Monkey Forest Percontohan Objek Wisata New Normal | Bali Tribune
Bali Tribune, Minggu 09 Agustus 2020
Diposting : 16 June 2020 00:00
Nyoman Astana - Bali Tribune
Bali Tribune/ NEW NORMAL - Objek Wisata Monkey Forest Ubud, disiapkan Jadi salah satu percontohan penerapan Protokol kesehatan di New Normal Pariwisata.
Balitribune.co.id | Gianyar - Menyongsong  New Normal Pariwisata, objek wisata yang ada di Kabupatem Gianyar akan dibuka pelan-pelan. Dari sejumlah objek wisata yang ada di Gianyar,  Tirta Empul dan Monkey Forest akan dijadikan pilot projek atau percontohan.  Lanjut itu secara perlahan akan diikuti pembukaan ojek wisata lainnya. 
 
Hal itu terungkap dalam  rapat Komisi II DPRD Kabupaten Gianyar bersama praktisi  pariwisata, Senin (15/6/2020). Pada kesempatan itu, dinas pariwisata segera mempersiapkan objek wisata mana yang akan bisa dibuka. Khususnya mengenai  kesiapan objek untuk melaksanakan atau menerapkan  protokol kesehatan.  Mengenai pilihan  2 objek dibuka, seperti Monkey Forest dan Tirta Empul, lantaran di objek tersebut daya tarik sangat tinggi. Dan income pemasukan besar, sehingga untuk mempersiapkan protokol kesehatan cukup memungkinkan. 
 
“Potensi kesiapan menjalankan protokol kesehatan ini ada di dua objek ini untuk sementara,” ujar   Ketut Sudarsana, Wakil Komisi II DPRD Gianyar.
 
Sehingga dua objek tersebut perlu dijadikan pilot projek. Sehingga bisa dijadikan contoh oleh objek wisata lainnya. 
 
"Wisatawan pelan-pelan akan masuk ke Bali.  Dengan kesiapan yang matang sesuai protokol, sebelum dibuka pemerintah pusat pun akan menanyakan kesiapan kita menghadapi new normal. Jika sudah siap pasti akan didukung," ujar Sudarsana. 
 
Sementara, Ir Made Budiasa, politisi asal Ubud menambahkan agar pasar oleh-oleh, pasar seni, juga harus dibuka. Lantaran pasar tersebut banyak hasil perajin yang bisa ditampung. 
 
"Kita hidupkan sehingga art shop kecil-kecil akan mengikuti. Dengan protokol kesehatan yang dibantu oleb Pemkab," jelasnya. 
 
Ketut Karda, politisi Demokrat, mendukung dibukanya objek wisata dengan pelan-pelan, tapi dalam pemilihan objek perlu diketahui market yang disasar. Karda melihat di berbagai pemberitaan luar negeri, negara lain ragu terhadap penanganan Covid-19. Padahal sejumlah hotel telah menurunkan harga hingga 50% hingga satu tahun dan satu pun tidak ada yang laku. 
 
"Inilah kita harus lihat dalam persiapan diri untuk menyambut wisatawan agar mereka tidak ragu," jelas Karda. 
 
Dalam kesempatan tersebut, Dewan pun sepakat dalam membuka objek wisata jangan melihat PAD dahulu, yang penting ada pilot projek untuk dibuka. 
 
Kepala Dinas Pariwisata Gianyar Anak Agung  Parwata, melaporkan telah disiapkan panduan untuk managemen, petugas dan wisatawan yang berkecimpung di dalam dunia pariwisata. Namun hal tersebut belum final. "Apakah nanti setiap masuk wisatawan perlu  test PCR, namun hal tersebut belum final," jelasnya. 
 
Selain itu, Dispar juga telah bekerja sama dengan Litbang, telah membuat video terkait apa yang dilakulan di hotel, restourant dan juga di objek oleh wisatawan. "Untuk kesiapan, bila mengikuti protokol kesehatan memerlukan sarana prasarana, hal itu masih menunggu persetujuan Sekda," jelasnya.
 
Ia juga menyampaikan, pihak swasta yang mengelola objek wisata juga ingin segara membuka. Karena 4 bulan ini, oprasionalnya sangat tinggi, seperti Bali Safari, Bali Zoo, yang memerlukan makan untuk  binatang di dalamnya. "Itu yang kami tangkap dari stakeholder yang di lapangan," ungkapnya.