Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Kulkul Dewa Made Ubud Merambah Malaysia dan Jepang

Bali Tribune/KULKUL - Dewa Putu Oka (58) disela proses pembuatan kulkul, di Desa Singapadu, Gianyar.

balitribune.co.id | Gianyar - Kulkul merupakan sebutan alat komunikasi tradisional masyarakat Bali sejenis kentongan berukuran besar. Karena dipandang begitu penting, beberapa orang melirik kulkul sebagai peluang usaha. 
 
Di Kabupaten Gianyar, usaha kerajinan kulkul salah satunya dilakoni (Alm) Dewa Made Ubud, yang hasil karyanya merambah Malaysia hingga Jepang. 
 
Berawal dari tekad dan kerja kerasa, (Alm) Dewa Made Ubud sukses sebagai perajin kulkul. Usaha yang ia kelola selama kurang lebih 50 tahun mampu menghidupi sekian banyak anggota keluarganya.
 
Setelah berpulang pada 2012 silam, kini usaha kerajinan kulkul Dewa Made Ubud dikelola oleh Dewa Putu Oka (58) sebagai generasi kedua. Anak ketiga dari enam bersaudara ini mewarisi bakat alami ayahnya. Ia mengaku bakat itu didapat dari kebiasaan membantu ayahnya di sela-sela rutinitas. 
 
"Sudah sewajarnya sebuah usaha ada generasi penerus, sebagai anak yang dipercaya, saya bertanggung jawab atas apa yang dikehendaki almarhum ayah," katanya. 
 
Dewa bercerita jika ayahnya dulu sempat merasa ragu memilih usaha kulkul. Tapi Dewa yang waktu itu masih muda berusaha meyakinkan ayahnya. Dari situ kemudian ayahnya meminta petunjuk kepada Ida Pedanda di Beng, Gianyar. Dari petunjuk itulah ayahnya bertekad bulat untuk memulai usaha kulkul.
 
Mengeluti usaha yang tergolong langka, diakui Dewa pada masa awal merintis hanya terdapat 2 perajin kulkul se-Kabupaten Gianyar. Selain ayahnya, ada usaha perajin kulkul di Batubulan, Gianyar. 
 
Masa awal merintis, diceritakan Dewa sebagai masa sulit, terkendala dana tidak membuat ayahnya kehilangan akal. Pohon nangka yang letaknya tak jauh dari rumah dijadikan bahan pembuatan kulkul. Dari proses itu ia mendapat keuntungan dan perlahan mengembangkan usahanya.
 
Setelah mulai mendapat keuntungan, maka didatangkan sejumlah kayu dengan kualitas yang lebih baik. Diantaranya jenis kayu ketewel dan intaran dari daerah Karangasem. Sampai sekarang Dewa masih mendapat pemasok kayu dari Karangasem, tepatnya di Desa Tembok.
 
Dari berbagai jenis kayu yang pernah digunakan yaitu kayu nangka, ketewel, dan intaran, kayu terbaik menurut Dewa adalah kayu jenis intaran. Dibandingkan kayu jenis lainnya, intaran terbukti tahan terhadap serangan rayap, karena rasa dari kayu intaran yang pahit. Namun, kayu intaran yang semakin banyak dieksploitasi berdampak pada ketersediaan yang terus berkurang.
 
Kondisi itu pun dirasakan Dewa sebagai perajin kulkul. Pasokan kayu yang ia dapat secra perlahan menurun dari tahun ke tahun, disebabkan semakin banyak masyarakat yang berminat untuk dijadikan bahan bangunan.
 
Ditambahkan Dewa, bahwa sebisa mungkin tidak membeli kulkul berbahan kayu camplung. Beberapa kali ia mendapat pesanan untuk mengganti kulkul berbahan camplung ke kulkul dengan bahan lain. Alasannya cukup menarik, karena selama menggunakan kulkul berbahan camplung banyak perselisihan terjadi di masyarakat. Seperti kebanyakan mitos, Dewa pun tidak mengetahui penjelasannya.
 
Membuat sebuah kulkul menurut Dewa tidak sembarangan. Sebelum mulai mengerjakan kulkul setiap harinya Dewa menghaturkan canang, dan tirta (air suci) memohon agar segala pekerjaannya dilancarkan. Begitu juga setelah kulkul selesai, saat akan dijemput oleh pemesan, orang yang memesan wajib mencari hari baik dan membawa pejati.  
 
Dibantu satu orang pekerja, sebuah kulkul dengan ukuran dua meter bisa Dewa kerjakan dalam waktu seminggu.
 
Sebelum menggarap kulkul biasanya Dewa menyesuaikan fungsi dan ukuran. Jika fungsinya sebagai kulkul Sekaa Teruna ukurannya 1 - 1,2 meter, sedangkan kulkul banjar 1,5 meter, kulkul desa 1,8 meter, dan umumnya Pura Panti 1 meter.
 
Harga kulkul yang dijual pun beragam mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp7 juta. Harga tersebut disesuaikan dengan bahan, ukuran dan permintaan tambahan dari pelanggan.
 
Diakuinya hampir setiap daerah di Bali sudah menggunakan hasil karyanya. Untuk luar Bali pesanan biasanya datang dari Sulawesi, Kalimantan, Lombok dan Kupang, bahkan diekspor sampai ke Malaysia dan Jepang. 
 
"Cuma untuk ukuran yang ke Malaysia dan Jepang tidak terlalu besar karena terkendala biaya ekspedisi," ucap Dewa menjelaskan.
 
Pasang surut sebuah usaha sudah biasa bagi Dewa. Namun 2 tahun setelah pandemi melanda, menurutnya menjadi pengalaman paling menguji. Di saat pandemi semua sektor dihentikan sementara, otomatis ekonomi tidak berputar, berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. 
 
Dewa menambahkan jika pemesanan kulkul saat ini cenderung sepi. Namun ia masih bertahan dan yakin jika suatu saat ekonomi membaik dan usahanya perlahan didatangi pembeli. 
wartawan
M3
Category

Operasi Pasien Tertunda Gara-gara Miskomunikasi, Komisi IV Soroti Layanan RSD Mangusada

balitribune.co.id I Mangupura  - Keluhan terkait pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Daerah (RSD) Mangusada menjadi sorotan Komisi IV DPRD Badung. Salah satu persoalan yang dibahas yakni pasien yang harus menunda operasi akibat miskomunikasi internal terkait penerapan program Mantap Nak Badung.

Baca Selengkapnya icon click

Mediasi Perselisihan Ketenagakerjaan The Westin Berujung Deadlock, DPRD Badung Arahkan ke PHI

balitribune.co.id I Mangupura - Perselisihan hubungan industrial antara pekerja dan manajemen Hotel The Westin Resort Nusa Dua belum menemukan titik temu. Upaya mediasi yang difasilitasi Komisi IV DPRD Badung dalam rapat kerja, Rabu (26/8/2026), berakhir deadlock.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Iklan icon ads

“Challenge” Berhadiah Berujung Penipuan, Polisi Buleleng Tangkap Pelaku dan Ungkap Enam Korban

balitribune.co.id I Singaraja - Satreskrim Polres Buleleng mengungkap kasus penipuan dengan modus challenge berhadiah Rp200 ribu. Seorang pria berinisial PS (25) ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga membawa kabur telepon genggam milik enam korban dengan total kerugian sekitar Rp15 juta.

Baca Selengkapnya icon click

Ketua DPRD Buleleng Minta Target PAD 2027 Ditetapkan Realistis

balitribune.co.id I Singaraja - Penetapan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Buleleng dalam Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2027 menjadi perhatian DPRD Buleleng. Dewan meminta target pendapatan disusun secara realistis dengan tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi dan kemampuan daerah.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.