Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Kedatangan Turis Golf ke Bali Belum Maksimal

Aktivitas wisata golf

BALI TRIBUNE - Pelaku industri golf di Bali berharap pemerintah lebih mempromosikan fasilitas wisata olahraga ini hingga ke pasar mancanegara. Pasalnya, pulau ini memiliki infrastruktur memadai untuk mengambil pasar golf. Turis golf tersebut saat berkunjung ke suatu destinasi dengan pengeluaran melebihi wisatawan leisure. General Manager New Kuta Golf & Ocean View, Bagus Waluyo Kurniadji mengatakan saat ini perkembangan pasar golf dan turis golf  di Bali ini masih sangat jauh dibandingkan dengan destinasi lainnya seperti Thailand. Disebutkannya, dalam setahun diperkirakan hanya 90 ribu hingga 100 ribu wisatawan atau para golfer yang datang ke Pulau Dewata untuk melakukan aktivitas golf. Dia berharap Bali ini akan mampu mendatangkan 300 ribu wisatawan golf per tahun. "Nah Thailand itu setahun sejuta golf only, sehingga potensi yang dimiliki untuk perkembangan golf masih sangat besar sekali. Karena secara kualitas lapangan service produk kita tidak kalah dengan Thailand," katanya saat ditemui beberapa waktu lalu di Badung. Pihaknya pun mengakui letak Bali dari kantong-kantong pariwisata di luar negeri tergolong jauh. Sehingga para golfer banyak yang memilih ke Thailand karena letaknya lebih dekat. "Nah ini menjadi konsen kami untuk mendorong tingkat kunjungan turis golf ke Bali. Ini menjadi PR kita bersama. Bahwa kami dari pelaku industri golf sudah menyediakan lapangannya, dengan segala macam produk di dalamnya, dengan service tertata, dengan SDM yang sudah well trained/terlatih," beber Bagus. Untuk itu, kata dia, baik pemerintah,  badan promosi pariwisata, pihak maskapai dan hotel mesti duduk bersama membahas permasalahan tersebut supaya industri golf di Pulau Dewata bisa tumbuh. "Karena dengan pemain golf bisa datang ke Bali maka sangat bagus. Perbandingan spending turis non golf itu per 1 hari sekitar 200-300 Dolar AS ke Bali. Kalau golf bisa 5 kali lipatnya. Belum kebutuhan lain di hotel, transportasi dan sebagainya," paparnya. Menurut Bagus, turis non golf biasanya datang ke Bali untuk melihat budaya, dan jalan-jalan sesuai kelasnya. Namun untuk pasar golf, pengeluarannya cukup tinggi apabila dibandingkan dengan wisatawan pada umumnya. "Bayangkan jika 270 ribu-300 ribu saja dalam setahun lapangan golf dan hotel bakal ramai. Nah ini menjadi PR kita bersama. Promosi ini mesti ada gandengan tangan dengan stakeholder, tidak bisa hanya industri saja yang bergerak. Seperti kami saja. Kalau kami pasti promosi entah itu melalui media, atau entah media online entah majalah, entah ke luar negeri pameran. Tapi kalau cuma kami melakukan sendiri apa iya turis akan datang," jelasnya. Bagus menyebutkan rata-rata lama tinggal wisatawan golf dari domestik ini sedikitnya 3 malam namun yang dari mancanegara mencapai 5-7 malam per sekali datang ke Bali. "Bahkan kalau untuk golfer rata-rata selama mereka tinggal, mereka akan main golf. Jadi kalau mereka ambil paket seminggu minimal 5 kali mereka main. Bisa dibayangin rata-rata spending golf saja Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta. Nah kalau 5 kali sudah Rp 10 juta. Sekarang pertanyaannya, turis non golfer bisa spending sekian banyak gak? Setidaknya mereka spending di bawah itu," terangnya. Selama ini dia menambahkan, wisatawan golf yang paling banyak ke Bali yakni berasal dari Australia disusul Korea dan Jepang serta Hong Kong Taiwan, Tiongkok. Sedangkan pasar yang hilang saat ini adalah dari Eropa dan Amerika. Hal itu dikarenakan negara tersebut mengalami krisis sehingga mengurangi daya beli warganya dan  tidak sanggup membiayai liburannya. Disamping itu dikatakan Bagus ada yang pindah ke destinasi terdekat seperti Thailand karena lebih murah. "Akhirnya kami nutup dari turis lokal dari Surabaya, Kalimantan. Itu upaya kami memaksimalkan pasar lokal. Ya walaupun spending money-nya tidak sebesar turis asing karena domestik kan harganya murah. Setidaknya mengisi kekosongan," imbuhnya. 

wartawan
Ayu Eka Agustini

Dibandingkan 2024, Inflasi Badung Melandai di Tahun 2025, Dampak Positif Bantuan Sosial Hari Raya Keagamaan

balitribune.co.id | Mangupura - Program Bantuan Sosial menjelang Hari Raya Keagamaan berupa uang sebesar Rp. 2 juta per KK, berhasil menekan angka inflasi daerah Kabupaten Badung. Hal tersebut tertuang dalam laporan Inflasi Tahunan Wilayah Cakupan IHK se-Bali tahun 2024 dan tahun 2025.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Dukung Ketahanan Pangan, Manajemen DTW Jatiluwih Salurkan 22,8 Ton Pupuk ke 7 Tempek Subak

balitribune.co.id | Tabanan - Memasuki musim tanam pertama di bulan Januari 2026,  mulai dari Tanggal 30 Desember  2025 - 6 Januari 2026 Manajemen Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian pertanian berkelanjutan.

Baca Selengkapnya icon click

Inflasi Bali 2025 Tetap Terjaga

balitribune.co.id | Denpasar - Inflasi Provinsi Bali sepanjang 2025 berhasil dijaga dalam rentang sasaran nasional. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali pada 5 Januari 2026, inflasi gabungan kabupaten/kota di Bali pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,70 persen secara bulanan (month to month/mtm), meningkat dibandingkan November 2025 yang sebesar 0,40 persen (mtm).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

OJK Perkuat Stabilitas dan Daya Tahan Sektor Jasa Keuangan Hadapi Tantangan Global 2026

balitribune.co.id | Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan melemahnya kinerja ekonomi Tiongkok. Penilaian tersebut mengemuka dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada 24 Desember 2025.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.