balitribune.co.id | Mangupura - Teka-teki mengenai siapa yang terbaik dalam ajang Badung Çaka Fest 2026 akhirnya terjawab. Melalui pengumuman virtual pada Rabu (11/3), panitia resmi merilis enam karya ogoh-ogoh terbaik tingkat kabupaten. Hasilnya, ogoh-ogoh bertajuk "Maguru Satua" garapan ST Tunas Remaja, Banjar Umahanyar, Desa Adat Penarungan, Mengwi, sukses menahbiskan diri sebagai Juara I.
Karya tersebut meraih skor tertinggi, yakni 914,00. Tim juri menilai "Maguru Satua" tidak hanya unggul secara visual, namun juga memiliki kekuatan konsep serta penyajian fragmentari yang paling matang di antara 21 peserta lainnya.
Ketua Panitia Badung Çaka Fest 2026, Ida Bagus Munika, menegaskan bahwa hasil yang diumumkan adalah murni wewenang dewan juri yang terdiri dari tujuh pakar lintas bidang. "Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Panitia hanya menyampaikan hasil evaluasi profesional terhadap penampilan peserta selama tiga hari (6–8 Maret) lalu," tegasnya.
Persaingan di papan atas terbilang sengit. Posisi Juara II diraih oleh ogoh-ogoh "Manutur" milik ST Bhuana Kusuma, Banjar Peken, Desa Adat Bualu, Kuta Selatan, dengan skor 895,00. Menyusul di posisi Juara III adalah "Kala Bendu" karya ST Bhakti Dharma, Banjar Kangin, Desa Adat Pecatu, Kuta Selatan, dengan nilai 855,00.
Selanjutnya, Juara IV hingga VI secara berurutan ditempati oleh ST Putra Laksana (Darmasaba), ST Putra Dharma Jati (Kerobokan Kelod), dan ST Bhakti Yowana (Abiansemal Dauh Yeh Cani).
Salah satu dewan juri, I Gede Oka Surya Negara SST, M.Sn., menjelaskan bahwa standar penilaian tahun ini semakin kompleks. Kemenangan tidak lagi ditentukan semata oleh ukuran atau bentuk fisik ogoh-ogoh, melainkan integrasi antara visual, narasi, dan koreografi dalam pertunjukan fragmentari.
"Fragmentari adalah ruang pengujian kualitas artistik secara menyeluruh. Ada tiga indikator utama: koreografi, keserasian (unity) tema, serta inovasi dalam mengeksplorasi tradisi," jelas Oka Surya Negara didampingi juri lainnya, I Gusti Putu Arya, S.Sn.
Menurut tim juri, Badung Çaka Fest 2026 menandai pergeseran arah seni ogoh-ogoh di Bali. Kini, lomba tersebut telah bertransformasi dari sekadar parade visual menjelang Nyepi menjadi pertunjukan konseptual yang progresif.
"Banyak peserta mulai berani melakukan eksplorasi gerak dan properti panggung. Ini adalah arena pembuktian arah baru seni ogoh-ogoh Bali," pungkasnya.