Diposting : 7 April 2020 19:03
A.A. Samudra Dinata - Bali Tribune
Bali Tribune / Petugas kepolisian saat melakukan pemantauan di Desa Adat Batih, Desa Siakin, Kecamatan Kintamani, Bangli, Selasa (7/4).

balitribune.co.id | Bangli Pihak kepolisian  Resort Bangli  memantau serangkian  pelaksanaan pujawali di Pura Puseh, Desa Adat Batih, Desa Siakin, Kecamatan Kintamani, Bangli Selasa (7/4). Pemantauan dilakukan setelah beredar  informasi  jika pelaksanaan pujawali akan melibatkan banyak orang sehingga bertentangan dengan intruksi pemerintah dalam hal upaya  pencegahan penyebaran Virus Corona.

Mendapat informasi pihak kepolisian langsung  turun  dan setelah dilakukan  kordinasi   akhirnya pelaksanaan upacara tersebut krama yang terlibat dalam jumlah terbatas.

Kapolres Bangli, AKBP Gusti Agung Dhana Aryawan saat dikonfirmasi terkait diterjunkanya personel kepolisian di desa adat Batih, mengatakan awalnya diinformasikan  jika Selasa sore akan dilaksanakan Piodalan di Pura Puseh Batih serta diikuti prosesi Nawur Pusaka Penolak Bala. Diperkirakan upacara tersebut melibatkan ratusan krama.

Menyikapi  hal tersebut,  Kapolsek Kintamani serta beberapa petugas dari  Polres Bangli turun ke Desa Adat Batih. “Pagi ini (Selasa) saya perintahkan Kapolsek, Kasat Intel, Kasat Reskrim untuk menyampaikan intruksi pemerintah terkait upaya pencegahan Covid-19 kepada krama desa adat Batih,” jelas  mantan Kapolres Mapi ,Papua ini.

Sebut  Kapolres  setelah dilakukan koordinasi, pihak desa adat sanggup untuk mematuhi intruksi pemerintah dengan  mengatur jumlah krama yang terlibat dalam upacara tersebut. Meski demikian petugas kepolisian tetap melakukan pemantauan hingga proses upacara terlaksana. “Polres Bangli tetap berkomitmen untuk tegas dalam menjalankan intruksi dan imbauan pemerintah demi keselamatan bersama,” sebutnya

Dikonfirmasi terpisah, Bendesat Adat Batih, Yade Wirya mengatakan dalam pelaksanaan pujawali di Pura Puseh tetap menganut destra. Yang mana tetabuhan (gong), ilen-ilen (tari-tarian) tetap berjalan seperti biasa. Akan tetapi jumlah seka gong terbatas begitu pula dengan penarinya. Selain itu untuk krama yang sembahyang juga dibatasi. Persembahyang dilakukan secara bergilir.

Bendesa Adat Batih Yande Wirya beberapa tari seperti tari Wirayuda, Rejang Renteng, Rejang Sari tidak dilaksanakan. Sementara untuk tari Baris tetap dilaksanakan dengan jumlah penari terbatas  yakni sebanyak 4 orang dari 32 penari yang ada. Begitupula untuk Deha Truna hanya dilaksanakan  4 penari dari 32 jumlah penari yang ada.” Untuk seke gong yang terlibat hanya tujuh orang,”sebutnya.

Sementara untuk  pelaksanaan pujawali hanya berlangsung dari pukul 15.00 Wita hingga pukul 24.00 Wita.. Sedangkan krama yang hendak sembahyang dilakukan secara bergantian sebanyak 15 orang.

Sementara itu, untuk persiapan pujawali dilakukan hampir sepekan, dikarena jumlah krama yang terlibat terbatas maka proses persiapan dilakukan lebih awal. “Persiapan sudah dari seminggu lalu, dan yang terlibat adalah pamucuk adat,”ujarnya.

Disinggung beredar kabar  bahwa krama ngotot agar pelaksanaan upacara tetap dilaksanakan seperti biasanya dengan melibatkan banyak orang, Jro bendesa Yade Wirya menampik hal tersebut. Krama Desa Adat Batih adalah taat pada aturan yang dikeluarkan pemerintah. Kemudian sampai turunnya pihak kepolisian, pihaknya menyebutkan hal ini terjadi karena adanya miss komunikasi. “Ini karena mis komunikasi saja. Kami selaku masyarakat tentu akan mengikuti imbauan pemerintah. Memang upacara kami laksanakan seperti biasa akan tetapi jumlah krama yang terlibat dibatasi ,” sebutnya.

Jro Bendesa Yade Wirya bahkan sampai menjaminkan diri bila dalam proses upacara melibatkan ratusan orang, pihaknya siap diproses.“Saya sebagai jaminan, jika krama yang terlibat dalam jumlah besar, saya siap diprioses sesuai aturan hukum yang berlaku,” tegas Jro Bendesa Yande Wirya.