BI : Bangkitkan Dunia Pariwisata di Era New Normal Lewat QRIS | Bali Tribune
Bali Tribune, Minggu 12 Juli 2020
Diposting : 4 June 2020 20:04
Arief Wibisono - Bali Tribune
Bali Tribune / Trisno Nugroho

balitribune.co.id | Denpasar -  Merebaknya Pandemi Covid-19 sudah barang tentu menjadi momok bagi para pelaku industri pariwisata. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali menyebutkan guna membangkitkan pariwisata di era “new normal”, pelaku industri pariwisata harus siap dengan infrastruktur yang mendukung faktor clean, health dan safety termasuk dalam aspek sistem pembayaran yang meminimalkan kontak fisik dalam bertransaksi. 

"Untuk itu Bank Indonesia bersama perbankan terus berupaya untuk mendorong transaksi non tunai yang bersifat contactless untuk bertransaksi dibandingkan alat pembayaran menggunakan uang dan kartu," kata Trisno Nugroho pada National Web Seminar bertajuk “What Can Bali’s Tourism Industry Do With Digital Payment In The New Normal Era”, Kamis (4/6/2020) di Denpasar. 

Trisno Nugroho juga menyebutkan, hingga akhir bulan Mei 2020, sebanyak 36 Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) telah disetujui dan dapat melaksanakan kegiatan pemrosesan transaksi QRIS. Perluasan penggunaan QRIS juga senantiasa dilakukan di wilayah Bali, dimana pada akhir Mei 2020 telah mencapai 89,950 merchant atau meningkat sebesar 253% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2019 yang tercatat sebanyak 25.483 merchant. 

"Peningkatan ini diatas rata-rata peningkatan nasional sebesar 99%. Selain itu, selama pendemi Covid-19, yaitu 24.002 merchant atau 26,7% dari total merchant yang ada. Kami yakin merchant yang akan bergabung akan terus meningkat dan siap untuk bertrasnformasi secara digital," papar Trisno Nugroho.

Sementara itu, Wakil Gubernur Provinsi Bali Cok Ace yang turut hadir dalam acara National Web Seminar tersebut menyebutkan bahwa Transaksi non-tunai sebenarnya merupakan metode transaksi yang efektif dan aman. Menurutnya masa pendemi ini merupakan momen yang baik untuk mulai menggalakkan gerakan masyarakat non-tunai atau Cashless Society.

"Masyarakat masih terbiasa dengan menggunakan uang tunai dalam bertransaksi, akibat pandemi yang kita hadapi saat ini sudah saatnya bagi masyarakat untuk terbiasa merubah pola transaksi," tegas Cok Ace. 

Kemudian CEO & Co-Founder DANA Vincent Iswara menyebutkan Digitalisasi Aktivitas atau Digital Awareness pencegahan pandemi yang dilakukan oleh para pelaku pariwisata menjadi sebuah kunci dalam meyakinkan wisatawan agar para wisatawan merasa aman. 

"Digitalisasi dan omnicannel sangat penting bagi semua pemain di pariwisata, bagi pemain industri harus memiliki channel untuk digital," ujaranya.

Ia juga menyebutkan merubah kebiasaan bertransaksi menggunakan uang tunai dan kartu menjadi uang dan dompet elektronik dapat mengurangi resiko terpapar corona. Salah satunya adalah penggunaan uang elektronik dan dompet elektronik dimana pada keduanya terdapat saldo tunai dan penyimpanan kartu yang nantinya akan dapat digunakan dalam bertransaksi dimanapun.