Dishub Usulkan Angkutan Perintis Jalur Bangli-Suter | Bali Tribune
Bali Tribune, Senin 22 Juli 2024
Diposting : 28 March 2023 12:37
SAM - Bali Tribune
Bali Tribune/ MANGKAL - Angkutan Perintis sedang mangkal di Terminal Loka Crana, Bangli.

Balitribune.co.id | Bangli - Sejauh ini jalur Bangli-Metro-Suter-Kintamani belum terlayani angkutan umum. Padahal jalur yang menghubungkan tiga kecamatan ini terdapat fasilitas umum seperti pasar dan sekolah serta kesehatan. Karena hal tersebut Dinas Perhubungan Bangli mengajukan permohonan ketersedian angkutan perintis ke Kementerian Perhubungan lewat Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) XII Bali-NTB.

Hal tersebut diungkapkan Kabid Angkutan Dinas Perhubungan Bangli, Sang Putu Surata, Senin (27/3/2023). Kata Sang Putu Surata sejatinya untuk ketersesdian angkutan perintis yang layani trayek Bangli- Metro-Suter-Kintamani sudah sempat diusulkan lewat program pengembangan kawasan  strategis nasional (KSPN)” Tahun 2021 sudah sempat kita usulkan lewat KSPN, namun karena tahun 2022 Provinsi Bali tidak lagi masuk sebagai daerah pengembangan KSPN  maka usulan tersebut mandeg,” ujar Kabid asal Desa Tamanbali, Bangli ini.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya tahun ini kembali mengajukan permohonan angkutan perintis lewat BPTD XII Bali-Nusra. Menurutnya trayek tersebut memilki prospek cerah untuk angkutan perintis pasalnya selain hubungkan tiga kecamatan, pada jalur tersebut terdapat fasilitas umum diantaranya  sekolah , fasilitas kesehatan dan pasar.”Kami sudah berjuang agar jalur tersebut bisa terakomodir angkutan perintis , mudah- mudahan pusat bisa mengamini,” harap Sang Putu Surata.

Sementara untuk trayek yang dilayani angkutan perintis saat ini ada 5 trayek yakni Bangli-Songan, Bangli-Catur, Bangli-Tejakula, Desa  Trunyan –Tenten dan Desa Trunyan-Desa Bayung Gede. Beber Sang Putu Surata, dari 5 tayek yang dilayani angkutan perintis untuk taryek Desa Trunyan – Bayung Gede jumlah penumpang paling banyak karena dimanfaatkan para pelajar.

”Jika dikalkulasikan secara keseluruhan, keterisian penumpang dengan jumlah tempat duduk yang tersedia ada diangka 22 persen, padahal konsep dari dibukanya angkutan perintis  yakni kedepanya pengelolaan transportasi bisa dikaver pemerintah daerah,” jelas Surata.