Dukung Earth Hour, Bandara Ngurah Rai Tukar Tas Plastik Penumpang | Bali Tribune
Bali Tribune, Sabtu 13 April 2024
Diposting : 26 March 2018 21:04
Ayu Eka Agustini - Bali Tribune
Earth Hour
PETISI - Penumpang asing saat tandatangan petisi dukung Earth Hour di Bandara Ngurah Rai

BALI TRIBUNE - Angkasa Pura I akan menjadikan Bandara I Gusti Ngurah Rai sebagai airport pertama di Indonesia dengan komitmen zero plastik. Bahkan para tenant yang berada di bandara setempat akan di data terkait penggunaan tas perbelanjaan ramah lingkungan bukan plastik

Vice President Airport Service (airport service grup head) Ramdan Pradarma mengatakan tenant yang sudah mulai melakukan itu akan diberikan reward sebagai tenant pro green. "Konsep kita adalah reward dan development. Jadi kalau mereka bagus kita akan berikan penghargaan. Kalau belum kita bina lagi sampai bagus," katanya saat Earth Hour Sabtu (24/3) di Bandara I Gusti Gusti Ngurah Rai, Badung.

Untuk mengubah kebiasaan tersebut, dari penggunaan plastik ke tas ramah lingkungan memang memerlukan biaya yang cukup mahal. Selama ini kata dia yang memberikan respon positif terkait hal itu kebanyakan berasal dari tenant asing. Namun tenant lokal memang masih menghitung biaya. Sebab ketika plastik diconvert menjadi biodegradable biayanya melonjak menjadi 2 kali lipat. "Angkasa Pura I tentu akan memberikan keistimewaan bagi pihak yang bersangkutan karena inisiasinya tersebut, baik berupa diskon maupun hal lainnya," katanya.

Apabila zero plastik ini mampu diterapkan, tentunya Ngurah Rai menjadi satu-satunya bandara yang sudah memiliki ISO 14000 yang ramah lingkungan. Mengawali misi tersebut bertepatan Earth Hour pihaknya melakukan rampok plastik di Bandara Ngurah Rai. Plastik yang berisi barang belanjaan wisatawan diganti dengan tas kain ramah lingkungan.

Melalui kegiatan tersebut, pihak bandara mengajak masyarakat untuk melakukan kegiatan penyelamatan lingkungan. Dari 300 kantong tas kain yang disediakan, telah ludes ditukar dengan tas plastik yang dibawa wisatawan.  "Sasaran kita adalah mereka mengerti kenapa plastik itu kita minta. Plastik itu kita kumpulkan dan akan kita serahkan untuk di daur ulang. Kita juga punya koneksi artis Bali yang mengconvert plastik ini menjadi sebuah karya seni. Kita akan support kesana juga plastik ini, sehingga bisa dipergunakan sebagai lukisan artistik," terang Ramdan.

Selain kegiatan rampok plastik, pihaknya juga mengumpulkan tandatangan wisatawan di terminal keberangkatan. Tandatangan tersebut akan dijadikan petisi dan monumen tahun 2018 sebagai dukungan terhadap kampanye Earth Hour.