dipulihkan kembali. Walaupun kita sadari pandemi masih terjadi. Apakah dengan prokes yang sangat ketat, paling tidak mereka bisa berkunjung," pungkasnya.