Batu Permata Tanzanite Diproduksi menjadi Koleksi Perhiasan | Bali Tribune
Diposting : 29 November 2020 20:29
Ayu Eka Agustini - Bali Tribune
Bali Tribune / PERMATA - Perhiasan yang menggunakan batu permata Tanzanite

balitribune.co.id | Denpasar - Permata Tanzanite yang langka dan eksotis kini diproduksi menjadi koleksi perhiasan baru dibawah brand mewah. Tanzanite adalah batu permata yang sangat langka dan hanya ditemukan di satu tempat di dunia, perbukitan Merelani di Tanzania Utara, wilayah yang terkenal dengan Gunung Kilimanjaro, gunung berdiri bebas tertinggi di dunia. Permata Tanzanite rona biru-ke-ungu yang subur terkenal karena warnanya yang cerah, kejernihan tinggi, dan potensi batu potong besar.

Digambarkan sebagai 'fenomena geologi', Tanzanite dianggap ribuan kali lebih langka daripada berlian. Nama tersebut mencerminkan asal geografis terbatas permata karena semua tambang berlokasi di area seluas sekitar delapan mil persegi di dekat kaki Gunung Kilimanjaro. Pada 2017, pemerintah Tanzania membangun perimeter sepanjang 24 km (14 mil) di sekitar lokasi penambangan Merelani di Manyara, yang diyakini sebagai satu-satunya sumber Tanzania untuk melindungi penambang lokal dari penambangan ilegal.

Sejak ditemukan pada tahun 1967 oleh suku Maasai, batu permata tidak hanya memperkuat ekonomi Tanzania, dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal, tetapi juga membantu mendanai berbagai proyek komunitas, memperbaiki kehidupan masyarakat Tanzania.

Saat ini salah satu perusahaan penjualan langsung terkemuka di Asia memasarkan koleksi perhiasan baru yang menampilkan permata Tanzanite dijuluki The Timeless Tanzanite Collection, perhiasannya termasuk anting-anting Bliss Hoop dan liontin Blue Breeze terbuat dari emas murni 18 karat.

Chief Executive Officer QNET, Malou T Caluza dalam siaran persnya kepada Bali Tribune, Minggu (29/11) menjelaskan bahwa The Timeless Tanzanite Collection dari QNET adalah batu permata Afrika yang benar-benar unik. Dengan memasarkan produk tersebut dapat membantu mendukung mata pencaharian ribuan komunitas pertambangan lokal yang mengandalkan industri selama bertahun-tahun.

"Kami ingin berkontribusi pada pertumbuhan berkelanjutan dari industri pertambangan lokal. Kami selalu memastikan semua bahan mentah untuk berbagai produk bersumber secara etis dan berkelanjutan," jelasnya.

Kata dia, dibawah merek Bernhard H Mayer diharapkan dapat berkontribusi pada ekonomi lokal. RYTHM Foundation juga telah mendirikan proyek pertanian berkelanjutan dalam kemitraan dengan Water for Africa, di Desa Muwimbi di wilayah Iringa untuk memanen alpukat dan kacang macademia, serta membantu mendanai sumur air yang akan mendukung satu juta orang selama beberapa tahun ke depan di wilayah tersebut.

"Kami berharap dapat memperluas ke lebih banyak peluang untuk mencari produk lokal, memupuk kolaborasi lokal, dan mengembangkan wirausahawan profesional yang berkomitmen di Tanzania, khususnya di lingkungan pandemi Covid-19 yang menantang," ungkap Caluza.