Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Fenomena Pengembangan Industri Pengolahan di Bali

Bali Tribune / Wayan Windia - Guru Besar (E) pada Fak. Pertanian Univ. Udayana dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Made Sanggra, Sukawati.

balitribune.co.id | Beberapa hari yang lalu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, memberikan pernyataan yang tegas tentang perekonomian Bali. Bahwa Bali harus segera melakukan transformasi pembangunan ekonomi. Bali harus segera mengarah pada pembangunan industri pengolahan, yang berbasis hortikultura. “Jangan terus-terusan hanya tergantung dari pariwisata” katanya.

Apa yang dikemukakan Menko Airlangga, seharusnya sudah dilakukan di Bali 20 tahun yang lalu. Pada saat itu sudah ada kekhawatiran yang mendalam terhadap situasi perekonomian Bali yang sangat pincang, dibandingkan dengan 30 tahun sebelumnya. Sektor tersier (pariwisata) sudah terlalu dominan, dan sektor primer (pertanian) sudah sangat terpuruk.

Tetapi yang namanya manusia, selalu ingin enaknya saja. Gubernur berganti gubernur, bupati berganti bupati, tetapi tidak ada perubahan kebijakan pembangunan. Kita semuanya terlena dalam zone nyaman, yang menggiurkan, yang glamor, dan dengan gampang bisa memetik PAD. Lalu, terlena pada angka-angka pertumbuhan ekonomi. Sudah beberapa kali digoda oleh perang Perang Teluk, Perang Iran-Irak, resesi dunia, isu Flu Burung, Isu Kolera, penyakit gila anjing, dll, tetapi tetap saja kita tidak bergeming. Tampaknya, hanya Virus Korona yang mampu merubah otak dan kesadaran manusia.

Data yang pernah saya catat (dan mungkin berlaku hingga sekarang) bahwa sektor sekunder (industri pengolahan), sangat padat karya. Pertumbuhan yang hanya 2,5%, dapat menyerap peningkatan tenaga kerja sebesar 13%. Bandingkanlah dengan sektor tersier (pariwisata). Pada saat yang sama, sektor ini bertumbuh 37%, tetapi penyerapan tenaga kerjanya meningkat hanya 15%. Sementara itu, sektor primer (pertanian), yang pertumbuhannya turun 39%, tetapi tenaga kerja yang diserap hanya menurun 28%. Padahal, investasi yang berkembang lebih dari 95% adalah di sektor tersier.

Itu bermakna bahwa kalau ingin melakukan penyerapan tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan, maka pembangunan harus dilakukan di sektor pertanian dan pengolahan hasil-hasil pertanian. Tetapi sudah menjadi rahasia umum di dunia, bahwa tidak banyak pemimpin yang ingin berkecimpung dalam pembangunan sektor pertanian. Banyak alasannya, terutama karena alasan-alasan politis.    

Kita tidak anti pertumbuhan ekonomi. Tetapi sebaiknya pertumbuhan itu dilakukan via pemerataan. Yakni via pembangunan pertanian dan pengolahan hasil-hasilnya. Pertumbuhan ekonomi yang dilakukan, tidak harus melalui perusakan lingkungan, yang kini terjadi sebagai dampak pembangunan pariwisata. Pembangunan pariwisata yang tumbuh “liar”, untuk melayani pariwisata massal. Aduh, Bali sudah babak belur karenanya. Bagitu, merebak virus korona, maka mendadak sontak perekonimian Bali terkontraksi 1% dalam kwartal pertama, dan kemudian terkontraksi lebih dalam lagi yakni 10%, dalam kwartal kedua. Kaum ekonom mengatakan bahwa, kalau dua kwartal sudah terkontraksi, maka hal itu sudah berarti resesi. Inilah hasil dari kebijakan yang “mendewakan” sektor tersier, tanpa memperhatikan sektor primer dan sekunder.

Konsep pembangunan yang dirancang oleh KBS-Ace adalah untuk pembangunan manusia Bali, alam Bali, dan budaya Bali. Kalau konsep pembangunan ini “diperas” dan dilaksanakan, maka seharusnya akan lahirlah program pembangunan di sektor pertanian dan pengolahan (agribisnis). Tetapi kita memerlukan kesabaran, pendampingan yang telaten, dan dilakukan dalam skala subak dan subak- abian. Tidak perlu dilakukan besar-besaran ala kapitalis.  Sistem ekonomi desa dinas dan desa adat yang sudah siap kelembagaannya, dapat dimanfaatkan. Sang pemimpin harus siap tidak popuer (untuk sementara waktu), karena pembangunan di sektor pertanian, tidak seperti pembangunan di sektor infrastruktur.

Pada tahun 1950-an, tatkala Jepang memulai pembangunan (industrinya), mereka mulai dengan pembangunan industri pengolahan produk pertanian. Karena hasil produk pertaniannya terjamin (pasarnya, harganya, dan pembayarannya) maka petani pasti senang untuk bertani. Akhirnya, sektor pertanianpun bisa berkembang. L Malassis (orang Perancis yang bekerja di FAO) mengemukakan bahwa pembangunan industri di hilir (pengolahan), akan bisa merangsang pembangunan on farm (pertanian) sebesar 3 kali lipat, bila dibandingkan dengan pembangunan industri di hulu (yang menghasilkan input bagi pertanian).

Oleh karenanya, kaum petani sudah banyak yang mulai meminta bahwa, subsidi yang diberikan oleh pemerintah kepada sektor pertanian, sebaiknya diberikan dalam bentuk subsidi output. Bukan dalam bentuk subsidi input (bibit,  traktor tangan, pupuk, dll). Tetapi perubahan kebijakan ini, pasti mendapat tantangan, karena akan mengurangi proyek di kalangan birokrasi dan kalangan kapitalis. Jadi, petani harus siap terus menderita, selain sebagai bamper inflasi, tetapi juga sebagai bamper, agar birokrat dan kapitalis tidak kehilangan pekerjaannya. Akhirnya, marilah kita tunggu saja (juga dengan sabar) pelaksanaan dari kebijakan Menko Airlangga Hartarto itu.

   

wartawan
Wayan Windia
Category

DPRD Bangli Terima RAPBD 2027 Senilai Rp1,32 Triliun, Fraksi-Fraksi Tekankan Keadilan dan Efektivitas Anggaran

balitribune.co.id | Bangli - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bangli menggelar Rapat Paripurna dengan agenda penyampaian Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bangli Tahun Anggaran 2027 di Gedung DPRD Bangli, Jumat (25/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Punya Hipertensi, Masih Boleh Minum Kopi?

balitribune.co.id | Secangkir kopi sering menjadi tersangka ketika tekanan darah meningkat. Kabar baiknya, penderita hipertensi tidak selalu harus berpisah dengan kopi. Pedoman European Society of Cardiology tahun 2024 menyebut konsumsi kopi tidak berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi pada populasi umum; konsumsi moderat bahkan dalam penelitian observasional dikaitkan dengan risiko hipertensi yang lebih rendah.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Grab Dorong Inklusivitas Lewat Edukasi Bahasa Isyarat dan Rompi Khusus Mitra Tuli

balitribune.co.id | Denpasar - Memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional, Grab Indonesia kembali menghadirkan semangat “Teman Setara: Satu Ekosistem, Semua Bisa Tumbuh” melalui rangkaian kegiatan bersama Mitra Pengemudi, Mitra GrabMerchant, pengguna, dan karyawan internal.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ramadhipa Siap Melesat, Jaga Asa Papan Atas Moto3 Junior Aragon

balitribune.co.id | Jakarta – Pebalap muda binaan PT Astra Honda Motor (AHM), M. Kiandra Ramadhipa, siap menghadapi putaran keenam FIM Moto3 Junior World Championship 2026 di MotorLand Aragón, Spanyol, 25–27 September 2026. Berada di posisi kelima klasemen sementara dengan 80 poin, Ramadhipa bertekad memanfaatkan dua balapan di Aragón untuk terus bersaing di papan atas.

Baca Selengkapnya icon click

Sensatia Gandeng Seven Clean Seas Bersihkan 173 Kg Sampah di Pantai Padang Galak

balitribune.co.id | Denpasar - Sensatia berkolaborasi dengan Seven Clean Seas menyelenggarakan aksi bersih pantai di Pantai Padang Galak, Bali, pada Sabtu (19/9/2026). Kegiatan ini melibatkan 75 peserta yang terdiri dari masyarakat setempat dan karyawan Sensatia, yang bersama-sama mengumpulkan sekitar 173 kg sampah dari kawasan pesisir tersebut. Sampah yang terkumpul terdiri dari 41 kg sampah organik, 35 kg sampah plastik, dan 97 kg sampah residu.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.