Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

CORONA : APA YANG DAPAT KITA BERIKAN KEPADA BANGSA DAN NEGARA INI?

Bali Tribune / Wayan Windia - Guru Besar (E) Fak. Pertanian Unud, dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Made Sanggra, Sukawati.

balitribune.co.id | Slogan judul tulisan ini, sudah diajarkan oleh guru saya ketika masih sekolah di SMA. Hingga kini, kalimat Presiden USA John F. Kennedy itu, masih sangat menggetarkan. Pada saat-saat sulit, slogan itu mampu membangkitkan rasa nasionalisme. Maklum, pada saat itu Kennedy sedang berseteru dengan PM Uni Soviet (saat itu), Nikita Chruschov. Khususnya berkait dengan rencana Chruschov membangun pangkalan militer di Cuba. Kalimat dan slogan pada saat berseteru untuk membela negara, sering memunculkan taksu.  

Sebetulnya, slogan Kennedy itu, jauh sebelumnya sudah diimplementasikan oleh leluhur kita. Yakni, tatkala beliau memutuskan untuk terjun ke dalam perang kemerdekaan Indonesia (1945-1949). Pada saat itu, beliau-beliau tidak menerima apapun dari negara. Beliau bertempur dengan bekal sendiri. Dengan resiko, pihak keluarga mendapatkan intimidasi, dan rumah dibakar habis. Pada saat itu, rakyat Indonesia rela “memberi” kepada negaranya. Memberikan semua harta benda yang dimilikinya. Bahkan siap sedia memberikaan tetesan darahnya yang terakhir.  

Sekarang, saat ada serangan corona, negara dalam kesulitan yang sangat dahsyat. Lalu, apa yang dapat kita berikan kepada bangsa dan negara ini?  Nyaris tidak ada. Bahkan kita masih menuntut agar diberikan bansos, keringanan pembayaran air minum, keringanan pembayaran listrik, mendapat kartu pra-kerja, keringanan pembayaran di bank, bebas membayar pajak PHR, dll. Bahkan sayapun sempat kaok-kaok agar petani mendapatkan juga insentif. Yakni bebas dari pembayaran pajak PBB. Aklhirnya kesampaian juga. Bahwa sekitar 2,7 juta petani Indonesia akan juga mendapatkan insentif. Tujuannya adalah untuk mendorong, agar petani tetap bisa berproduksi.

Setelah merenung, sekarang saya agak menyesal. Bahwa saya kok ikutan teriak-teriak membebani negara yang sedang sulit. Tetapi dahulu saya agak mangkel. Karena saya tidak sampai hati melihat petani kita, tidak mendapatkan perhatian. Bahkan justru pengangguran yang mendapatkan insentif program kartu pra-kerja. Saya merasa pemerintah tidak adil. Karena komunitas petani (dan juga komunitas nelayan), justru adalah merupakan kerak kemiskinan nasional. Bayangkan kalau saat ini mereka ngambek, lalu apa yang dapat kita makan? Lalu apakah dapat dibayangkan resikonya ?

Saya berharap pada saat negara sedang sulit, kita seharusnya bersedia “memberi” kepada bangsa dan negara. Seperti halnya 75 tahun lalu, sudah diteladani oleh leluhur kita, para pejuang kemerdekaan. Saat ini, kita semua seyogyanya bersedia hidup setara dan prihatin. Lalu saya bayangkan, muncul fenomena sosial yang mengharukan. Di mana orang-orang yang kaya bersedia “memberi” kepada komunitas bangsanya yang sedang menderita kelaparan. Karena kekayaannya itu pasti diraih dari haribaan bumi Ibu Pertiwi. Tetapi fenomena sosial yang kita harapkan itu, tidak terjadi secara menyeluruh dan besar-besaran. Sehingga negara kita bisa diringankan beban sosialnya. Dana negara yang masih tersedia, bisa difokuskan untuk menanggulangi pandemi.  

Kenapa fenomena sosial untuk “memberi” kepada negara tidak terjadi? Karena kita “kalah telak” melawan arus pola pikir globalisasi yang libralistik-kapitalistik. Keteladanan yang mengarah kepada implemantasi Sosialisme Pancasila (sesuai pikiran Prof. Mubyarto) tidak pernah terjadi. Kita terlalu sibuk dengan zone nyaman kapitalisme, yang sangat menggiurkan kalangan elit. Pengembangan nilai-nilai koperasi seperti tercermin dalam Pasal 33 UUD 1945 tidak kita laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Diakui oleh Mubyarto bahwa pengembangan Sosialisme Pancasila, yang berbasis koperasi, untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila, tidak bisa dilaksanakan dengan cepat. Perlu kekuatan moral (moral economic). Kalau seandainya, nilai-nilai pikiran Mubyarto  (dan juga pikiran Bung Hatta) dapat dilaksanakan dengan baik, maka dalam situasi negara seperti sekarang ini, keteladanan sosial pasti akan menggebu-gebu. Sehingga beban pemerintah akan berkurang. Rakyat pasti dispilin mengikuti aturan pemerintah.

Saat ini partisipasi masyarakat untuk membantu beban pemerintah masih memprihatinkan. Diharapkan memakai masker, banyak sekali terlihat manusia Indonesia tidak mau memakai masker. Beberapa pelayan toko yang diperingati, justru melawan, dan ngeyel. Sopir, dan pengendara motor juga banyak yang tidak mau memakai masker. Tidak ada hukuman. Malahan diberitahu baik-baik, mereka lagi-lagi ngeyel. Diberikan masker untuk digunakan, lalu hanya dipakai disepan petugas saja.

Diberi tahu untuk tidak kumpul-kumpul dalam keramaian, justru masih ada ibu-ibu yang berulang tahun di rumah makan/hotel. Diminta untuk menjaga jarak (1-2 meter) sebagai “obat” penting untuk mengendalikan korona, juga banyak yang acuh-tak acuh. Anak-anak melakukan balap liar. Orang yang merasa kaya, masih duduk-duduk di café.  Kalau begini tabiat manusia Indonesia, yang tidak mau taat aturan, lalu kapan korona bisa kita kendalikan? Dalam skala yang lebih luas, bahwa kalau manusianya tidak mau disiplin, jangan harap bangsa ini bisa segera maju. Sesuai pendapat Jendral TB Simatupang, apakah perlu diberlakukan wajib  militer untuk mendisplinkan penduduk Indonesia?

Kasihan sekali para petugas kesehatan yang mempertaruhkan jiwanya untuk membantu korban serangan korona. Korban terus bertambah, karena manusia Indonesia yang acuh tak acuh, dan tidak disiplin. Tentu saja kerja petugas kesehatan akan semakin berat. Kapasitas rumah sakit juga terbatas. Negara juga semakin berat. Karena terlalu lama menanggung beban penyakit korona. Dengan demikian tidak bisa segera membangkitkan ekonomi Indonesia. Saya usulkan agar setelah serangan korona, kita fokus membangun sektor pertanian. Sektor tersier, khususnya pariwisata, biarkan dulu sampai disini. Cukup sampai disini saja. Membangun sektor pertanian adalah pelaksanakan pembangunan untuk mencapai sila kelima dari Pancasila. Kesenjangan (pendapatan dan regional) akan berkurang dengan tajam.

wartawan
Wayan Windia
Category

KUA-PPAS RAPBD 2027 Bangli Resmi Disepakati, DPRD Harap Arah Anggaran Berpihak ke Rakyat

balitribune.co.id | Bangli – DPRD Kabupaten Bangli bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli resmi menyepakati Kebijakan Umum Anggaran (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Tahun Anggaran 2027. Kesepakatan ini dituangkan melalui penandatanganan Nota Kesepakatan dalam Rapat Paripurna DPRD Bangli, Selasa (11/8/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Gerebek Five Stars Bali, Polisi Tetapkan 5 Tersangka dan Buru 2 Bandar

balitribune.co.id I Denpasar - Setelah menjalani pemeriksaan secara intensif, penyidik Subdit IV Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri akhirnya menetapkan lima orang tersangka kasus tindak pidana narkotika hasil penggerebekan Tempat Hiburan Malam (THM) Five Stars di Jalan Mahendradata, Jumat (07/08/2026) dini hari lalu. Sementara dua orang masih buron alias masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

66 WNA Terindikasi Langgar Administrasi Keimigrasian, Patroli Dharma Dewata Perketat Pengawasan 

balitribune.co.id I Denpasar - Pengawasan terhadap warga negara asing (WNA) di Bali terus diperketat. Dalam sepekan terakhir, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Bali menjaring 66 WNA dari 27 negara yang terindikasi melakukan pelanggaran keimigrasian.

Baca Selengkapnya icon click

Sopir Truk Masih Parkir Liar di Depan Terminal Mengwi, Dishub Siapkan Tilang

balitribune.co.id I Mangupura - Larangan parkir di depan Terminal Tipe A Mengwi, Badung, masih saja dilanggar. Sejumlah sopir truk nekat memarkir kendaraan berukuran besar di Jalan Jaksa Agung R Soeprapto, meski kawasan tersebut sudah dipasangi spanduk larangan parkir dan berkali-kali ditertibkan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Buntut Penggeledahan oleh Kejari, Sekda Bakal Panggil Jajaran Diskes Tabanan

balitribune.co.id I Tabanan – Sekretaris Daerah (Sekda) Tabanan I Gede Susila berencana memanggil jajaran pimpinan Dinas Kesehatan (Diskes) terkait aksi penggeledahan yang dilakukan Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat.

Rencana ini untuk mendapatkan konfirmasi internal mengenai dugaan kasus korupsi anggaran bahan bakar minyak (BBM) dan makan minum (mamin) yang tengah disidik.

Baca Selengkapnya icon click

Kejari Tabanan Teliti Barang Bukti Usai Geledah Kantor Dinkes

balitribune.co.id I Tabanan – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan mulai meneliti seluruh barang bukti yang disita dari hasil penggeledahan di Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

Ini dilakukan sebagai langkah persiapan sebelum tim penyidik melanjutkan pemeriksaan saksi-saksi secara bergelombang terkait dugaan korupsi anggaran BBM dan makan minum tahun 2023-2025 di Dinkes Tabanan tersebut.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.